
Karin sampai di rumah, ia tidak pulang ke apartemen karena ingin menemui Alea.
"Alea..." panggil Karin begitu Sampai di rumah, dia mulai mencari Alea ke kamarnya namun tidak juga menemukan Alea.
" Bik... Alea ada dimana ya, dari tadi aku panggil gak ada??"
" Non Alea lagi gak di rumah, tadi pergi kira kira 2 jam yang lalu." jawab bibik
" Ya udah deh, makasih ya bik." Karin berniat ke kamar Alea, namun mendengar bunyi bel pintu dia kemudian menuju pintu tersebut.
" Surprise....... kak Karin aku kembali." suara Tiara melengking.
" Kenapa kamu bisa kesini, kamu kabur ya dari rumah nenek." tanya Karin.
" Kakak gak senang aku balik kesini ya."
" Ahh bukan itu maksud kakak, sudahlah ayo masuk."
Mereka pun masuk kedalam rumah.
" Bik tolong buatkan minuman untuk Tiara ya, antar kekamar nya sekalian." kata Karin kepada bi Imah, ya ni Imah adalah pembantu pengganti bi Sumi sejak 3 tahun yang lalu, karena bi Sumi sudah tua jadi ia pun memutuskan untuk pulang kampung.
Saat makan malam tiba keluarga tampak berkumpul di ruang makan, namun mereka belum tau jika Tiara datang, karena Karin juga lupa memberi tahu semuanya.
" Halo semua.." sapa Tiara
" Tiara..." kata nenek dan paman Cristian bersamaan.
" Kenapa kamu bisa kembali kemari." tanya Cristian.
" Ayah sudah memperbolehkan aku tinggal di sini, dan ayah juga menginginkan agar aku membantunya di kantor.
__ADS_1
" Dasar Juan licik, karena Karin tidak mau membantunya dia menyuruh Tiara untuk itu." kata Cristian dalam hati.
" Duduklah, ayo kita mulai makan." kata nenek tiba tiba
Mereka pun melanjutkan makannya dengan diam, hanya bunyi sendok saja yang terdengar sesekali.
Setelah selesai mereka pun berkumpul di ruang keluarga. Sekedar bertukar cerita atau menceritakan masalah bisnis.
" Alea, aku ingin minta maaf padamu tentang masalah dulu." kata Tiara tiba tiba.
Semua di ruang tamu memperhatikan Tiara.
" Aku sudah memaafkan mu, lagian itu sudah sangat lama." jawab Alea dengan senyum manisnya.
" Terimakasih Alea kau sudah memaafkan ku, aku tau dulu aku masih sangat kekanak-kanakan, aku juga tidak sadar atas apa yang aku lakukan." kata Tiara
" Sudah lah kita lupakan saja, jangan di bahas lagi, yang lalu biarlah berlalu." jelas Alea.
"Baiklah." jawab Tiara dengan senyuman nya, tanpa mereka tau jika di balik senyuman itu terdapat banyak kelicikan yang akan ia lakukan, ia tidak akan dengan mudah melupakan kejadian dulu.
##
Malam semakin larut semua penghuni rumah sudah kembali kekamar masing masing untuk beristirahat.Begitupun dengan Alea, dia berbaring di kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya, ia begitu tidak sabar untuk menentikan kejutan besok pagi yang ia siapkan untuk paman Johan.
Bunyi dering handphone menyadarkan dia dari lamunannya.
" Halo.."
"Semua yang kita perlukan sudah di siapkan." kata suara di telepon.
" Bagus aku ingin kabar baiknya besok."
__ADS_1
" oke.."
Telfon pun kemudian di matikan. Karena sudah mulai mengantuk Alea pun mulai memejamkan matanya.
Jam sudah menunjukkan jam 12 malam, Karin pun sudah terlelap dalam tidurnya, ia memutuskan untuk pulang ke apartemennya setelah makan malam keluarga karena ia malas jika orang tuanya bertanya macam macam tentangnya.
Bunyi handphone Karin terdengar nyaring, beberapa kali tidak terjawab namun tetap saja berbunyi kembali.
Karena kesal Karin pun memutuskan untuk mengangkatnya. Ia tidak melihat nama yang terpampang di layar handphone nya.
" Halo, siapa ini, apa anda tidak tau orang sedang istirahat, jika tidak ada yang penting aku akan mematikannya." kata Karin tanpa jeda.
" Maaf nona, ini dari bar xxx teman nona sedang mabuk berat, bisakah nona menjemputnya." kata suara di sebrang telepon.
" Kamu kira saya supir taksi main jemput orang, anda salah sambung." jawab Karin kesal.
" Tapi di sini tertera nama istri, bukankah nona istrinya?" tanya orang itu lagi.
" Kami ngaco ya, nikah aja belum, gimana udah jadi istri." karena kesal ia lalu mematikan telfonnya.
Namun baru ingin meletakkan handphone nya suara dering handphone kembali berbunyi.
Dengan kesal ia pun melihat layar handphone nya, tertera nama papan triplek, yang ia tau itu no bosnya.
Dengan terpaksa ia mengangkat telfonnya.
" Halo."
" Karin kamu sangat menyebalkan." terdengar suara seseorang dari sebrang melarang Revano untuk minum lagi.
" Nona saya mohon jemputlah tuan ini, dia sudah sangat banyak minum." kata seseorang yang Karin yakini adalah orang yang sama seperti penelepon sebelumnya.
__ADS_1
" Baiklah kirimkan alamat nya." kata Karin kemudian.
Karena terburu buru Karin tidak memperhatikan jika ia masih menggunakan baju tidurnya. Karena di dalam hati kecilnya ia menghawatirkan Revano.