Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)

Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)
Bab 21: Kalistha Siuman


__ADS_3

Terlihat seorang gadis masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit sudah seminggu lamanya. Mungkin hari itu adalah kali pertama dia merasakan sakit yang cukup parah hingga matanya lelah kembali terbuka.


Cahaya matahari mulai menembus masuk melalui sela jendela. Cahaya itu sampai menyinari paras cantiknya.


Rambutnya yang terurai itu membuatnya seperti bak putri tidur yang anggun menawan tidak taranya.


Seorang gadis Belanda bernama Arteta memperhatikan gadis itu. Dalam hatinya ada sedikit perasaan menyesal sebab gagal melindunginya.


Karena kelalaiannya kini Kalistha berada di rumah sakit. Sekalipun dirinya bertekad menjaganya beserta adiknya tapi tetap saja petaka tidak bisa diterka.


Dari ambang pintu terlihat Alexo masuk. Dia menghampiri Arteta, ia menepuk pelan gadis yang sedang termenung itu.


"Kau merenungi sesuatu yang sudah terjadi? Ketahuilah, itu bukan salahmu. Memang sudah takdirnya begitu. Lagi pula, mereka berdua masih sempat diselamatkan. Sekalipun kondisinya buruk, tetap saja nyawa mereka masih selamat!" ujar Alexo menenangkan.


Arteta diam mendengar hal itu.


"Memang benar itu! Tapi, tetap saja sebagai seorang detektif aku mengecewakan Ayahku!" ujar Arteta dia masih merutuki dirinya sendiri hingga kini. Alexo menggeleng kecil.


"Kau sudah banyak menyelesaikan banyak hal dengan baik!" ujar Alexo lagi dia tidak mampu melihat Arteta terpuruk seperti ini. Arteta membuang nafasnya kasar.


"Astaga, saudara macam apa aku ini!" ucap Arteta merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


Alexo memperhatikan tingkah Arteta yang langka itu selama menjadi rekannya ia tidak pernah melihat Arteta se.enyesal itu.


"Jika kau merutuki dirimu sendiri tidak akan ada apapun yang berubah. Kasus kita masih belum selesai. Meskipun mereka sudah tertangkap kita berdua harus mengumpulkan banyak bukti agar dua manusia itu dijatuhi hukuman berat!" jelas Alexo padanya.


"Benar sekali itu!" ucap Arteta semangat.


Alexo tersenyum melihat hal itu. Sepertinya dia berhasil mengembalikan semangat Arteta di sini.


"Jadi kita harus kuat!" ucap Alexo seraya menepuk pelan bahu Arteta, sambil matanya menatap sendu Kalistha.


Arteta melirik pemuda yang berdiri di sampingnya itu. Baru saja dia bicara tentang kita pada seorang Arteta, itu hal yang memalukan sekali bagi Arteta.


"Jerapah, barusan kau ikat aku dan kau sebagai kita? Sejak kapan? Aku kuat tanpamu tenang saja, jadi jangan ucapkan hal menjijikan itu lagi di depanku!" ujar Arteta sombong.


"Dasar gadis gila!" umpat Alexo kesal padanya.


Namun Arteta tidak marah. Dia malah berseringai dan berkata,


"Dasar Jerapah gila! Segila-gila nya seorang Arteta, IQmu tidak mampu mengalahkan otaknya!" Uuar Arteta membanggakan dirinya. Mereka terus beradu mulut kala itu.


Hingga sebuah suara kecil menghentikan adu argumen mereka.

__ADS_1


"Arteta?" lirih suara itu.


Baik Arteta ataupun Alexo terkejut. Mereka berdua yang berdebar itu sejenak saling tatap. Lalu mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara.


Keduanya menoleh ke arah sumber suara itu. Suara itu dari Kalistha dia siuman setelah seminggu lamanya pulas tertidur.


Arteta menghampiri gadis yang baru saja bangun dari tidur panjangnya itu, begitupun Alexo. Mereka berdiri di sisi kiri Kalistha.


"Hei!" sapa Arteta. Samar Kalistha mematri wajah Arteta yang ada di hadapannya lalu tersenyum lemah menanggapinya.


"Aku panggilkan dokter ya?" tanya Alexo, Arteta menahan pergelangan tangannya. Itu tentu membuat Alexo berhenti.


Arteta memperhatikan sejenak, ada sesuatu yang ingin gadis itu sampaikan sepertinya.


"Barsh bagaimana?" tanya Kalistha padanya. Benar sekali dugaannya kali ini. Gadis itu pasti menanyakan keadaan kekasihnya.


"Dia baik-baik saja perlukah kupanggil dokter untuk memeriksamu sebentar?" tanya Alexo pada Kalistha. Kalistha menggeleng pelan menanggapi itu.


"Mungkin memang masih lemah tapi aku masih bisa menemuinya!" ujar Kalistha lirih dan dia ingin bertemu Barsh.


Arteta membuang pelan nafasnya dia faham sifat Kalistha di hadapannya itu. Keras kepala, walaupun feminim dan baik.

__ADS_1


Arteta mengangguk pelan menyuruh Alexo mengambil kursi roda untuk Kalistha. Beberapa menit setelahnya, kursi roda itupun datang.


Arteta dan Alexo membantu Kalistha duduk di kursinya setelahnya Arteta mulai mendorong kursi itu menuju ruang rawat Barsh.


__ADS_2