
Hari pertama kami sebagai pengantin sangat cepat berlalu, aku selalu menghindari dia. Dafid selalu berangkat pagi dan pulang malam. Ketika malam, aku langsung ke teras depan kamar. Kami tidak pernah bertemu sekitar 5 hari, dia benar-benar terlalu sibuk atau sibuk menghindariku. Aku tidak ambil pusing, aku harap kami tidak saling memberi kesan mendalam.
Setiap pukul 06.30 dia sudah siap untuk berangkat kantor, setelah dia pergi, aku masuk ke dalam kamar dan membereskan kekacauan yang dia buat. Setelah itu aku akan pergi ke luar kamar menemui kakek dan nenek yang biasanya di jam itu sedang menunggu tea buatanku. Keseharianku hanya membantu Nenek dan Ibu dalam masalah memilih belanja yang tak perlu. Mereka tidak pernah bekerja, semuanya dilakukan oleh asisten rumah tangga mereka. Tapi, aku tidak bisa tinggal dengan Cuma-Cuma di sana. Jadi setiap hari aku membantu membersihkan di sekitar rumah, berkebun serta merawat kolam ikan di dekat kebun. Rumah itu benar-benar luas, halamannya seperti ladang yang luaaaasssssssss, itu cukup untuk menanam padi 10 keluarga.
Setelah bekerja seharian, aku memasak untuk keluarga Dafid. Sambil menungu Dafid pulang, aku bekerja tanpa henti hingga benar-benar lelah. Sekitar pukul 17.00, aku mandi dan masuk ke dalam kamar menuju beranda kamar. Ditengah kesibukanku, aku luangkan waktu untuk menghubungi dia, kekasihku yang ku cintai, Rosi.
“Bapak, kumohon jika Mas Rosi kerumah, katakana padanya bahwa aku harus membantu perusahaan Paman”, mintaku disaat pernikahanku. Aku menarik Bapak dan Ibu ke dalam ruangan kosong sebelum ditarik pergi oleh Dafid.
“Ibu, aku mohon rahasiakan pernikahan palsu ini”, mintaku.
“Kau harus melupakan dia, dan hidup dengan suamimu sekarang, itu lebih baik”.
“Ibu jangan lupa,ini pernikahan palsu. Jika Nila datang, aku harus menyingkir”, kataku.
“Mangkanya kau harus mengambil kesempatan”.
“Diam”, Bapak membentak Ibu. “kau hanya memikirkan kekayaan saja, ingat sampai saat ini kita masih bisa hidup dengan baik karena bantuan kakakmu, Bagio. Maka bantulah dia dan jangan menghianatinya”.
“baiklah, jadilah orang kaya 1 minggu saja”, Ibu menggerutu.
“Bagaimana kamu bisa merahasiakannya selamanya?”, Bapak menasehati, “walau ini pernikahan palsu tapi jika dia mengetahuinya kelak, itu bisa berakibat fatal untuk hubungan kalian”.
“aku akan memberitahu semuanya ketika semua berakhir, aku rasa dia akan mengerti. Biar untuk saat ini tolong rahasiakan pernikahanku pada semua orang di desa”. Mintaku. Bapak dan Ibu hanya bisa diam mengangguk.
Kini aku memiliki rahasia, aku harap bapak, ibu masih menjaga rahasia itu. Dan disini aku mempunyai rahasia bahwa aku terus berhubungan dengan pacarku. Setiap hari kami selalu saling bertukar pesan via WA, dan setiap pukul 17.00 lebih, aku selalu menelponnya dan berbicara selama Dafid belum pulang. Setelah laki-laki gila itu pulang, aku langsung tidur dengan nyenyak karena kelelahan.
Hari ke 7 pernikahan kami, saya menunggu di branda kamar, tapi Dafid belum juga keluar kamar. Ini sudah satu jam aku menunggu, tapi dia hanya duduk di dalam. Aku mulai tidak sabar menunggunya, langsung aku masuk kedalam kamar dan langsung menuju kamar mandi.
“Kau melakukan dengan baik”, dia menegurku ketika aku baru keluar kamar. “setelah pernikahan kita, ini pertemuan pertama kita”.
__ADS_1
Aku hanya diam.
“ini sudah 7 hari kita tidak bertemu, kau tampak lebih kurus dari sebelumnya”.
“Kenapa kau menghitungnya, aku harap kau melupakan keberadaanku dan menghilangkanku di pikiranmu”, aku mencibirnya.
“Kau benar, aku hampir lupa bahwa aku sudah punya istri. Tapi karena usahamu agar diterima dikeluargaku, aku harus mendengar tiap hari orang-orang rumah memujimu”.
“Apa?, Kau terlalu percaya diri”.
“Lalu, kenapa kau memperlihatkan diri bahwa kau istri yang baik pada mereka? Menggangguku!”.
Aku menarik nafas kesal, “aku hanya bekerja untuk membayar uang makan dan tempat tidur selama di sini, sudahlah! Jangan menghiraukanku karena kita akan bepisah setelah 7 hari”, aku teringat sesuatu. “bukankah kau bilang 7 hari tidak bertemu, berarti ini harinya”, aku berlari menuju kamar Papa Wawan.
“Papa papa papa”, aku berlari mencari Pak Wawan.
“ada apa, kau begitu bersemangat?”, pak Wawan menemuiku. Aku menariknya ke ruangan sebelah yang kosong.
Pak Wawan hanya diam, tatapannya berubah seketika. “apa kau tidak berubah fikiran?, aku kira kau sudah bahagia disini”.
Aku diam, “aku hanya ingin kembali ke kehidupanku sebelumnya”, aku berbohong pada Pak Wawan.
Pak Wawan menghela nafas, “baiklah, papa akan menjemput Nila besok, keputusan ada padanya dan Dafid. Jika dia tetap tidak mau dan Dafid tidak mau, maka kau akan terus hidup di sini”.
“Apa NIla sudah ketemu?” aku terkejut, “kenapa Papa tidak memberitahuku?”.
“karena istri dan orang tuaku sangat menyukaimu. Aku tidak sanggup membuat mereka sedih ditinggal kamu, tapi besok papa akan bawa Nila ke sini untuk mencari keputusan yang terbaik untuk kalian”, Pak Wawan menerangkan.
Aku hanya diam bahagia, tapi aku tak bisa memperlihatkan betapa kau bahagia dengan kabar ini, jadi aku berlari ke kamar dan denga cepat menutup pintunya. “Hore hore”, aku berjingkrak kanan kiri dan menyanyi tak tentu.
__ADS_1
“Kau sudah Gila?”, Suara dafid mengejutkanku. Aku lupa bahwa dia masih ada di kamar.
“aku bahagia, jadi aku akan membiarkanmu mengejek sesuka hatimu”.
“kenapa kau begitu bahagia?”.
“Dia, Nila besok akan kesini menggantikanku, akhirnya kau akan bertemu dengan orang yang kau cintai, Selamat”, aku memberinya selamat.
Wajah Dafid jadi dingin seketika. “Benarkah?”, dia mengangkat ujung bibirnya.
Aku merasa kasihan padanya, mungkin dia sangat sedih, bahagia dan marah karena Nila. “Kau pasti marah?”.
“untuk apa aku marah”, Dafid menyangkal
“aku tahu, kamu sedih saat dia pergi karena itu kau bekerja siang malam agar kau tidak terlarut dalam kesedihanmu”.
“Kau terlalu percaya diri pada kesalapahamanmu”, Dafid mengejek.
“Aku tahu semuanya karena kita sama, tapi aku yakin Nila sangat mencintaimu. Ketika dia membicarakanmu, dia tersenyum bahagia dan selalu menantikan pertemuannya denganmu”.
“kenapa dia kabur”, Dafid menghentikanku bicara.
“karena……, dia pasti punya masalah. Dia wanita yang baik, mungkin memiliki masalah yang dia sembunyikan. Mari bertemu besok dan menyelesaikan masalah kalian”, Aku bersemangat.
“aku harap kau bahagia, karena besok mungkin kau akan menangis”.
“Aku tak akan menangis meninggalkanmu, aku akan membentangkan tanganku menuju kebebasan, hahahaha”, aku terus tertawa lepas. “baiklah, aku akan bekerja di hari terakhirku, aku akan menyiapkan masakan istimewa untuk semua sebagai hadiah terakhir”, aku keluar kamar.
“Putri”, Dafid memanggil menghentikan langkahku.
__ADS_1
“jangan percaya pada papaku, dia sangat licik”.
Aku tidak mengerti apa yang difikirkannya, aku terus melangkah keluar untuk memberikan hadiah perpisahan untuk orang-orang rumah.