
Setengah jam perjalanan akhirnya Barsh sampai di rumah Kalistha. Tanpa banyak pikir dia pun berlari masuk ke dalam rumah itu.
Kosong, tak ada siapapun di sana. Barsh melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Dia membuka pintu kamar berwarna pink itu kali ini matanya tak menemukan Kalistha. Hanya terlihat Syena yang masih terlelap.
Kembali dia menaiki anak tangga menuju lantai tiga ruang tempat Kalistha berkarya. Kali ini tangannya membuka pintu kayu itu.
Benar saja di sana terlihat Kalistha yang sedang meringkuk, menenggelamkan kepalanya di lutut. Barsh menghampiri gadis itu, sembari ikut berjongkok di hadapannya.
"Hei!" sapa Barsh pelan pada gadisnya yang saat itu menangis sesenggukan. Barsh mengusap kepala Kalistha lembut berharap dengan itu Kalistha bisa tenang dan menceritakan apa yang terjadi.
"Ada apa?" tanyanya pada Kalistha.
Tidak ada jawaban dari Kalistha dia hanya memberikan ponselnya.
Barsh meraih ponsel itu dari tangan Kalistha. Di sana dia melihat vidio itu. Vidio keji pembunuhan Jae Myung Cho yang dibakar hidup-hidup.
Barsh menarik tubuh Kalistha ke arahnya merengkuhnya, gadis itu semakin menangis. Dia hancur rasanya. Jae itu baik, mengapa harus berakhir setragis itu nasibnya?
"Apa aku pernah berbuat salah pada orang lain? Kenapa saudaraku dibunuh dengan keji?" tanya Kalistha.
Barsh memejamkan kedua matanya. Robekan di kepalanya itu semakin sakit saja saat ini. Darah segar itu jatuh mengenai kepala Kalistha.
Kalistha merasa kepalanya basah, tangannya mulai meraba kepalanya sendiri. Dia terkejut melihat darah melumuri kepalanya.
Kalistha lantas menjauhkan dirinya dari Barsh. Matanya membulat melihat pemuda itu babak belur, terluka parah.
Sambi memegang kedua bahu kekasihnya selagi kedua matanya memperhatikan keadaan Barsh. Kalistha pun bertanya,
"Kau kenapa?" tanya Kalistha khawatir.
"Ayo kita ke dokter sekarang!" ucap Kalistha lagi. Dia berdiri berinisiatif memanggil ambulance. Tapi lengannya ditahan oleh Barsh.
Kalistha menoleh ke arah pemudanya yang menyipitkan mata menahan perih akibat lukanya.
"Aku membutuhkanmu bukan dokter, tetaplah di sini!" ucap Barsh.
"Tapi itu pendarahan yang cukup parah, Sayang!" ujar Kalistha padanya.
Barsh semakin mempererat genggaman tangannya. Dia tidak ingin Kalistha pergi. Dan dia hanya membutuhkan Kalistha di sini bukan siapapun.
"Tidak, kau sudah lebih dari cukup!" ujar Barsh padanya.
Kalistha pasrah mendengar hal itu. Dengan hati-hati dia membantu Barsh berdiri. Kalistha menuntun Barsh untuk turun kembali ke lantai dua. Kalistha membawa Barsh masuk ke dalam kamar Jae.
Kalistha membawa P3K ke kamar Jae. Tangannya mulai mengobati luka yang menganga pada kepala Barsh dengan sabar.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Kalistha sembari mengobati luka Barsh.
Barsh diam menatap gadis itu. Dia bingung akan bercerita dari mana. Tressya terlalu berbahaya. Barsh takut nantinya jika diceritakan itu akan membuat Kalistha takut.
Kalistha melirik kecil Barsh yang diam. Tangannya masih aktif mengobati luka itu. Kalistha tau ada sesuatu yang Barsh sembunyikan darinya.
"Apa aku tidak berhak menerima jawaban?" tanya Kalistha lagi. Kali ini Kalistha hampir selesai mengobati luka Barsh.
__ADS_1
Usai perban itu dililitkan di kepalanya. Barsh meraih tangan kecil itu meletakkan telapak tangan hangat itu di pipinya. Kaliatha memperhatikan itu.
"Siapa yang membuatmu seperti ini?" tanya Kalistha lagi. Barsh mengangguk, dia harus bercerita pada Kalistha.
"Ada mafia dari Amerika yang membuntutiku kemari!" ucap Barsh yang membuat Kalistha membulatkan matanya.
"Mafia?" tanya Kalistha tak percaya, Barsh mengangguk.
"Ceritakan?" ucap Kalistha padanya.
"Tressya sangat mencintaiku dia teman baikku dulu. Aku dekat dengan seorang gadi di sana. Waktu aku masih menetap di Seoul. Ada gadis yang dekat denganku, dia gadis yang baik membantuku dalam berbagai hal. Dari situ Tressya cemburu padanya, aku tidak habis pikir cemburunya bahkan tega mencelakai gadis itu!" jelas Barsh kembali mengingat memori pahit dulu.
Barsh sejenak berhenti bercerita. Itu membuat Kalistha penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
"Apa yang terjadi pada gadis itu?" tanya Kalistha padanya.
Pertanyaan itu membuat Barsh tersenyum tipis. Itu adalah memori menyedihkan. Tapi Barsh harus memberitahu Kalistha.
"Tressya, dia mengikatnya di aula tak terpakai. Pagi itu, gadis itu ditemukan tak sadarkan diri disana bersama dengan Tressya yang memegang pemukul baseball. Aku tidak mencintainya Kalistha, dia memaksakan hatinya untukku. Bagaimana suatu keterpaksaan bisa menciptakan cinta? Tidak ada, dan tidak mungkin, bukan?" ujar Barsh menjelaskan segalanya. Dia tersiksa sungguh. Gadis itu terlalu gila.
Kalistha mengangguk dia faham perasaan Barsh. Kemudian Barsh kembali menceritakan lagi segalanya.
"Hari itu aku mulai mencari tahu latar belakang keluarga Tressya. Dan benar saja tangannya begitu ringan melakukan tindakan itu. Dia dibesarkan oleh keluarga Mafia. Yang kakaknya sendiri Vince adalah satuan paling baik di antara Mafia itu. Keluar masuk penjara bagaikan rumah!" jelas Barsh.
Kedua matanya yang sayu itu menatap lekat Kalisthanya.
"Lalu, hari ini apa yang sedang dia incar di sini?" tanya Kalistha padanya.
Mendengar pertanyaan itu Barsh dia tak menjawab pertanyaan itu. Barsh tau kali ini target yang sedang diincar oleh Tressya adalah gadis di hadapannya ini.
"Mereka mencariku ya?" tanya Kalistha padanya.
Barsh terkejut mendengar itu. Gadisnya itu peka rupanya. Tapi dia berusaha menutupinya. Barsh menggeleng pelan dia tidak ingin Kalisthanya terpuruk.
"Tidak!" jawab Barsh pada Kalistha menenangkan.
"Jika hari ini aku tidak di kehidupanmu kau tidak akan terluka dan Jae juga tidak akan tewas!" ujar Kalistha menunduk setelah mengucapkan itu.
Tokkk Tokkk Tokkk
Suara ketukan pintu itu menunda percakapan berikutnya yang akan terjadi antara Barsh dan Kalistha.
Kalistha mengalihkan netranya ke arah pintu yang diketuk. Dia beralih berdiri lalu berjalan ke arah pintu, membukanya. Terlihat Arteta sedang berdiri di sana.
"Hei, maaf aku mengganggu kemesraan kalian. Manusia itu bilang ingin menemuiku boleh bicara sebentar dengannya, Kalistha?" tanya Arteta sambil menunjuk ke arah Barsh.
Kalistha mengernyitkan keningnya. Sejak kapan dua orang ini akur?
"Ada apa?" tanya Kalistha curiga padanya. Arteta tersenyum kecil.
"Kupinjam sebentar manusia itu untuk meeting!" jawab Arteta pada Kalistha.
"Hah?" lirih Kalistha masih tidak mengerti maksud sahabatnya. Arteta tertawa melihat ekspresi Kalistha yang konyol menurutnya.
"Tenanglah, Barshmu tidak akan kumadu. Aku haus, bisa kau buatkan minuman?" ujar Arteta lalu masuk ke dalam kamar itu.
__ADS_1
Mendengar itu Kalistha mendengus kesal. Memang dia sedang berduka. Tapi Arteta adalah tamu yang harus dijamu. Kalistha pun pergi ke dapur mencari jamuan yang pantas untuk diberikan pada Arteta.
Ketika dalam ruangan itu hanya tinggal mereka berdua. Arteta menatap serius ke arah Barsh kali ini. Dia memperhatikan dengan teliti mulai dari wajah yang banyak belur sampai kepala yang diperban.
"Kalah perang ya? Benar-benar lemah kau ini!" ledek Arteta pada Barsh.
Barsh kesal mendengar itu. Memang sebelum kemari ia menghubungi Arteta untuk mengecek kondisi Kalistha. Rupanya, Arteta terlambat dan dirinya yang lebih dulu datang.
"Kau sungguh tidak bisa diandalkan!" ucap Barsh padanya. Arteta menarik kursi di sampingnya, lalu duduk.
"Jadi, Mafia ya? Vince dan Tressya?" tanya Arteta, Barsh terkejut mendengar itu.
Pasalnya, dia tak pernah membicarakan mengenai masalahnya dengan gadis Belanda ini. Arteta tersenyum melihat ekspresi Barsh yang bingung.
"Kenapa raut wajahmu mendadak menjijikan?" tanya Arteta pada Barsh. Itu membuat Barsh menggeleng.
"Dari mana kau tau?" tanya Barsh padanya. Arteta membuang nafasnya kasar.
"Vince dan Tressya, Mafia yang jadi buronan Amerika? Ayahku sedang bertugas di negara itu. Dia seorang Detektif. Aku pun di sini bukan hanya sekedar bersekolah tetapi juga misi!" ucap Arteta mejelaskan.
Barsh tersenyum tipis mendengar itu. Hatinya sedikit lega bahwa Kalisthanya memiliki kawan yang cukup penting perannya. Di sini Barsh mulai merasa bahwa posisi Kalistha sudah cukup aman.
"Dia kemari karenamu dan dia kemari membunuh Jae Myung karena Kalistha yang dekat denganmu? Jadi, targetnya selanjutnya adalah Kalistha?" tanya Arteta.
Barsh mengangguk mendengar itu. Apa yang Arteta katakan itu benar sekali.
"Kau tenang saja mereka ini milikku!" ujar Arteta. Dia mencoba meyakinkan Barsh bahwa semua akan baik-baik saja.
"Terima kasih ya, Arteta!" ucap Barsh. Arteta mengangguk mendengar ucapan itu.
Tak lama terlihat Kalistha masuk membawa dua gelas coklat hangat dia menghampiri Arteta dan menawarkannya.
"Wah terima kasih!" ucap Arteta dengan senang hati mengambil gelas itu. Kalistha mengangguk mendengarnya.
Kalistha mengambil duduk di sisi ranjang Barsh. Dia menatap ke arah Arteta yang menikmati minumannya.
"Jadi apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Kalistha. Arteta menyeruput segelas coklat hangat itu dengan santai kemudian dia berkata,
"Kami bicara perihal masa depanmu dengannya!" ucap Arteta seraya menunjuk Barsh. Kalista heran mendengarnya.
"Sudah seperti Ibuku saja kau ini, membicarakan masa depanku?" ujar Kalistha.
Arteta tertawa mendengar itu ia menaruh gelasnya di meja sampingnya dan berdiri.
"Sudahlah tenanglah! Selagi Arteta ada semua akan baik-baik saja!" ujar Barsh pada Kalistha.
Arteta mengangguk mendengar itu.
"Ya memang harus begitu lisanmu itu harus banyak-banyak membanggakan aku Barsh. Sebab Arteta lebih cerdas darimu!" Ujar Arteta kali ini.
Arteta merasa besar kepalanya mendengar ucapan Barsh. Barsh hanya mendengus kesal. Dia tidak ingin Kalistha tau bahwa target sebenarnya atas tujuan Vince dan Tressya adalah Kalistha. Mereka berdua mengincar Kalistha.
"Aku pergi dulu ya!" ucap Arteta berdiri. Barsh dan Kalistha pun mengangguk mendengar itu.
Arteta beranjak pergi dari sana setelah menghabiskan segelas coklat hangat.
__ADS_1