Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)

Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)
Bab 11: Jangan Tinggalkan Aku Kalistha


__ADS_3

Tinggallah mereka berdua saat ini. Kalistha menatap serius kedua mata Barsh. Sebenarnya sedari tadi, dirinya berada di balik pintu menguping seluruh percakapan Barsh dan Arteta.


Karena tak ingin diintrogasi oleh gadisnya Barsh pun mengambil gelas coklat yang ada di tangan Kalistha.


"Wah, sepertinya ini lezat!" ucap Barsh, seraya meneguk coklat hangat itu.


"Jadi, aku ini biangnya ya?" taya Kalistha pada Barsh.


Hal itu membuat Barsh melirik Kalistha. Ditemukannya di sana wajah yang kecewa. Satu wajah yang mengisyaratkan bahwa dia bersalah.


"Jika hadirku disini membawa petaka aku mundur saja ya?" lirih Kalistha.


Barsh meletakkan gelasnya di atas meja sampingnya lalu menatap lembut Kalistha.


"Kenapa? Mundurmu adalah kemenangan untuk mereka dan kekalahan untukmu. Dan ya, Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Jika hatiku memilihmu, maka untuk membaginya pada yang lain itu aku mungkin!" jelas Barsh lembut sekali tutur katanya ketika menyampaikan itu pada Kalistha. Kalistha tersenyum pedih mendengar itu.


"Jika memilikimu itu menyakitimu bukankah aku harus mundur dan melepas? Jika Cintamu itu petaka, bukankah kita harus berkorban?" tanya Kalistha pada Barsh.

__ADS_1


"Lalu kau biarkan aku hidup tanpa dirimu? Lalu rindu itu akan mencekikku hingga mati?" tanya Barsh balik padanya.


Cukup, Kalistha muak rasanya. Dia memang tidak sampai hati berpisah dengan Barsh sekarang. Dia tidak ingin. Tapi ada banyak orang yang akan terluka jika cinta mereka diteruskan.


"Pergilah, kita jalani hidup kita masing masing sendiri mulai saat ini!" ujar Kalistha menunduk setelah mengucapkan itu.


Barsh meraih tangan gadis itu. Menciumi punggung tangannya lembut.


"Kalistha, tidak kah kau tau menjauh dari sebuah cinta adalah bunuh diri?" tanya Barsh padanya.


Namun kali ini Kalistha benar-benar bulat dengan tekadnya. Dirinya tak ingin Barsh terluka terlalu parah hanya untuk melindunginya.


"Siapa di sini yang akan pergi duluan? Aku atau kau?" tanya Kalistha pada Barsh menatapnya serius kali ini.


"Kau ini bicara apa?" tanya Barsh padanya. Kalistha menarik tangannya yang sedang Barsh genggam. Dia frustasi rasanya sungguh.


"Mungkin kematian itu pilihannya karena dengan tiadanya Aku. Kau tidak akan pernah melihatku lagi!" ujar Kalistha lalu berdiri kali ini meninggalkan Barsh sendiri.

__ADS_1


Sepertinya mentalnya sungguh terpukul sebab baru saja dia kehilangan Jae Myung Cho saudaranya. Dan mengerti fakta bahwa dirinya adalah petaka sesungguhnya bagi orang terdekatnya.


Barsh mengikuti perginya Kalistha. Mereka berjalan naik ke lantai empat rumah Jae Myung. Kalistha menghampiri salah satu jendela di sana lalu membukanya.


Tindakan itu justru membuat Barsh terkejut dia mempercepat langkahnya. Tiba ketika Kalistha akan menjatuhkan dirinya. Barsh lebih dulu memeganginya menariknya dengan cepat lalu memeluknya.


"Sadarlah!" pekik Barsh sedangkan Kalistha dalam pelukannya berusaha melepaskan diri sambil menangis.


"Sadarlah, kau masih memiliki seseorang yang harus kau jaga! Seseorang yang bergantung padamu! Seseorang yang begitu menganggapmu berarti, kali ini bukan hanya aku saja tapi Syena!" jelas Barsh padanya.


Ketika nama Syena disebut. Hati Kalistha tersentuh mendengar itu.


"Barshmu ini memintamu untuk tetap berada di sisiku dan Syenamu memintamu untuk tetap tinggal. Biar masalah yang saat ini sedang menyerang kita berdua, kita selesaikan bersama. Jangan pernah ada yang mundur karena mundur adalah suatu kemenangan untuk mereka. Tolong, tetaplah di sini! Jangan lakukan hal bodoh itu lagi!" ujar Barsh lagi padanya.


Kalista terisak mendengar penuturan itu, seperti menamparnya. Kalista membalas pelukan itu kali ini. Menumpahkan seluruh tangis dan pedihnya di sana.


Di lain tempat, terlihat gadis bule yang sedang memperhatikan adegan itu dari balik kaca mobil. Sembari memakan kripiknya dia tersenyum sinis.

__ADS_1


"Indah sekali! Cukup mudah menghancurkan mentalnya dan membuatnya takut haha!" ucapnya sembari tersenyum sinis.


Dia adalah Tressya, yang berada di sekitar rumah Kalistha. Sedaritadi dia memperhatikan aksi Kalistha yang hendak lompat dari lantai empat itu.


__ADS_2