
Hari itu benar-benar melelahkan buatku, setelah upacara yang panjang serta perdebatan orang-orang mengenai tempat tinggalku. Aku tak punya hak suara untuk memutuskan. Entah kapan mereka menyiapkan semuanya hingga benda-benda yang kupunya ditambah benda asing pemberian paman, tante, bapak, ibu sampai para kerabat kini terbungkus rapi. Tas yang kubawa dari rumahku hanya satu namun kini aku pulang dengan tas yang memenuhi Mobil “suamiku”. aku harus pulang ke tempat asing mengikuti jejak suamiku. Aku benar-benar tidak punya hak untuk memilih. Mereka berdebat seenaknya, tanpa bertanya apa yang aku mau. Mereka memutuskan dengan syarat-syarat yang bahkan bukan aku yang menentukannya.
Dunia yang lucu, aku kini menjadi seorang istri dalam hitungan jam. ,masih teringat kata-kata bapak, “ingat Put, ini hanya pernikahan sementara. Jadi kau harus tidur sendiri”, bapak mencemaskanku. Dia bersikukuh agar aku tidak tinggal bersama Dafid, namun Ibukku berbisik padaku, “ambilla kesempatan ini, buat anak hingga pernikahan ini menjadi nyata”. Aku hanya tertawa mendengar ibuku yang sudah gila dengan mantu kaya. Perdebatan sengit terjadi, hingga bapak hanya bisa menghela nafas sambil menangis mengantar kepergianku “Ingat Put, jangan …..melakukan…..itututu sama”,papa bergumam sendiri menahan malu.
“Istriku tersayang, kita sudah sampai”, Dafid tersenyum licik. Dia menyeringai penuh kemenangan melihat air mataku yang terus tumpah.
Aku tak menjawabnya, Pak Wawan menuntunku ke dalam bersama istrinya. Di dalam masih banyak tamu yang menunggu kami, memberikan selamat pada kami. Istri Pak wawan memelukku dan tersenyum bahagia. Wajah cantiknya terus tersungging senyum, kulit putihnya dan aroma tubuh yang unik membuat dia terlihat mudah. Dari dalam seorang wanita Tua keluar dan memelukku erat, “Syukurlah berjalan dengan lancar”, dia terus memelukku erat sambil menangis.
“Ibu, apa yang kau lakukan”, bentak laki-laki tua di sampingnya. Laki-laki tua berwajah garang, tubuhnya masih tegap dengan warna rambut yang memutih dan sialnya, dia tetap terlihat tampan dengan mata yang terbuka lebar. “wanita ini bukan cucu menantu kita”.
Aku hanya melihatnya dengan ekspresi takut, terlintas kejadian-kejadian menakutkan yang terjadi pada tokoh pertama pada sinetron Indonesia. Aku membayangkan bagaimana mereka akan menyiksaku dengan tumpukan pekerjaan di rumah sebesar ini.
Laki-laki tua itu adalah kakek Dafid, dia mendekatiku dan berbisik padaku “aku akan memberikan hadiah untukmu”, dia memberikanku semua kunci atau remot aku tidak tahu apa itu.
“apa ini Tuan?”, tanyaku.
“kenapa kau panggil tuan, panggil saja kakek tampan”, wajah garangnya seketika menghilang , “karena kau mengangkat kutukan cucuku, maka ambillah Mobil Silver di dalam bagasi”, Kakek tertawa terbahak-bahak.
“Kakek, itu mobilku !”, Teriak Dafid.
“itu yang di kanan punyamu, tadi aku membelikan khusus untuk istrimu jenis dan warna yang sama denganmu”.
__ADS_1
“Kau terlalu memanjakannya, dia hanya cewek matre jadi jangan memanjakannya”, ejek Dafid.
Aku hanya tersenyum kecil “dia benar kakek, aku cewek matre, jadi mobil itu tidak cukup untukku”. AAAAAAAAAAA apa yang kubicarakan?, dia benar-benar bisa membuat emosiku tak terkendali.
“Benarkah?”, kakek berfikir sejenak, “Baiklah, aku akan membelikan sebuah Vila di Bali”, kakek tersenyum padaku. “apapun yang kau inginkan akan aku berikan”.
Ada apa ini?, bukannya dia marah padaku, tapi dia berusaha menggoyahkan hatiku. Mobil, bahkan Vila yang akan diberikan padaku?, aku mulai berfikir sekaya apa keluarga itu. “apa anda akan memberikan seluruh warisan anda padaku?”, aku mencoba membuat mereka sedikit sebal padaku.
“Kau gila ya?”, Dafid yang mendengarnya mulai marah dan anehnya aku menikmati ekspresinya itu.
“Tentu saja”, jawab Kakek yang membuat aku dan Dafid Terkejut. Dia mendekati telingaku, “kau hanya perlu melahirkan bayi yang sehat dan kupastikan semuanya akan menjadi milikmu”.
“sekarang kau bisa panggil kami seperti Dafid memanggil kami”, Pak Wawan yang harus aku panggil Papa “Papa tolong jangan menggoda menantu kami”, Pak Wawan menghentikan Kakek mengoceh.
“baiklah, kalian pasti lelah. Kalian boleh istirahat di dalam !”, Kakek dan Nenek menuntunku menuju kamar di lantai atas. Di belakang kami Dafid mengikuti. Aku mulai rishi dengan suasana ini.
“ini kamarmu”, Kakek mendorongku memasuki kamar yang dihiasi dengan bunga-bunga. “tolong buatkan cicit yang lucu”, kakek tersenyum sambil pergi menggandeng Nenek yang tidak mau melepaskan tanganku.
Ini benar-benar membuatku gila. Kamar yang luas dengan kasur yang lebar dan sofa serta televise dan kamar mandi ada di sana “ apa ini rumah atau kamar?”, aku benar-benar takjub.
“apa yang kau fikirkan hingga air liurmu berceceran”, laki-laki bajingan itu muncul.
__ADS_1
“kenapa kau disini?”.
“ini kamarku”.
“apa?”, aku terkejut, “bukannya keluargamu tahu kalau kita hanya pasangan sementara?”. Tanyaku.
“kau terlalu mempercayai mereka”, Dafid tersenyum licik mendekatiku sambil menutup pintu. “mereka semuanya licik”.
“Kau benar, kalian semua licik seperti ulat”, aku mencibir.
“dan kau menikahi ulat ini”.
“cih…., aku tahu apa yang ada di fikiranmu, seperti di Sinetron, laki-laki menutup pintu agar si wanita takut. Aku bisa membaca gerakanmu!”.
“Waw, kau benar-benar mengerti aku, dan setelah ini apa yang biasanya dilakukan pemeran utamanya dalam sinetron itu?”.
“aku bukan pemeran utama dalam sinetronmu, aku hanya peran pembantu. Jadi aku akan sadar diri dan”, Aku berjalan menuju ke pintu Beranda depan kamar di lantai 2. “teras itu cukup luas untuk jadi kamarku”, aku menunjuk kea rah luar.
Dafid tersenyum lebar “baiklah aku setuju, dan kau harus ingat, kau yang mau!”.
Aku tahu itu yang dia harapkan, aku tak mau bertengkar dengannya dan membuat dia tertarik padaku. Aku hanya perlu menjaga jarak dan menghindari kontak lansung dengannya. Aku tak mau, dia memperhatikanku dan mulai goyah dengan keberadaanku. Aku harus keluar dari rumah itu dan menyudahi permainan ini, hanya satu minggu, aku harus bertahan sebentar lagi.
__ADS_1