
Di ruangan yanglebar ini, aku merasa tecekal. 6laki-laki berkacamata masih mengikutiku, orang-oran disekitarku hanya melihatterheran. “bagaimana aku bisa kabur dari keadaan ini”, gumamku dengan suara tangisan.
“Ada apa Put?”,bapakku datang dari arah luar, aku berlari memeluk bapak sambil menangis histeris. 6 laki-laki itu ikut berlari mengejarku, mereka menarik lenganku untuk menjahui bapak. “ada apa ini?”, bapak mencengkeram legangannya pada lenganku.
“maaf, nona ini harus kami awasi atas perintah pak Wawan”, jawab salah satu laki-laki itu.
“siapa yang berani mengawasi anakku?”, bentak bapak
“ini sudah distujui oleh bapak Jono”.
“Apa?”, papa berteriak, dia menarik tanganku mencari keberadaan paman. “dimana pamanmu sekarang?”dia bertanya dengan marah. Wajahnya penuh dengan kemurkaan, aku merasa dia sangat menghawatirkan aku. Aku
masih memiliki bapak yang akan membantuku. Dia tidak akan menjual putrinya. Aku sedikit lega dengan keberanian bapak.
Kami berjalan menuju ruangan sial itu lagi. Di dalam masih ada Pak Wawan dan paman sedang berdiskusi. Bapak melepaskan genggaman tangannya dan menyuruhku diam menunggunya di daun pintu, dia mendekati paman dengan penuh kemarahan. “apa yang kau lakukan pada Putri?”, bapak meminta penjelasan.
“tenang Bagio, saya sudah membicarakan kesepakatannya”. Paman menenangkan bapak.
“kesepakatan apa?”, papa menghela nafas dalam-dalam. “kesepakatan apa yang kau buat tanpa persetujuanku”.
“Tolong Tenang Bagio, dengarkan penjelasanku”.
“baiklah, kalian selesaikan permasalahn kalian, aku akan memberikan waktu sampai upacara pernikahan tiba”, tanpa merasa bersalah, dia laki-laki tua itu berdiri dari duduknya menyela pembicaraan paman dan bapak. “aku harap kalian dapat mengambil keputusan dengan bijak, dan ingat keselamatan keluargamu ada padanya”, pak Wawan tersenyum sambil menunjukku dengan muka tuanya. “aku menunggu kabar yang aku inginkan”, dia beranjak pergi melewatiku dan berhenti sejenak memandangku yang ketakutan, “kita akan jadi keluarga”. Dia tersenyum dan keluar ruangan, menghilang dari pandangan kosongku.
“Apa maksud semua ini”, Tanya bapak sambil mencengkeram kerah baju paman.
“tenang”, paman menenangkan bapak.
Bapak melepaskan cengkeramannya, “coba jelaskan?”.
Paman tiba-tiba bersujud di depan bapak, “tolong bantu kami”.
“bantu apa?”, bapak bingung.
“hanya kau yang bisa membantu keluargaku”.
“bantu apa?”, papa mulai meninggikan suaranya tidak sabar menunggu jawaban paman.
__ADS_1
“tolong ijinkan Putri mengganti posisi Nila”.
“apa? Kau bercanda”.
“aku mohon”, paman terus bersujud.
“Jono, apa kau begitu inginnya berbesan dengan keluarga kaya itu?”.
“Bukan seperti itu, ini menyangkut keluargaku”.
“bagaimana ini bisa menyangkut keluargamu, kegagalan pernikahan hanya mempermalukanmu tidak akan membunuh keluargamu”.
“Jika pernikahan ini gagal, pak Wawan akan membuat semua keluargaku di penjara seumur hidup”, paman menangis. “ini salahku, aku terlalu bahagia ketika mereka melamar Nila tanpa menyelidikinya lebih dulu”.
“bagaimana bisa kau akan dipenjara?”.
“jika hanya diriku saja, aku bisa menerimanya. Tapi istriku wanita lemah, dan Nila masih mudah. Aku tak bisa melihatnya di penjara”.
“bagaimana mungkin itu terjadi, kau jangan mengada-ada”. Bapak tak percaya.
“aku tidak berbohong, dia mampu melakukan hal yang lebih kejam dari itu”.
“tapi dia yang memegang hukum di sini, banyak sudah korbanya.”.
Bapak terdiam, dia merasa kasihan dengan keadaan paman. “berdirilah”. Bapak mendekatiku. “apa kau sudah mendengar penjelasan pamanmu”.
Aku hanya melihat paman yang masih terduduk lemas, ada perasaan kasihan, “bapak, mas Rosi akan kerumah selesai wisuda, dia berharap kami bisa menikah bulan april mendatang”. Aku tak boleh goyah dengan keadaan paman, tak mungkin aku menikahi laki-laki tua itu. “apakah bapak bisa menikahkanku dengan laki-laki seumuran bapak?”.
“kau salah paham Put”, Paman berdiri mendekatiku. “kau tidak akan menikahi pak Wawan, dia hanya meminta kamu menggantikan Nila menikahi Dafid anaknya”.
“Bagaimana Put, Dafid adalah anak yang dopan dan dia juga tampan”, bapak mengisyaratkan bahwa dia tidak masalah.
Tolong jangan memihak paman , akuberharap bapak tidak goyah. “tapi aku dan mas Rosi sudah 5 tahun bersama, aku hanya akan menikahinya”.
“tolong bantu paman hingga paman bisa menemukan Nila”.
“Apa maksudmu?”, bapak bingung
__ADS_1
“aku sudah membuat kesepakatan, jika aku menemukan Nila maka Putri bisa meninggalkan Dafid dan Nila akan menggantikan Putri”.
“Kau gila, pernikahan ini sakral, jangan bermain-main dengan pernikahan”, bapak tak setuju dengan kesepakatan.
“bagus bapak, jangan goyah dan jangan biarkan aku menikah”, bisikku pada diriku sendiri.
“aku tahu, tapi ini yang hanya bisa kulakukan untuk Nila dan Putri. Mereka sama-sama berharganya, dan aku tahu Putri memiliki orang yang dia cintai. Keluarga Wawan hanya ingin pernikahan terjadi”.
“kenapa? Bukannya dia keluarga yang kaya, banyak wanita yang mau menikah dengannya. Jadi kegagalan ini tidak akan mempengaruhi kehidupannya”, teriakku. aku menjadi kacau, bukannya benar, mereka keluarga yang berkuasa, kenapa melakukan ini pada keluarga kecilku. Atau ada yang mereka sembunyikan.
“ini sudah ke 6 kalinya”.
“apanya?”, bapak bertanya.
“sebelumnya dia sudah 5 kali gagal menikah, jika sekarang gagal maka akan menjadi ke 6 kali”, pamanku mnghela nafas “dia terkena kutukan”.
Bapakku tertawa “kau bercanda,kutukan? Hari ini masih ada kutukan?”.
“ya, rumor mengatakan bahwa dia mendapat kutukan akan ditinggalkan pengantin wanita di acara pernikahannya, karena itu jika kali ini gagal, rumor itu akan dianggap nyata”.
“ada yang salah pada keluarganya hingga terjadi 5 kegagalan, itu bukan karena kutukan tapi sesuatu lain”, jawabku.
“apa?”,Tanya bapak.
“mungkin mereka keluarga psikopat”, jawabku. Paman dan bapak saling memandang, mereka berfikir sejenak. “bagaimana jika aku nanti menjadi persembahan di kluarganya”, tambahku menakuti mereka.
“ayolah, tidak mungkin”, kata paman
“apa yang tidak mungkin, kata paman mereka bisa melakukan apapun”.
“tidak akan, mereka kejam pada musuhnya tapi tidak pernah menghianati janjinya. Pak wawan berjanji setelah pernikahan mereka akan membantu mencari Nila, jika Nila kembali maka keputusan ada padamu dan Dafid”, paman mendekap tanganku, “paman mohon bantu keluarga kami”.
Aku tak bisa menolaknya, dia paman yang banyak membantuku, membantu keluargaku. Tapi pernikahan ini terlalu berlebihan. Bagaimana jika aku menolak, apa yang akan terjadi pada bibi. Aku bingung, aku harap bapak membantu menolaknya.
“Put, aku tahu ini kehidupanmu dipertaruhkan, tapi bisakah kau membantu pamanmu itu, mungkin butuh waktu kurang 1 minggu semua akan berakhir”.bapak menyentuh rambutku.
Ahhhhhhhh ..................ada apa dengan scenario bapak. Aku mungkin salah mendengar, tapi dari raut wajahnya, bapak berharap aku membantu paman. “bagaimana?”, bapak menanyakannya padaku. Aku harus menolaknya. “dengan berat hati aku………………………..tidak bisa…………………..menolak”. batinku menjerit atas jawabanku. Bukan itu yang ada difikiranku, mengapa??? Mengapa??aku hanya diam. Aku rasa aku terhipnotisssssss, “mas Rosi Maaffff”, batinku sambil menangis.
__ADS_1
“maafkan paman, dan terima kasih”, pamanku memelukku.
“aku bangga padamu nak”, papa tersenyum tanpatahu luka hatiku.