Bajingan gila

Bajingan gila
Kau serigala?, aku pawangnya


__ADS_3

“Kenapa kau tidak bisa ditelpon, hanya sms saja?”, Rosi meng SMSku. Aku tak bisa bergerak bebas di sini, Dafid selalu menemaniku, sudah 3 hari dia menemaniku dan tidak masuk ke kantornya. Aku tahu dia menemaniku karena tidak ingin terlihat buruk di mata Rani, tapi ini membuatku tidak bisa menelepon Rosi dengan bebas.


“Maaf, aku dalam kondisi tidak bisa berbicara”, aku menjawab.


“Kau berselingkuh?”.


“Kau gila! Aku tidak mungkin selingkuh, hanya kamu yang ku cintai”.


“jika begitu, biarkan aku mendengar apa yang kau lakukan!”.


“maksudmu ?”.


Aku panic, Rosi terus menelpon Hpku yang ku buat mode diam. Seluruh darahku seakan tak bergerak membuatku berkeringat dingin, dafid masih sedang sibuk mengerjakan tugas kantor di sofa dalam kamar kami.


“Dafid, bukannya kau harus kerja?”, dia tidak menjawab. Dia terlalu focus dengan pekerjaannya.


“Jika kau terus menjagaku, aku bisa salah paham!”, aku mencoba memanasinya, tapi dia diam.


“Aku tahu, jika aku terlalu cantik. Tapi aku sangat pemilih pada laki-laki”, dia tetap diam pura-pura tidak mendengarku. “Apa kau menyukaiku?”, aku mulai panic, tanpa sadar aku berteriak marah padanya, dia hanya melihatku dan tersenyum licik.


Lagi-lagi dia mengejekku, “baiklah, jika kau tetap begini, aku akan jatuh cinta padamu”, apa yang ku bicarakan?..... uhhhhh, tapi dia bereaksi dengan kata-kata itu. Dia mulai berhenti mengetik di Laptopnya. “jika aku mencintaimu, aku pastikan akan menempel padamu seperti lem”, aku menakutinya. Dia hanya memandangku dengan tatapan iba, “Apa?”, aku membusungkan dadaku.


“Kau gila karena sakit?”, dia mulai berbicara.


Aku mulai bingung untuk menjawab pertanyaan Dafid, “bisakah aku keluar kamar, menurutku aku sudah sembuh”. Aku bicara pelan.


“aku tidak menghalangimu keluar”, dia tersenyum mengejek.


Dia benar, kenapa aku hanya diam dirawat dia, ahhhh pertanyaan mulai menumpuk di benakku. Aku langsung bangun dan segera keluar menjahui bajingan itu. Aku terus berjalan menuju kebunku dengan HP di tanganku.


“Halo…”, aku akhirnya bisa mengangkat Telponnya.


“Kenapa lama?”.


“Aku harus meminta izin keluar ruangan”, aku berbohong lagi.


“kau mulai mencurigakan”.


“sudah ku bilang, yang harus kau percayai adalah aku mencintaimu dan itu tidak akan berubah, kecuali kau berubah”.


Dia berdehem, “aku hanya takut kehilanganmu”.

__ADS_1


“bisakah kau memberi waktu sedikit lagi, aku harus menyelesaikan masalah ini dengan baik”.


“I LOVE YOU”.


Aku tersenyum bahagia, dia jarang mengatakan itu padaku tapi aku tahu bahwa dia benar-benar mencintaiku. “LOVE YOO TOO”. Aku menutup pembicaraan kami.


“Aduh..”, aku begitu terkejut, Rani berdiri di belakangku. Aku mulai panic dan takut dia mendengar percakapanku.


“Apa yang kau lakukan?”, Rani bertanya padaku.


“Aku hanya melihat bunga-bunga yang indah ini”, aku menjawab dengan tergagap.


“dimana bunga kesukaan Mama”, dia bertanya.


‘Itu”, aku ngasal menunjuk bunga melatih yang ku tanam di bawah pohon rambutan.


“Ohhh”, dia terdiam, “kau dipanggil ke dalam”.


Aku hanya diam, mungkinkah dia tidak mendengar?, “ bagaimana keadaanmu, aku belum mengucapkan terimah kasih padamu”, aku mendekatinya.


“sudah lupakan, kau pasti bahagia karena Dafid merawatmu 3 hari ini”, mimic wajahnya jadi dingin.


“mmmmm, aku harus pergi, kau bilang aku dipanggil”, aku kabur.


“Mama memanggilku?”, aku mendekati Mama.


“Tidak”.


Aku bingung, “Tapi Rani tadi bilang”.


“Ayo memasak bersama”, Rani memotong pembicaraanku.


“EHHHH”, aku mulai kebingungan dengan sikap Rani. Rani menggandeng tanganku menuju dapur, dia mencoba mencari resep yang akan dia buat dan aku hanya melihatnya yang mulai sibuk memotong dan menumis.


“Put, tolong ambilkan garam”, dia menunjukkan letak garam di laci bawah.


“tapi garam biasanya ada di dekat kompor’.


“aku menaruhnya di sana”.


Aku hanya mengikuti perintahnya, entah apa yang terjadi, disana ada tikus yang terperangkap di laci hingga saat ku buka laci, tikus itu brhamburan keluar membuatku takut hingga terjatuh menyenggol Rani yang sedang menumis. Minyaknya kemana-mana hingga menggores tanganku, panas. Aku menjerit dan Rani terjatuh dan pingsan. Semua orang mendekati kami dan mulai panic melihat kondisi Rani.

__ADS_1


“Rani kamu kenapa”, Dafid ingin membopong Rani tapi Papa menyenggolnya dan menggendong Rani.


“Kau urus istrimu”, Papa menyuruh Dafid untuk melihat lukaku. Aku hanya diam ketakutan melihat matanya yang memerah karena marah.


“sudah ku bilang, jangan mendekati Rani”, dia begitu marah dan menarik tanganku dengan kasar lalu mengambikan salep untuk luka bakarku. “apa kau tidak bisa tidak membuat masalah?”, dia membentakku.


“aku tidak mendekatinya, dia yang meminta bantuanku untuk memasak”, aku menangis pelan.


“kenapa menangis?”.


“kau marah padaku tanpa tahu masalahnya”, aku berdiri dan menjahui Dafid.


Dafid mengikutiku yang sedang menuju kamar Rani, “mau kemana kau?”,


“Kenapa?, apa kau takut aku akan mencelakakan Rani?”.


Dafid hanya diam, kami berjalan pelan menuju kamar Rani yang sedang dikerumuni keluarga Dafid.


“Kenapa kau sampai pingsan”, Suara mama terdengar. Aku tidak bisa masuk kedalam kamar, hanya bisa berdiri di pintu luar.


“maaf mama, aku hanya menegur Putri yang merusak tanaman melatih mama”, aku terkejut dengan kata-kata Rani, “dia marah dan menyuruhku menutup mulutku dan mendorongku hingga terjatuh”. Dia berbohong. Aku baru tahu, dia adalah penjahatnya di dramaku ini.


“Benarkah?, aku tidak menyangka dia berani berbuat jahat”, Mama marah, aku hanya diam sedih mendengarkannya.


Aku tidak jadi menemui Rani, aku hanya berjalan lurus masuk ke dalam kamar dan Dafid hanya mengikutiku dari belakang.


“Kau ingin menyalahkanku?”, aku bicara lirih tak bertenaga.


“Dasar bodoh”, Dafid memakiku, aku tak menjawabnya karena keadaan ini membuatku lemas dan tak bertenaga.


“Pasti semuanya mulai membenciku”, aku menangis lirih sendiri di atas kasur. “Tapi bukankah ini akan menjadi kesempatan untuk keluar dari keluarga ini?”, Aku tetap bingung. Apa sebenarnya yang terjadi?, apa yang dilakukan Rani?, apa dia sedang bermain drama? Aku mulai kacau dengan fikiran-fikiranku, Apa yang dilakukan Rani membuatku mulai berfikir semua yang terjadi padaku.



Apa di Mall ini juga konspirasi Rani?”, aku terus berfikir kemungkinan yang terjadi. “benar, bagaimana Rani menolongku?, dua laki-laki itu ada di parkiran dan Rani di dalam Mall, bagaimana mungkin Rani bisa menyusulku?”, aku berbicara sendiri, “apa dia memang ada di parkiran waktu itu?”, aku hanya diam, “apa dia


menyuruh teman-temannya untuk membuliku?”, aku mulai meringis memikirkan Rani si Serigala itu.


“Aku tidak boleh diam melihat dia mempermainkanku”, Aku bergegas mendekati kamar Rani, namun disana masih ada keluarga Dafid. “Apakah sekarang mereka akan membenciku?”, aku bergumam kecil. Aku tak mungkin masuk dalam suasana seperti ini, jadi kuputuskan untuk meng SMSnya, dan kebetulan HP Dafid tertinggal di


atas meja, aku membukanya dan mencari nomor HP Rani. “Ketemu’, aku kegirangan dan mulai menyimpan nomor HPnya. “Tapi kenapa HP canggih seperti ini tidak ada passport?”, aku enggan ingin tahu apa yang Dafid pikirkan.

__ADS_1


“Rani……, mari bermain dengan adil. Aku harap Dramamu akan berhasil, namun kau tidak tahu telah melakukan kesalahan fatal. Jadi mari kita bermain drama bersama dan kita lihat siapa pemenangnya…. Putri”, aku mengiriminya SMS. Aku harap dia membacanya dan terus membuat masalah hingga aku di usir.


__ADS_2