Bajingan gila

Bajingan gila
Tea pembawa petaka


__ADS_3

“Kau harus pintar”, Paman tersenyum padaku, dia laki-laki berusia sekitar 50 tahunan, wajahnya penuh dengan garis-garis halus namun penampilannya masih mudah. Gaya bicaranya seperti laki-laki yang memiliki wawasan luas, dia benar-benar panutanku. Aku berharap ketika dewasa bisa seperti dia, menjadi orang yang sukses mendirikan perusahaan dari nol, tidak sombong dan selalu membantu keluargaku yang serba kekurangan. Keluarganya adalah keluarga yang baik, Bibi tidak pernah mempersalahkan paman yang selalu mencukupi kebutuhan keluargaku, dan dia tak pernah lupa mengirimkan uang sekolahku mulai sekolah dasar hingga biaya kuliahku . Dia seperti ibuku, hangat dan lembut, memperlakukanku seperti Nila anaknya sendiri. Dan Nila sepupuku


yang cantik, dia tak pernah keberatan atas perlakuan keluarganya padaku. “Mama, biarkan putri jadi adikku..hiks..hiks..”, setiap dia harus kembali ke kota, dia menangis memegang tanganku. Masa kecil kami yang indah.


“Aku mohon, tolong jangan lakukan ini!”, Aku terdiam, cangkir-cangkir Tea bergetar di tanganku. Aku terkejut, pamanku yang perkasa bersujud di bawah kaki laki-laki yang tadi, papa Dafid.


“Tolong keluargaku, jangan sakiti istri dan anakku”, paman terus memohon di kaki papa Dafid.


“Bagaimana aku menolong keluargamu yang membuat keluargaku malu”.


“aku tahu, tapi tolong jangan lakukan ini pada keluaga kami, ini bukan akhir bagi dafid, dia bisa mendapat banyak wanita di luar sana”. Paman menangis lirih.


“Ternyata kau tidak tahu rumor di luar tentang putraku!”,.


“Rumor??????”,


laki-laki itu menampis tubuh paman dengan kakinya, lalu dia berjalan mendekati kursi di samping paman yang sedang tersungkup. “Kutukan itu sudah menyebar, jika pernikahan ini gagal lagi,maka kutukan ini akan melekat seumur hidup pada anakku, ini akan membahayakan kehidupan penerusku dan seluruh perusahaanku. Bukannya


kau sudah tahu konsukuensinya jika kau membahayakan nama baik keluargaku?”.


“aku tidak mengerti apa yang anda katakana?”.


“Kau benar-benar tidak tahu apa-apa tapi kau dengan mudahnya menyetujui pernikahan ini”, papa dafid menghela nafas. “kau tahu apa yang terjadi pada keluarga Baskara, keluarga Firman dan keluarga lainnya yang kehilangan segalanya dalam semalam?”.


Paman hanya diam kebingungan. “seperti rumor yang ada, kau seorang laki-laki yang bekerja keras dan tak pernah tertarik pada rumor yang lain. Tapi sayang dalm semalam kalian sekeluarga hanya akan menjadi sampah”.

__ADS_1


“anda boleh mengambil segalanya, aku akan beri semuanya asal anda lepaskan keluargaku”, paman merengek.


“Tidak, aku tahu harta tidak bernilai di matamu, aku tak tertarik pada hal yang tak berharga buatmu. Jika pernikahan ini tidak terjadi, maka keluargamu harus dipenjara seumur hidup”.


Aku ternganga mendengarnya, itu tidak mungkin, pamanku tidak membunuh orang, kenapa harus dipenjara selama itu ingin aku berteriak didepan muka laki-laki tua itu. Kakiku gemetar, ada rasa takut yang menyayat tulang-tulangku. Aku tak bisa bicara, aku takut hanya menambah masalah paman, perasaan kesal menggerogotiku. Aku melangkah pelan, menyuguhkan tea di atas meja. Aku benar-benar tak bisa melihat mata paman, itu adalah keadaan terbuuruk paman yang tak ingin ditunjukkan pada keluarganya. Dan laki-laki tua itu berhenti berbicara melihat kedatanganku. Matanya terus memelototiku, ada perasaan tak nyaman tapi aku harus mengabaikannya. Laki-laki tua yang mesum itu benar-benar membuatku jijik melihat senyumnya yang menyeringai. Dia benar-benar


licik seperti ular.


“Siapa wanita muda ini?”, tanyanya


“Dia keponakanku”,pamanku berdiri dan menarik tanganku ke arahnya. “dia orang luar,dia tidak tahu apa-apa”.


“Kenapa kau tegang, aku tak mungkin melakukan hal yang tak senonoh padanya”


Tak senonoh? Pandanganmu itu mesum, bajingan tua! Batinku terus mengumpat. Tapi aku tetap terdiam. Aku


Dia memalingkan pandangannya ke arah pintu mengisyaratkanku untuk keluar pintu.


Aku hanya menunduk dan berjalan pelan ke luar.


"Tunggu....", Papa Dafid memanggilku.


aku tak tahu harus berhenti atau terus, ini menguji rasa ketakutanku. " aku mohon, biarkan dia keluar, dia tidak ada hubungannya dengan masalahku", paman menghentikan papa David yang mendekatiku.


"Tuan Jono, apakah keponakanmu sudah menikah?".

__ADS_1


pamanku menggelengkan kepalanya. "dia akan segera menikah, mereka hanya menunggu wisuda bulan depan", jawab paman.


"yang terpenting dia belum menikah", papa david tersenyum licik.


"Pak Wawan, hentikan !", bentak paman.


"jika dia mau, aku tidak akan mempermasalahkan masalah ini", Pak Wawan mendekati paman, "hanya dia yang bisa membantu keluargamu keluar dari masalah ini".


Paman terdiam, aku menoleh kearah paman, "tidak", aku menggelengkan kepala dengan suara lirih, berharap paman tidak menyetujuinya, tapi paman hanya diam dengan mata berair. aku tak bisa menggambarkan keadaannya, tapi aku yakin paman mulai goyah pada pendiriannya. dia akan menjualku pada laki-laki tua itu. ini menakutkan dan aku berlari keluar dengan ketakutan tapi laki-laki berkaca mata hitam yang berdiri di dekat pintu memegang tanganku.


"Tidak", aku berteriak tapi laki-laki itu dengan cepat membungkam mulutku.


"Karena kau hanya diam, aku akan menganggap itu suatu persetujuanmu", pak Wawan tersenyum mendekatiku. aku sangat ketakutan. "gadis yang cantik",


"baiklah, tapi mari kita buat perjanjian", pamanku mendekati pak Wawan. "sekarang lepaskan dian"minta paman.


"ok, lepaskan dia, tapi bawa 3 sampai 6 orang untuk menjaganya agar dia tidak bisa kabur", perintak Pak Wawan.


aku menangis terkejut dengan keputusan pamanku yang menjualku pada partnernya. "Kau tidak berhak membuat keputusan atas ku, kau bukan bapakku", teriakku sambil berlari menjahui paman. aku tahu kata-kata ini menyakiti hatinya, tapi dia telah melukaiku.


"baiklah mari kita buat kesepakatannya", ajak pak Wawan.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2