Bajingan gila

Bajingan gila
Pengganggu.


__ADS_3

“Kau lagi”, Laki-laki berkulit sawo matang memasang wajah dengan tangan di pinggangnya.


“Uhh”, aku bersungut-sungut, “ayolah jangan lebai, kau selalu berlebihan”, aku merengut.


“apa?”, dia terlihat marah, “setiap kita harus diskusi, kau selalu izin kebelakang, sebenarnya apa yang kau lakukan di belakang?”.


“aku ke toilet, apa kau ingin ikut ke dalam kamar mandi?”, aku tak mau kalah.


“bagaimana bisa ketoilet sampai satu jam?”, laki-laki itu naik darah.


“Sudahlah, walau aku ikut dari awal diskusi tidak akan membawa perbedaan”, aku langsung pergi ke tempat dudukku tanpa menghiraukan laki-laki itu.


“Putrrriiiiiii”, dia berteriak.


“Roooossiiiiii”, aku balas berteriak sehingga kami semua terdiam.


Siang itu udara sangat panas hingga emosi kami sama-sama meningkat, Rosi teman sekelasku ketika kelas 2 SMA adalah ketua kelompok diskusiku, dia laki-laki yang pintar dan mulai menjadi sok pemimpin ketika ditunjuk menjadi ketua. Dan yang membuatku sebal, dia selalu ikut campur permasalahanku.


“Putri, kau belum mengumpulkan tugasmu”, kini dia mempermasalahkan tugas matematika yang harus dikumpulkan besok terakhir.


“ayolah…, bukankah masih ada waktu!”.


“kau harus mengumpulkan sekarang juga”.


“Kau ingin cari mati ya?”, aku mulai sebal.


“bukankah lebih baik kau menyelesaikannya sekarang daripada melukis wajah kakak kelas yang sok ganteng itu”, Rosi menunjuk gambarku.


“Ini gambar cowok Wiwik, dan dia bukan sok ganteng tapi memang ganteng”, aku marah.


Dia benar-benar laki-laki norak yang selalu menggangguku, setiap aku berkumpul dengan teman-teman dia selalu ada di sekitarku, ketika kami sedang bergosip tentang cowok tampan, entah dia muncul dari mana saja untuk  menggangguku dengan tugas-tugas yang tidak masuk akal. Dia juga sering menulis kata-kata aneh di bukuku, aku menyobeknya tepat dimukanya sambil melihat mukanya yang tanpak marah.


Dan di hari itu, guru bahasa membuat kelompok dua orang untuk membuat percakapan dalam bentuk wacana, dan ajaibnya aku harus berkelompok dengan Rosi. Ini membuat stresku bertambah. Dan benar, ini hari pertama kami membentuk kelompok dan di hari itu juga dia terus menyeretku dan tidak membiarkanku sendiri. Benar-benar menyebalkan.


“Halo kau ada di mana?”, Rosi menelponku jam 3 sore.


“Di rumah”, jawabku ketus.


“ayo kelompok!”, ajaknya


“kau gila kerja ya?”, aku mulai marah. “bukannya kita sudah menyelesaikannya di sekolah”.

__ADS_1


“kita perlu mengulas lagi agar tidak ada kesalahan”.


“baiklah, kau ulas sendiri. Jika ada kesalahan kau sms aku”, aku menutup telpon tanpa memberikannya kesempatan bicara lagi.


Benar-benar, dia benar-benar gila belajar. Tiap menit dia meng SMS ku dengan banyak koreksi yang tidak perlu, aku hanya menanggapinya separuh-separuh hingga rasanya ingin kutonjok mukanya. Dia selalu menutup percakapan via sms kami dengan gahasa dan tulisan yang aneh dan aku tak mengerti. Aku benar-benar tak mengerti dan tak ingin mengerti dia. Paling-paling itu tulisan motivasi belajarnya.


Tugas yang membuat emosiku terkuras sudah selesai, aku harap dia tidak menggangguku lagi dengan alasan yang tidak masuk akal. Tapi ternyata itu tidak berhenti, dia terus menggangguku dengan SMS yang aneh sehingga aku merasa penasaran apa yang dia tulis. Setiap ku Tanya, dia selalu menjawan bahwa aku harus rajin belajar. Aku mulai bingung dan mencoba mencari arti kata-kata itu, tapi nihil. Aku mulai gelisah dengan keingintahuanku.


“Kau  lagi apa?”, dia men sms ku. Aku tak menghiraukannya.


“tumben tidak menjawab smsq, apa lagi sibuk?”. Aku tetap diam.


“ya sudah, selamat tidur!”. Aku mulai tidak bisa mencegah diriku untuk tak membalas smsnya.


“sebenarnya aku mulai kepo dengan bahasa asingmu itu”, aku segera menjawab, namun di hanya membalas dengan menggunakan emotion tersenyum.


“bisakah kau memberitahukan artinya?”, aku bertanya.


“selamat tidur, besok kamu harus bangun pagi untuk sekolah”, dia tidak menjawab pertanyaanku. Aku mulai sebal, tidak ku jawab smsnya dan mengutuknya dengan kesal.


“……………….. I shiteru” seperti biasanya, dia mengirim bahasa asing dan di akhiri dengan kata yang tidak asing ditelingaku.


**


Pagi ini seperti biasanya, Rosi selalu mencari masalah dan aku pura-pura tidak tahu. Semuanya terasa canggung buatku tapi Rosi masih tetap menggangguku dengan beberapa perintahnya yang mendiktator.


“Put, kau lihat kak Dani?”, titik menarikku keluar kelas.


Aku keluar kelas dengan ogah-ogahan, namun Titik terus menarik tanganku dengan kekuatannya.


“Kau mau kemana?”, Rosi menarik tanganku yang satunya.


“Sudahlah Rosi, jangan ganggu kami!”, Titik menarikku tak mau kalah.


“Putri, kau harus menyelesaikan tugasmu!”, lagi-lagi memerintahku.


“Baiklah, mari lepaskan tanganku”, aku berteriak kesakitan.


“Kau jangan keluar, jika keluar kalian akan ku laporkan”.


“Silahkan”, Titik pantang menyerah. Dia menarik tanganku untuk keluar kelas.

__ADS_1


“jangan keluar!”, Rosi menyentuh tanganku dengan lembut, suaranya lebih lembut dari biasanya.


“Rosi…., mari kita urusi urusan kita masing-masing”, aku melepaskan tangan Rosi untuk melepaskan kecanggungan ini. Dan Titik hanya tersenyum sambil mengejek Rosi. Kami langsung keluar kelas untuk melihat Kakak Dani.


“Put, dipikir-pikir Rosi selalu mengganggumu”, titik mulai kepo dengan sikap Rosi.


“Entahlah, lupakan saja dia, ayo kita kejar Kak Dani”, aku menarik Titik untuk berlari menjahui Rosi yang memandangku.


.....


Pukul 10.00 siang, waktu istirahat. Aku dan Titik masuk kelas mendekati kerumunan teman-teman yang sedang berbincang-bincang saling bercanda. Di sebelahnya ada Rosi yang hanya mendengarkan sambil duduk di bangkunya.


“Put…, sini”, Rido menyuruhku mendekatinya. Dia laki-laki yang selalu suka bercanda dengan raut muka yang agak lonjong.


Aku mendekatinya dan mulai ikut bercanda tanpa melihat Rosi yang terus melihatku dengan tatapan misteriusnya.


“Put, karena kau masih belum punya pacar dan selalu mengejar kakak kelas yang tidak punya harapan untukmu, bagaimana jika aku berikan kau cara agar kau disukai laki-laki”, Rido mulai mengejekku seperti biasanya.


“cihh”, aku mencibirnya, “kau saja tidak laku-laku”.


“ayolah, aku beri tahu kunci penaklukan laki-laki”. Aku hanya tersenyum kecut sedang yang lain mulai terus mengoceh untuk diberitahu caranya.


“baiklah aku beritahu”, Rido mendekatiku dan tersenyum. “Kau harus tersenyum kecil di depan laki-laki dan sapalah mereka semua dengan sapaan ‘I Shiteru’ dan jangan berhenti”, kata-kata itu mengeetkanku dan pastinya Rosi bertambah kaget.


“apa itu?, kau mempermainkanku”, aku pura-pura tidak tahu.


“ayolah…, itu kata-kata sapaan manis hingga laki-laki pasti suka”, Rido mencoba membohongiku. Aku mengikuti kebohongannya. “I shiteru”, aku langsung mengatakannya pada Rido tanpa bersalah.


Rido terdiam, “Kau mau mati ya?, kau harus mengatakan pada laki-laki lain”, Rido tersenyum licik.


“jika di depanmu tidak berhasil, pasti juga akan gagal pada yang lain”, aku hendak pergi menjauh dari kerumunan.


“Kau menyukaiku”, Rido bertanya.


“tentu saja tidak”, aku menyahut sambil tidak menghiraukan. Aku tidak mau Rosi tahu bahwa aku tahu arti smsnya waktu itu.


“itu artinya aku mencintaimu…………”, Rido berteriak “ I shiteruuuu”.


“Dasar bajingan”, aku bergumam sambil melirik Rosi yang duduk terdiam sambil melihat kearahku. “aku akan membunuhmu”, aku kembali dan menendang kursi rido yang tertawa terbahak-bahak.


“Kenapa kau marah?, aku kan Cuma bercanda”, Rido heran dengan reaksiku. Aku hanya terdiam dan menoleh kearah Rosi. Dia hanya diam menunduk dan tak berani melihatku lagi. “ahhh, dia pasti sadar bahwa aku sadar dengan perasaannya”, gumamku.

__ADS_1


__ADS_2