Bajingan gila

Bajingan gila
RAHASIA 2


__ADS_3

“Sebentar lagi aku akan kembali,aku ingin menceritakan sesuatu padamu”.


“aku tidak sabar bertemu kamu!, apa yang ingin kau ceritakan?”.


“setelah kita bertemu, aku akan mengaku”.


“Kau membuatku penasaran, ayolah apa yang ingin kau bicarakan”.


“Besok, aku akan pulang”. Aku menutup percakapanku di telepon dengan Rosi.


Hari ini, hari yang di tunggu, aku harap semua berjalan dengan baik. Namun, Dafid sudah menghilang dari kamar, aku sengaja bangun cukup pagi untuk menemuinya dan mengajaknya menunggu kedatangan Nila. Aku bingung kenapa dia pergi pagi-pagi sekali dan tidak meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Nila. Mungkin dia masih marah?.


Sudah agak siang, Pak Wawan yang menjemput Nila belum juga kembali, aku sedikit resah mengingat kata-kata Dafid tentang papanya. Aku harap Pak wawan tidak membohongiku. Aku terus menunggu dengan resah hingga suara mobil Pak Wawan terdengar, aku buru-buru ke luar menemuinya.


“Pa, anda membawanya?”, tanyaku memburu kedatangan pak Wawan.


“dia ada di mobil belakang.”, Pak wawan menunjuk mobil yang baru sampai.


“Kenapa begitu lama?”, tanyaku.


“Dia sulit untuk diajak kesini, jadi aku membujuknya. Kau ajak dia ke kamarmu dan bicaralah dengan baik, karena dia sedikit ketakutan diajak ke sini’. Pak Wawan tersenyum dan langsung masuk meninggalkan kami. Nila keluar dari mobil, tubuhnya agak kurus,namun dia tetap masih cantik. Aku menarik tangannya menuju kamar ku dan Dafid.


Aku menunjukkan bagian-bagian rumah dafid sebelum masuk ke kamar, aku perkenalkan dia dengan keluarga di sana. Semua orang hanya tersenyum kecut dan pergi meninggalkan kami. Aku hanya menghibur Nila melihat keluarga Dafid yang tak acuh padanya.


“Bagaimana keadaanmu?”, aku menariknya untuk duduk di sofa kamarku.


“aku baik, dan kau kelihatan bahagia?”.


“tentu saja, itu semua berkat kedatanganmu”, aku tersenyum merekah, “kamar ini jauh lebih besar dari kamarmu, jadi kamu pasti akan senang”.


Nila hanya diam memandangku dengan tatapan tidak suka.


“apa aku salah?”.


“Apa kau sedang pamer?”, Nila tampak kesal.

__ADS_1


Aku merasa bersalah, “bukan seperti itu, aku tahu kamu marah karena aku mengambil tempatmu. Sekarang kau ada di sini, aku akan mengembalikan apa yang aku ambil darimu”, aku menerangkan.


“Kau sedang mengejekku?”.Nila marah


Aku bingung, apakah aku menyakiti hatinya, “Kenapa kau marah?”, tanyaku.


Dia mulai menangis, “kenapa kau melakukan ini padaku?, kenapa aku harus melihat ini?, kenapa ?”.


Aku hanya mendekatinya sambil mendekapnya, menghapus air matanya. Dia hanya menangis dan terus menangis menjadi-jadi. Hingga air matanya mulai berhenti, suasana hatinya mulai tenang. Aku bertanya tentang keadaannya dengan hati-hati.


“Kenapa kau bisa dan aku tidak?”, dia bertanya pertanyaan yang tidak ku mengerti. “Kenapa aku merasa iri padamu, padahal ini bukan salahmu”.


Aku mulai mengerti, “kau bisa kembali padanya, tiap hari dia menanggung beban yang berat agar tidak merindukanmu, aku kira dia sangat menyayangimu”.


“Berhentilah bermain-main dengan hatiku, aku memang menyukainya, tapi kau tidak berhak mengejek perasaanku”. Nila kembali emosional.


“Aku tak pernah sekalipun mengejekmu, aku benar-benar ingin keluar dari keadaan ini”, aku mulai meninggikan suaraku. “aku menikahinya hanya untuk membantu paman, dia bilang pernikahan ini hanya sampai kau kembali”.


Nila memandangku dengan tatapan kosong. Dia hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “kenapa kau tidak bertanya kenapa aku kabur dari laki-laki yang ku cintai ini?.


“Putri..”, Nila memegang tanganku. “itu tidak bisa diperbaiki”.


“kenapa?”.


“Karena ini yang diinginkan Dafid”.


“Bohong, dia sangat sedih setelah kau tinggalkan”.


“Jangan percaya padanya”, Nila menangis pelan, “dia tersenyum padaku seakan menginginkanku, tapi di malam itu.”, Nila terhenti, dia menangis semakin menjadi. Aku hanya mengusap bahunya menncoba menenangkannya.


“Putri, Dia datang di malam itu ke dalam kamar ketika aku sendirian. Dia menakutiku dengan mengancam akan membuat keluargaku menderita jika aku datang kepernikahanku”.


Aku kaget tak percaya. “tidak mungkin”.


“dia bahkan mengancam akan membunuh semuanya jika aku tidak kabur”, Nila meyakinkanku. “Dia laki-laki menakutkan, dan sialnya aku menyukai laki-laki seperti itu”.

__ADS_1


“Tapi Nila, sekarang kau bisa bersamanya”. Bujukku.


“Tidak, itu terlalu menakutkan untukku, maaf aku tidak bisa menggantikanmu”, Nila masih menangis.


“Tapi Nil….., aku akan membujuk Dafid!”, aku tetap merajuk.


“Maaf, dan tolong jangan menyuruhku ke sini lagi, ini menyakitkan untukku”, Nila permisi untuk pulang, “dia seperti ular yang ditutupi sisik-sisik, begitu licik”, Nila mengingatkan dan keluar kamar meninggalkan Putri yang masih bengong tidak percaya dengan apa yang terjadi.


aku tersadar seketika,sambil menangis aku berlari mengejar Nila, tapi nila berlari dan memanggil Taxi dengan cepat sehingga aku tak bisa mengejarnya. Aku berteriak histeris sehingga orang-orang di rumah terkejut dan keluar menemuiku.


“Ada apa Putri”, Pak Wawan mendekatiku.


“anda sudah tahu, pasti anda tahu rahasia putra anda selama ini kan?”, aku mengambil kerah Pak Wawan. Mama Dafid melerai, memegang tanganku hingga kami bergelut dalam pertengkaran.


“Put, kau kenapa?”, Kakek memegang erat tanganku hingga aku tak bisa bergerak.


“aku sudah menganggap anda papa, tapi kenapa anda membohongiku dan keluargaku?”.


“tentang apa?”, Mama bertanya.


“dia menyuruhku menikahi Dafid sementara padahal dia tahu bahwa alasan Nila kabur karena Dafid tak menginginkan pernikahan itu”, teriakku.


Mama memandang papa, papa hanya menjawab “hanya itu yang bisa kulakukan agar anak itu menikah”.


Yang dibicarakan datang, dia heran dengan keramaian di depan rumah, aku yang melihat kedatangannya langsung menarik tangannya dan menarik rambutnya serta menggigit tubuhnya. Dia sesekali meraung kesakitan dan wajahnya mulai marah, tapi aku tak mau berhenti, aku mendorong tubuhnya hingga jatuh ke tanah. Aku menduduki tubuhnya dengan kekuatanku aku menarik rambutnya sambil membenturkan kepalaku pada dahinya. Dia mulai berteriak “berhenti!, apa yang kau lakukan?”, aku tak mendengarnya. Kami saling berkelahi dengan kekuatan kami. Sehingga orang tuanya melerai kami.


“Hei,kau gila ya?”, Dafid membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Penampilannya menjadi kacau. Mendengar suaranya, aku mulai muak.


“Dasar ular licik, kenapa kau lakukan itu padaku?”, aku berteriak.


“Apa yang kulakukan?”, Dafid bingung.


“Kau mengancam Nila agar dia kabur di hari pernikahannya, kau pura-pura sedih tapi tersenyum licik hingga aku harus menikahimu”.


“aku tak pernah menyuruhmu untuk menikahiku, kau sendiri yang bersedia”, dafid tersenyum. Senyum itu persis seperti senyum ketika di hari pernikahannya,hari pertama kali aku melihatnya. Sungguh melihat senyumnya membuat aku murka, aku kibas tangan Mama dan dengan cepat mendekati Dafid. Ku cubit mulutnya yang licik itu dan dia tidak mau mengalah. Dia mencengkram tanganku dan mengancam memukulku, aku tak takut. Aku menggigit tangannya hingga dia benar-benar menjerit mendorongku. Aku hampir terjatuh, tapi aku tak mau berhenti. Aku menyeret bajunya membuat dia terjatuh menabrak tubuhku. Aku memeluknya erat sambil menggigit dadanya. Dia menjerit kesakitan berusaha melepasku, tapi aku tak bisa berhenti. Terus aku mengunci pelukanku menikmati setiap erangan yang dia keluarkan.

__ADS_1


Keluarga Dafid hanya melihatnya, mereka membiarkan kami berkelahi dan menontonnya bersama. Hari itu, aku dan Dafid berkelahi sampai tubuh kami kesakitan dan kelelahan. Papa, mama, kakek, Nenek dan staf berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Mereka masuk kembali dan mengerjakan kembali aktifitas mereka setelah kami berhenti berkelahi. Keluarga gila itu benar-benar membuatku ikut gila.


__ADS_2