Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)

Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)
Bab 14: Perjalanan yang akan cukup sulit


__ADS_3

Arteta sedang membaca beberapa berkas di kantornya. Matanya begitu serius membaca seluruh kertas itu.


Entah sudah berapa jam? Dia menutup berkas itu sejenak, membuang nafasnya kasar.


"Masalahnya semakin runyam saja. Manusia keji seperti mereka lebih pantas di neraka daripada jeruji!" ujarnya pelan sambil menutup matanya.


Arteta sedang membaca catatan kejahatan apa saja yang di miliki Vince dan Tressya. Berkas itu penuh dengan nama puluhan korban tak bersalah yang mereka habisi.


Perburuan yang sudah berlangsung tiga tahun itu entah bagaimana Arteta akan menyelesaikannya. Tapi, binatang buas tidak boleh lama berkeliran di pusat kota.


Karena Vince dan Tressya menyimpan petaka untuk dihadiahkan pada siapapun yang menghalangi jalannya, tidak memandang bulu.


Seorang pemuda masuk dengan membawa dua gelas minuman hangat. Ia menghampiri Arteta, meletakkan satu minumannya di samping Arteta.


"Ya kadang aku pun juga sangat heran. Mengapa ada manusia seperti itu di belahan bumi ini, seharusnya mereka musnah saja ya?" ujar pemuda itu, Arteta membuka matanya beralih ke arah pemuda itu. Dia adalah Alexo, rekannya.


"Tapi, jika manusia seperti mereka musnah kita bakalan jadi pengangguran!" ucap Arteta berpikir jikalau para pencipta kejahatan diberantas habis di bumi ini.


Arteta menyeruput minuman hangat yang ada di sampingnya. Alexo sedikit kesal dengan jawaban rekannya yang asal itu.


"Kau ini manusia aneh! Baru saja kau meminta mereka musnah lalu kau ralat kembali?" tanya Alexo padanya. Itu membuat Arteta mengangguk mendengarnya.


"Kau yang meminta mereka musnah kirim saja mereka di jaman batu. Mungkin meteor bisa memusnahkan mereka!" ujar Arteta pada Alexo.


Jawaban gamblang dari si jenius Arteta ini kembali mengingatkan Alexo bahwa semalam gadis ini diberitahukan meneguk banyak sekali cairan bir.


"Sepertinya ini efek bir semalam hinga khayalan seorang Arteta semakin luas!" ujar Alexo padanya.


"Kadang kita perlu berkhayal untuk menghibur diri kita. Dari dunia yang tak terbentuk sesuai keinginan kita. Jadi hidup dalam khayalan sejenak tidak masalah!" ucap Arteta menjawab apa yang Alexo katakan.


Alexo membuang nafasnya kasar. Memang dibandingkan dirinya Arteta lebih cerdas dan baik dalam berdebat.


Arteta sedikit mengingat kembali ucapan Vince terakhir kalinya. Dia pun menemukan sesuatu di sana.


"Jerapah!" ucap Areta tiba-tiba.


"Huh!" pekik Alexo terkejut. Alexo menaikkan satu alisnya mendengar itu. Sambil kedua matanya menatap ke arah Arteta.


"Berapa kali manusia keji itu tertangkap?" tanya Arteta padanya. Alexo sedikit berfikir kali ini.


"Sepertinya sekitar lima kali tapi ketika akan di eksekusi dia selalu berhasil kabur!" jawab Alexo pada Arteta. Arteta kembali berfikir kali ini.


"Berarti anak buahnya ini selalu mengikutinya dan sangat setia untuknya. Berapa banyak jumlah mereka kira-kira?" tanya Arteta lagi pada Alexo.


"Waktu aku membaca berkas ayahmu terakhir geng mafia ini memiliki sekitar tujuh ribu orang. Tapi sudah banyak yang tertangkap juga mungkin jika dinalar kali ini hanya tersisa sekitar tiga ribu orang pengikutnya!" ucap Alexo memaparkan apa yang dia tahu perihal mafia itu.


Arteta mengangguk mendengar itu. Logikanya bekerja sekarang.

__ADS_1


"Tapi tidak mungkin tiga ribu orang itu ada di satu negara ini, kan? Vince pasti hanya membawa beberapa kemari. Mungkin jumlahnya tidak lebih dari seratus orang!" tebak Arteta. Rasanya rumus matematika saat ini sedang memenuhi kepalanya. Alexo heran dengan perkiraan itu.


"Bagaimana mungkin?" tanya Alexo pada Arteta


Dia masih belum paham.


"Karena tidak mungkin untuk menghabisi dua orang saja mereka melibatkan tiga ribu orang sekaligus. Tiap anggota juga ada tugas masing-masing bukan? Ditambah ini masalah pribadi adik Vince. Menurutku itu tidak mungkin jika tiga ribu orang berada di sini saat ini!" ujar Arteta lagi.


Kepalanya yang cerdas seketika membuat Alexo mengangguk mendengar hal itu. Arteta memperhatikan jam di tangannya.


"Aku pergi ya, ada yang harus diselesaikan!" ucap Arteta mengambil tasnya lalu bergegas pergi dari sana. Alexo mengangguk mendengar hal itu.


________


Di tempat lain Barsh sedang berjalan santai di alun-alun kota. Seorang gadis kecil berada di atasnya.


Itu adalah Syena, adik Kalistha yang sedang di gendongnya. Barsh sedang mengajaknya jalan-jalan karena Kalistha sedang sibuk dengan pamerannya. Malam nanti keduanya akan bertemu untuk makan malam.


"Wah boneka di mesin itu lucu boleh kita kesana?" tanya Syena sumingrah ketika melihat mesin penuh dengan boneka itu.


Barsh memperhatikan mesin itu dari kejauhan lalu tersenyum.


"Wah putri kecil ini maniak boneka rupanya? Katakan, aku atau kau yang akan bermain Syena?" tanya Barsh pada Syena di atasnya. Syena tertawa mendengar itu.


"Kakak besar lebih hebat daripadaku!" ujar Syena padanya. Barsh tertawa mendengar itu.


Barsh mendekati mesin itu membeli beberapa koin pada seseorang yang menjaga mesin itu. Satu persatu koin itu ia gunakan sudah habis tiga koin.


Namun boneka tetap tidak bisa ia dapatkan. Syena mengembungkan pipinya sepertinya dia sedikit kesal atas kegagalan Barsh yang berulangkali kali ini.


Barsh frustasi rasanya. Dia yang kesal mengacak acak rambutnya sendiri. Dia melihat satu koin di tangannya itu sambil berharap semoga kali ini ia mendapatkannya.


Barsh mencoba memasukkan koin terakhirnya kembali. Ketika koin itu masuk mendadak seorang gadis menggeser dirinya dari depan mesin itu.


Barsh terkejut melihat itu. Dia semakin kesal ketika mengetahui bahwa gadis itu adalah Arteta.


"Manusia payah ini mana mungkin sanggup mengambil satu boneka ini. Kau berharap pada manusia payah Syena!" ucap Arteta sesumbar seraya menggerakkan tombol di mesin itu.


Capit itu mendekati salah satu boneka di sana. Syena tersenyum senang melihat boneka beruang yang ia inginkan terangkat.


Barsh kesal melihat ulah Areta kali ini. Mesin itu berbunyi sambil di atas layarnya tertera kata win. Kali ini Arteta mendapatkan tepuk tangan dari Syena.


Dari bawah Arteta mengambil boneka itu menyerahkannya pada Syena. Anak itu terlihat senang sekali menerima boneka itu.


"Lain kali andalkan kakak Arteta saja. Barsh ini tidak bisa apa-apa!" ucap Arteta pada Syena. Gadis kecil itu mengangguk mendengar itu.


"Yaa, memang kau lebih hebat dariku!" ujar Barsh menyanjung Arteta. Arteta tertawa mendengar ucapan pasrah dari Barsh untuknya. Tak lama Arteta mencari keberadaan Kalistha.

__ADS_1


"Kemana Kalistha?" tanya Areta pada Barsh. Barsh menaikkan alisnya sambil menatap Arteta.


"Sebentar lagi sampai, dia sedang membeli minuman di minimarket itu!" ujar Barsh padanya. Mendengar itu Arteta pun mengangguk kecil.


"Kemana kau setelah ini?" tanya Arteta pada Barsh.


"Aku akan mengajaknya jalan mungkin!" jawab Barsh pada Arteta.


Jawaban itu kembali membuat Arteta mengangguk. Sekilas Arteta teringat sesuatu perihal Syena. Dia bersimpuh di hadapan Syena kali ini.


"Bagaimana kakimu? Apakah sudah tidak sakit lagi?" tanya Arteta pada Syena.


"Sedikit, tapi tidak separah kemarin!" jawab Syena pada Arteta. Yang membuat Arteta menunjukkan  kedua jempolnya di hadapan Syena sambil tersenyum.


"Wah itu artinya kau akan sembuh Syena. Hari ini dokter ingin bertemu lagi. Katanya ada banyak hadiah setelahmu berobat. Kau mau?" tanya Arteta pada Syena. Gadis kecil itu menatap Arteta dengan tatapan senang kali ini.


Kemudian dia pun mengangguk cepat. Barsh memperhatikan kedekatan mereka berdua dirinya cukup senang melihat hal itu. Hatinya lega, ternyata di sekeliling Kalistha masih ada orang-orang baik.


"Gadis baik kita tunggu kakakmu sebentar ya!" ucap Arteta, seraya mengusap lembut kepala Syena.


Terlihat, tak jauh dari tempat mereka. Kalistha keluar sambil membawa belanjaannya. Dari kejauhan, ia teesenyum melihat kehadiran Arteta di sana.


Arteta melambaikan tangannya, seraya menyapanya begitupun sebaliknya. Kalistha berjalan menghampiri mereka.


"Sungguh harmonis sekali keluarga kecil ini ya?" ucap Arteta ketika Kalistha sampai tepat di samping  Barsh.


Kalistha bersemu mendengar itu. Berbeda dengan Barsh yang malah berseringai sambil menatap Arteta.


"Yaa semoga saja doakan!" jawab Barsh.


Kalistha mulai penasaran akan datangnya Arteta kemari. Dia pun bertanya,


"Ada apa, Teta? Kenapa pagi sekali kau menemuiku?" tanya Kalistha. Arteta tersenyum mendengar itu.


"Dokter ingin bertemu Syena. Sepertinya ada berita baik setelah ini? Boleh kubawa dia sekarang?" tanya Arteta padanya.


Mendengar kabar itu, hatinya gembira. Kalistha mengangguk menanggapi permintaan Arteta itu. Dia menyetujui bahwa Syena akan ikut bersama Arteta.


"Boleh!" jawab Kalistha. Mendengar itu Arteta pun beralih ke arah Syena.


"Adik kecil mari kita bertemu hadiahmu!" ujar Arteta tepat di hadapan Syena.


Syena mengangguk mendengar ucapan Arteta. Dia bahagia dan dia tidak sabar melihat hadiah miliknya.


"Hati-hati ya!" ucap Kalistha pada Arteta ketika keduanya mulai pergi menjauh darinya.


"Ya, tenang saja!" ujar Arteta seraya membantu Syena berjalan.

__ADS_1


Dengan sedikit tertatih Syena melangkah pelan masuk kedalam mobil Arteta. Sebelum pergi Arteta melambaikan tangannya dari jendela mobil.


__ADS_2