Bajingan gila

Bajingan gila
Siapa Cinta Pertamamu?


__ADS_3

Harapan yang terlihat membuatku tidak bisa tidur semalam memikirkan cara agar terbebas dari keluarga ini.  Bagaimana mendekati Dafid dan mengetahui siapa wanita itu?, apa perlu aku bertanya pada papa Wawan?, semua pertanyaan mulai muncul di benakku. Aku hanya bingung, bagaimana cara aku memulai pertanyaanku ini.


Papa Wawan terlihat duduk di teras samping, tepat di depan kebun. Dia masih menikmati minuman di cangkirnya, padahal hari ini sudah pukul 09.00 Siang. Jika dipikir-pikir, aku tidak pernah melihat dia pergi ke kantor. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya, dia tersenyum riang menyambut kedatanganku.


“Papa, boleh aku bertanya?”, Tanyaku lirih.


“Apa yang ingin kau tanyakan?”.


Bagaimana aku akan memulai pertanyaan ini, “Papa, Kenapa ingin Dafid segera menikah?”.


“Karena dia sudah cukup umur, Dia adalah anak yang penurut tapi dalam pernikahan, dia selalu menggunakan berbagai trik untuk menolaknya”, Papa menjelaskan.


“Mungkin dia menolaknya karena ada wanita yang ingin dia nikahi”, pendapatku.


“entahlah, aku tidak pernah mendengarnya, kau tahu, dia itu terlalu licik”.


Dia benar-benar mengetahui tingkah anaknya, tapi masih berani menikahkannya denganku. Papa yang Licik benar-benar menurunkan darahnya pada anaknya.


“Apa ada wanita yang Papa tahu, dia dekat dengan Dafid?”, tanyaku.


“Kenapa kau bertanya tentang itu, apa Dafid membuatmu marah?, atau ini adalah instrik tentang kecemburuan istri?”, Papa membuatku kesal setengah mati. Dia benar-benar menikmati ejekannya padaku.


“cih…, untuk apa aku harus cemburu pada Bunglon itu”, Aku mencibir, “oh ya, kenapa Papa tidak ke kantor?, apa Papa sudah jadi penangguran? Aku balas mengejeknya.


“Benar. Aku kini menganggur, Dafid sudah mengambil alih perusahaanku”, Dia menjawabnya dengan santai.


“Dia bahkan mendapatkan pekerjaannya karena Papanya”, ejekku.


“Kau Salah, dia memulai bisnisnya dari nol hingga 2 tahun perusahaannya berkembang dan mengambil alih perusahaan Papa”, Papa menjelaskan.


“Wah dia bajingan yang sangat beruntung, bahkan perusahaan Papanya dia ambil. Dia benar-benar Bajingan gila”, aku mengutuknya.


Papa hanya tersenyum, “Walaupun dia tampan, tapi dia selalu menjahui wanita, bahkan dia akan memecat pegawai wanitanya jika mereka diketahui menyukainya, tapi ada satu wanita yang selalu bersamanya. Dia mulai kecil selalu menemaninya”. Aku kaget mendengar penjelasan Papa.


“Dimana dia sekarang?”, Tanyaku.


“Dia sekarang berada Amerika untuk menempuh Studinya. Dia sesekali akan berkunjung ke sini untuk bermain dengan Dafid”.


“benarkah?”, aku yakin, dia cinta pertamanya. Namun jawaban papa tidak bisa meyakinkanku. Aku hanya bisa berfikir tentang Mama, mungkin dia tahu semuanya.


Pencarianku tidak terlalu membawa hasil, setelah sibuk mencari informasi pada Mama, Kakek, Nenek dan pembantu-pembantu disana, hasilnya sama. Mereka berikir Dafid tidak pernah mengencani wanita. Aku mulai kepo dengan kehidupan Dafid. Banyak kemungkinan yang terlintas di benakku, Kemungkinan dia pecinta sesame jeniskah?, kemungkinan dia menutup diri pada wanita karena trauma?, kemungkinan dia tahu diri karena kedewasaannya sebagai pria tidak berkembang (Burung yang kecil), Tidak Mungkin, aku mulai tersenyum bingung, “itu pasti tidak mungkin, aku melihat celana bagian depannya cukup menonjol”, aku berbicara sendiri dan tertawa mengejek, Atau mungkin dia memakai bantalan di area itu…., “AAA”, Aku mulai geli memikirkan kemungkinan yang terbesit di benakku. “ Benar dia pasti impoten!”, Aku tertawa terbahak-bahak sendirian.


“Kau Sudah gila?”, Dafid mendekatiku yang sedang berdiri di pintu depan kamarnya. “Apa yang kau berisikkan di depan kamar orang subuh-subuh?”.


“kau bangun?”.

__ADS_1


“suara berisikmu yang mengganggu ku”, Dafid marah.


Dia benar-benar tahu cara membuatku sebal, “Kau selalu menghilang pagi-pagi dan malam, aku tidak bisa menemukanmu tiga hari ini”.


“Kau merindukanku?”, tanyanya dengan nada mengejek.


“Cih..”, aku tersenyum mengejek, “aku hanya ingin berbicara sesuatu padamu!”.


Dafid enggan meladeniku, dia segera menutup pintu kamarnya namun aku menyanggahnya dengan kakiku. “Awww”, sakit. Aku langsun menerobos masuk ke dalam kamarnya untuk berbicara dengannya. Namun itu tidak mudah, dia terus meneret tanganku untuk ke luar, dan aku terus memegang kaki kasur yang besar itu dengan kuat hingga akhirnya dia menyerah dan tidak peduli dengan keberadaanku. Dia langsung tidur lagi di atas kasurnya. Aku mendekatinya dan duduk di sebelahnya.


“Kenapa kau sulit untuk ditemukan di rumah ini?”, tanyaku memulai pembicaraan, namun dia tidak menjawab dan tidur dengan tenang.


“Apa kau benar-benar sibuk?”. Dia tidur.


“Apa pekerjaannya terlalu sulit ?”, dia tidur. Aku sedikit emosi.


“Apa kau makan dengan baik?”, dia tetap tidur. Aku yakin dia hanya pura-pura. Keadaan ini benar-benar menyulut emosiku.


“Baiklah, apa kau terlalu sibuk untuk mengurus kekasihmu di luaran sana?”, aku marah, dia memejamkan matanya dengan mulut yang terangkat di bagian ujung kirinya. Dia benar-benar berpura-pura dan aku sudah tidak mampu memendam emosi ini. Aku langsun berdiri di atas kasur, dengan senyum licikku, aku mengeluarkan jurus andalanku ketika sedang mengerjai adik laki-lakiku. Tanganku ku lipat hingga membentuk segitiga yang lancip di bagian sikuku, ku genggam tangan kananku mengumpulkan kekuatan penuh dan terakhir loncatan dengan bidikan pas di bagian perutnya. Aku melompat dan menyingkulnya. “Hiiiiyyyyyaaaaaa”.


“AAAAAwwwwww”, dia menjerit kesakitan dan berusaha mendorongku, namun aku menguncinya dengan kakiku. hingga semua orang di dalam rumah  menghampiri kami. Semua bertanya-tanya apa yang terjadi namun ketika melihat posisi kami, mereka hanya tersenyum dan pergi dengan mengoceh.


“Nak, aku tau kalian masih mudah dan bersemangat, tapi jangan lupa menutup pintunya”, Kakek cengingiran pergi.


“Kau memalukan!”, Papa menyilangkan tangannya. “walau rasanya enaa…….”, papa tidak berani menjelaskan kata-katanya, “jangan mengeluarkan suara yang sekeras itu, kau laki-laki seharusnya yang mendesah wanita”. Papa menggelengkan kepalanya dan pergi.


“Kau fikir orang yang memakai baju tidak bisa melakukan hal-hal yang lebih?”.


“Tentu, mereka yang bercinta selalu melepaskan pakaianya satu persatu dan saling berpelukan dan berciuman”.


“Kau terlalu bodoh untuk seusiamu, bukankah kau pernah berkencan?”.


“Kau yang bodoh dan tidak pernah berkencan”, aku mulai memancing pertanyaannya.


Dafid hanya tersenyum sombong, wajahnya memperlihatkan bahwa dia telah memiliki banyak mantan. Tapi aku yakin, dia tidak memilikinya.


“Jadi kau sudah berpengalaman berkencan?”, aku mengikuti arus kebohongannya.


“Jadi karena kau penasaran denganku, kau membuat kehebohan di rumah ini?”.


“Heboh? Apa?”, aku tak mengerti.


“Kau berkeliaran bertanya tentangku pada orang-orang”, Dafid mendekati wajahku dan memperhatikannya. Bibirnya mendekati mukaku, aku mundur dan menjahuinya hingga menempel di dinding. Dia tetap mendekatiku sambil tersenyum licik, “Jangan jatuh cinta padaku, karena kau bukan tipeku”, dia berbisik di telingaku membuat desahan nafasnya menggelitik kupingku. Dia merasa menang dengan senyum puasnya.


Aku hanya mendesah melihat tingkah lakunya, aku harus sabar dan bertahan sebentar. “aku memang penasaran, siapa cinta pertamamu?, Nila sudah menceritakan semuanya?”.

__ADS_1


Dafid terdiam seketika, mimik mukanya terlihat berubah. Aku melihat ada kesedihan di matanya. Mungkin ada cinta pertamanya dengan cerita menyedihkan, Dafid membatu tak menjawab.


Aku bingung harus beraksi apa, ku langkahkan kakiku mendekatinya, mencoba untuk menjadi tempat curhatnya hingga dia bisa membuka hatinya. Aku merasa ibah padanya, dia mungkin hanya laki-laki yang ingin mempertahankan perasaan cintanya. Aku hanya perlu mendorongnya agar meluapkan semua perasaannya. “Kau


tak perlu menahannya!”.


“apa yang dia ceritakan padamu?”, tanyanya.


“dia bilang kau menolak pernikahanmu karena menunggu cinta pertamamu”, Jawabku.


Dia tertawa dengan jawabanku, aku tahu dia hanya menyembunyikan dirinya lewat tawanya. “ku harap kau mau berbagi kisah dengan ku agar aku bisa menolongmu, aku harap kau akan bahagia!”, tambahku.


Dia duduk di atas kasurnya dan menyuruhku duduk di dekatnya. Aku mendekatinya karena aku rasa dia sudah membuka hatinya untukku. “Kau ingin tahu alasan aku tidak menikahi wanita-wanita itu?”, dia bertanya dengan lembut.


Aku mengangguk tak sabar.


“Benar, aku tidak bisa menikahi dengan wanita yang tidak kucintai, aku takut dia akan kembali dan tidak menemukanku”, dia menatap benda aneh yang dipajang di meja, aku mengikuti arah pandangnya, benda itu berwarna hitam dengan motif aneh. Apa mungkin itu pemberian wanita itu?. Aku menatapnya ibah.


Dia menatapku lekat, terus menatap mataku yang berkaca-kaca mendengar ceritanya.“dia mungkin sangat berarti untukmu, Maaf sudah menjadi orang ketiga antara kalian”.


“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAAHAHAHAHA”, Daid tertawa meledak. Aku terkejut dan bingung dengan semuanya. “Kau benar-benar percaya?”, dia mengejekku habis-habisan.


Aku bingung, tapi aku yakin dia hanya menutupi luka hatinya. Dia hanya membohongi hatinya.


“Mukamu itu lucu, seperti yang ku harapkan, kau wanita yang mudah ditipu”, Dia tertawa “baiklah aku akan memberitahumu kebenarannya!’, dia berhenti tertawa dan mulai serius.


Aku mendengarnya dengan serius. “pernikahan pertama, papa menjodohkanku dengan teman bisnisnya Dhila, aku tak bisa menerimanya namun tidak bisa menolaknya. Wajahnya sangat jelek, Behelnya warna hitam, dia kira itu bagus,  Aku mendesaknya untuk menghilang, aku menakutinya dengan mengancam nyawanya, dan yang kedua dia Nia, aku ingat dengan jelas proporsi mukanya yang menjorok ke depan, dia sangat menjijikkan. Aku mengancamnya dengan hal yang sama. Dan Lisa mukanya benar-benar miring membuat kepalaku sakit.  Juga Wulan hidungnya terlalu panjang ke depan seperti pinokio, dia pasti selalu berbohong. Dan ke lima Mela yang memiliki Dagu yang panjang, seharusnya dia mengoprasinya agar lancip.Mereka semua ku ancam dan aku bahkan menculik mereka agar mereka mau menghilang dari pernikahan kami”, Dia tersenyum licik. Aku termenung tak percaya.


“lalu apa yang kau lakukan pada Nila?”, tanyaku


 Dia yang paling tangguh, ketika yang lainnya ku ancam, mereka ketakutan. Tapi tidak dengan sepupumu, dia tetap tidak menyerah pada pendiriannya untuk menikahiku. Dia yang paling merepotkan, tapi untung dia bodoh, dia menangis dengan bodohnya ketika mendengar aku mengarang kisah cinta pertamaku dan mau meninggalkanku”,dia mengejek sambil menggerakkan jemarinya seakan menirukan tetesan air mata Nila


yang jatuh.


“Kau benar-benar menjijikkan sepeti lintah”, aku memakinya marah.


“Mereka yang bersalah, mereka merasa pantas dengan status meraka untuk bersanding denganku, Mereka seharunya berkaca”,Dafid melemparkan senyum liciknya.


“Kau Gila”, aku berdiri, “Kau hanya bajingan gila yang tidak layak dicintai”.Aku melangkah akan pergi tapi dia memegang tanganku.


“Tidak layak??, Tapi mereka semua menatapku dengan wajah terkagum-kagum bahkan mereka bermimpi dijamah olehku, sungguh menjijikkan”.


Aku mengibas tanganku, “Kau gila, benar-benar tidak bisa ditolong lagi”. Aku mencoba melepaskan tanganku tapi dia memegangnya dengan erat.


“Jadi jangan mencintaiku, karena kau sama menjijikkannya dengan wanita-wanita itu”, dia menatapku tajam sambil melepas tanganku. Aku tersenyum kecil dan melangkah keluar.

__ADS_1


“Wanita menjijikkan ini tidak pernah menyukai ular, Ulat,Belut atau Lintah, Jadi jangan kawatir karena kau sejenis dengan mereka”, Aku tersenyum melihat muka marahnya, dia berteriak “K A U ….”, aku berlari menjahuinya. Tanpa harapan terlepas dari keluarga ini, aku hanya memikirkan satu cara, KABUR.


__ADS_2