Bajingan gila

Bajingan gila
Rencana Cinta


__ADS_3

Malam itu aku tidak bisa tidur, bukan karena memikirkan sesuatu tapi karena Dafid yang terus duduk di depan tendaku. Dia terus duduk tanpa bicara membuat khawatir, semua tindakannya kini membuatku sangat khawatir apalagi setelah kejadian dia telanjang, mengingat itu perasaan kesal berkecamuk di hatiku.


“Apa yang kau lakukan di sini?”, aku mulai muak melihatnya yang hanya duduk diam.


“aku hanya melihat kau tidur”, Dia menjawab tanpa rasa bersalah.


“Ayolah, jangan bilang kau sudah jatuh cinta padaku?”.


“Apa?”, dia mulai marah, “Kau gila, tidak ada namanya aku jatuh cinta padamu, yang ada kau yang jatuh cinta padaku”, dia benar-benar tidak tahu malu.


“Baiklah,  lupakan jatuh cinta. Kau mau apa disini?”. Aku tidak ingin meladeninya lagi.


“Bagaimana perasaanmu setelah kau melihatku telanjang”, dia bertanya sambil memalingkan mukanya. Mungkin dia sedikit malu.


“perasaanku kesal, kenapa aku harus sekamar dengan orang cabul”, aku menjawab dan dia mulai tanpak kesal. “sebenarnya kenapa kau melakukan itu?”.


“Aku hanya berusaha membuat seseorang menyukaiku”, di luar dugaan, dia menjawab dengan jujur.


“kau membuatku malu”, aku menutup mukaku kesal, “kau belajar dari mana dengan bertelanjang bisa membuat orang jatuh cinta?”.


“aku melihat di drama-drama korea, wanita melihat si laki-laki telanjang dan akhirnya mereka jatuh cinta. Jadi kufikir siapa yang akan menolak melihat tubuh indahku ini”, kalimatnya membuatku ingin muntah.


“apa kau ingin membuatku jatuh cinta padamu?”.


“Apa?, kau gila”, Dia marah. Seharusnya aku disini yang marah.


“Lalu kenapa kau melakukan ini padaku?”.


“Aku hanya membuatmu sebagai bahan percobaanku, tapi kurasa ini akan gagal. Jadi tolong bantu aku, beritahu caranya?”.


“Kenapa kau bertanya padaku”, aku kesal karena mengantuk


“Karena,kau pasti melakukan banyak usaha untuk disukai laki-laki, sedangkan aku selalu disukai wanita jadi aku tidak pernah berusaha membuat wanita menyukaiku”, Entah kenapa kata-katanya membuatku merasa dia sedang mengejekku.


“Baiklah, siapa wanita itu?”.


“Rahasia”, dia menjawab dengan cepat meski aku sudah tahu siapa dia.


“Kau harus mendekatinya, dan memanjakannya serta mengirim sms tiap waktu. Kau hanya perlu menampakkan perasaanmu padanya”, aku mulai mengantuk, “Dan untuk selanjutnya, aku akan membantumu lain kali, jadi sekarang biarkan aku tidur”.


Dafid hanya melihatku dengan kesal, aku hanya membalas pandangannya dengan pelototan, menyuruhnya untuk masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Pagi sudah datang, tepat pukul 05.00 subuh, aku terbangun dari mimpi sialku. Dan benar saja, mimpi sialku menjadi kenyataan.  Laki-laki ******** itu mengagetkanku dengan masuk ke dalam kemah. Dia tidak sabar untuk meneruskan pembicaraan semalam, ini benar-benar menggangguku.


“Kenapa kau lama tidurnya?”.


“Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini?”, aku sebel.


“Apa yang pertama harus kulakukan?”, dia menunggu jawabanku tanpa sadar bahwa dia benar-benar menggangguku.


“Baiklah, mari kita bertemu di taman nanti malam. Kau akan bertemu dengannya dan aku akan membuat rencana kencan”.


“Bertemu dengan siapa?”.


“Jangan banyak bicara lagi, nanti malam kau harus datang tepat jam 19.00 dengan pakaian yang modis”, Aku mendorongnya keluar tenda dengan kakiku. Dafid begitu marah, dia mengambil telapak kakiku dan menggelitikiku tanpa ampun hingga aku menangis karena tawa. “Benar-benar bajingan”. Aku berteriak pada Dafid yang pergi dengan senyum liciknya.


Akhir-akhir ini Dafid berubah, perubahannya membuatku kesal setengah mati, dia terus mengganguku dan tidak membiarkanku pergi. Dan Rani juga terus mengusikku, aku terjebak dalam dilema percintaan yang rumit.


“Apa pakaian ini bagus?”, Rani terus memperlihatkan dan mencoba tanpa henti jajaran baju di lemarinya. Aku sudah muak melihat Rani yang terus mengganti pakaiannya.


“Pakailah yang menurutmu bagus”, aku berlari keluar.


Dan malam itu, aku dan Rani menunggu Dafid di tempat kami berjanji untuk bertemu. Dan diluar perkiraan, dia datang lebih cepat dengan pakaian santai yang tanpak keren. Aku benar-benar muak dengan kesempurnaan yang dia miliki. Dia melambaikan tangannya padaku dan tersenyum kecil. Melihat Rani yang berpenampilan cantik membuat matanya terbelalak seakan terkejut, sungguh kisah cinta yang ingin membuatku muntah.


“Kenapa kau disini?”, Dafid bertanya pada Rani.


“ohhh, ku kira kita akan berdua!”, Dafid menatap Rani dengan serius.


Yayayaya, aku disini harus pergi, benar-benar pasangan yang kasar. Berani-beraninya bermain pandang ketika masih ada aku. “Oh maaf aku harus ketoilet!”, aku buru-buru kabur dari suasana yang menjengkelkan itu.


Aku melihat mereka dari jauh, benar-benar membuatku sebel dengan tatapan yang saling malu dan serius, mereka hanya berdiri tanpa bicara. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, mereka hanya saling pandang dengan serius. “maaf, aku tidak menemukan toilet, karena kebelet, aku harus pulang sekarang. Jadi nikmati kebersamaanmu dengan Rani dan semangat!! Semoga kencanmu berhasil”, aku mengirim sms yang panjang pada Dafid dan pulang dengan taxi.


Dafid tidak membalas smsku, mungkin mereka sedang bersemangat membuat kisah cinta yang indah. Hingga tengah malam aku menunggu mereka, namun mereka tidak muncul. Aku mulai resah atau kepo dengan apa yang mereka lakukan. Ada perasaan aneh di benakku tapi aku tak tahu apa itu. Rasanya perasaan ini menyiksaku.


Pagi itu aku terbangun di kursi kamar Dafid. Aku ingat semalam aku menunggu mereka hingga tertidur di kursi. Tapi Dafid belum muncul di sini. Apa dia tidak pulang semalam?, apa mereka menginap di hotel?, ahhhhhhhh apa hubungan itu tidak terlalu cepat?, aku mulai tidak tahan dengan pertanyaan dikepalaku hingga aku berlari menuju kamar Rani mencari Rani, tapi di kamarnya kosong, dan aku berlari ke dapur untuk bertanya pada Mama, tapi di ruang makan aku melihat Dafid sedang sarapan dan Rani sedang membantunya untuk mengambil keperluan Dafid. Aku rasa kencan mereka berjalan dengan baik.


“Kalian semalam tidak pulang?”, aku mendekati mereka.


“kami pulang, tapi agak malam”, bibir Rani sumringah.


“Dan kau?”, aku memanggil Dafid. Tapi dia tidak bicara dan hanya memandangku dengan kesal dan pergi meninggalkan sarapannya. “Dia kenapa?”, aku bertanya pada Rani. Rani hanya tersenyum sambil mengangkat pundaknya.


Dan benar, setelah hari itu, Dafid selalu menghindariku dan tak pernah berbicara padaku, ketika aku bertanya dia hanya menatapku dengan kesal. Aku benar-benar dibuat kesal olehnya.

__ADS_1


“Dafid aku ingin bicara denganmu”, aku menarik tangan Dafid ke dalam kamar untuk berbicara, dia hanya menatapku.


“aku sudah membantumu dengan Rani, dan sudah seminggu kalian berkencan dan sering berpergian berdua, tapi kenapa kau sangat kasar padaku?”, aku mulai bertanya.


Dafid hanya terdiam.


“ayolah,apa kesalahanku?”, aku memelas.


“apa pengaruhnya aku bicara dengan mu atau tidak?”, dia mulai membuka mulutnya. Aku diam dan mulai bingung untuk menjawab pertanyaannya itu. “karena tidak ada pengaruhnya, jadi lebih baik jangan bicara dan berhubungan agar dia tidak salah paham”.


“ahhhhh kau menjengkelkan”, aku menjahuinya, “bahkan dalam pertemanan yang biasa saja, jika mereka tidak saling menyapa itu mengganggu. Tapi jika itu yang kau fikirkan, aku akan menghormati keputusanmu”, aku melangkah pergi menjahuinya namun dia menarik tanganku.


“Sebenarnya, bagaimana perasaanmu melihat kami?”, dia mulai melantur.


“Aku ikut bahagia, karena kau akhirnya bisa membuka hatimu pada wanita”, aku asal bicara, wajahnya memerah dan genggaman tangannya semakin erat membuat pergelangan tanganku kesakitan, “apa yang kau lakukan?”, aku berteriak.


“Sebenarnya Rani menyuruhku menjahuimu dan tidak berhubungan denganmu lagi, jadi mari kita saling menjauh agar tidak ada kesalahpahaman lagi”, Dia melepaskan tanganku dan pergi, “dan kau pindahlah ke kamar tamu”.


Ahhhhhhhh ******** gila, ketika kau tidak membutuhkanku beraninya kalian membuangku. “Ya, sudahlah. Peluangku untuk pulang semakin besar. Mungkin tinggal 1 atau 2 mingu lagi’, aku pergi dan membereskan semua barangku untuk pindah kamar lagi.


………….


Dan kini sudah dua minggu, aku masih terjebak. Ketika aku mendekati Dafid untuk berbicara tentang perceraian, dia malah menghindariku. Melihat Dafid dan Rani yang semakin mesra membuatku iri dan ingin segera pergi untuk bertemu Rosi. Tapi sudah seminggu ini, Rosi tidak mengangkat telponku dan mengabaikan smsku.Aku mulai khawatir dengan keadaannya. Minggu ini aku harus pulang.


“Rani”,aku mendekati Rani yang sedang duduk sendiri di kamarnya.


“Ada apa?”, Rani tersenyum. Akhir-akhir ini dia semakin ramah dan sopan.


“Bisa kau bantu aku?”.


“Apa?”.


“Pertemukan aku dengan Dafid, dia jika bertemu denganku terus menghindar agar kau tidak salah paham”.


“apa yang ingin kau bicarakan?”.


“perceraian, aku ingin kami segera bercerai”.


Rani tersenyum bahagia, “Kalau begitu, aku akan mencari tahu kapan waktu yang tepat untuk bicara’.


“Secepatnya, kalau bisa nanti malam. Karena aku benar-benar harus cepat-cepat pergi dari sini!”. Rani hanya mengangguk mengerti.

__ADS_1


Aku pergi ke dalam kamarku. “sayang, aku akan pulang dalam minggu ini”, aku menulis sms pada Rosi. Masih belum ada jawaban. Aku mulai panic dan membuka FB ku dan mencari informasi tentang Rosi. Masih belum mendapatkan informasinya. Aku mulai menghubungi teman-temanku, namun mereka tidak tahu kabar Rosi. Jadi ku pikir dia tidak mengalami kecelakaan, tapi kenapa dia tidak membalas smsku?.


__ADS_2