Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)

Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)
Bab 23: Barsh Aku pergi ya!


__ADS_3

Pemuda itu mengerjapkan kedua matanya kembali. Dia mencoba mengenali di mana dia saat ini. Matanya menemukan beberapa manusia yang berdiri di hadapannya.


Itu Arteta dan Kalistha yang sedang tersenyum ke arahnya. Di sana juga ada Michael. Pandangannya yang buram kali ini sedikit jelas. Dia menatap aneh ke arah Arteta dan Kalistha seakan tak mengenali mereka.


Barsh melepas oksigen yang dia kenakan. Sembari menatap dua gadis di samping Michael. Keberadaan dua gadis itu entah mengapa asing baginya.


"Kau sudah sadar kawan? Astaga kau membuat kami khawatir!" ucap Michael. Barsh tersenyum mendengar itu.


"Apa yang terjadi padaku? Dan, siapa gadis cantik yang duduk di kursi roda itu? Begitu juga gadis di sampingnya? Apa mereka milikmu dan Andrew?" tanya Barsh pada kedua temannya itu.


Michael heran mendengar hal itu. Arteta dan Kalistha saling pandang ada yang aneh di sini.


"Permisi!" ucap seorang dokter masuk bersamaan dengan Andrew.


"Biar saya cek dulu keadaannya, tolong, silahkan tunggu diluar!" ujar dokter pada mereka semua.


Semuanya mengangguk mengerti Kalistha dan teman Barsh pun keluar dari ruangan itu.


Selang lima belas menit dokter itu keluar dari ruangan. Terlihat raut mukanya sedikit bingung. Dokter itu bingung akan menjelaskan pada mereka seperti apa dan bagaimana perihal Barsh.


"Boleh saya bicara dengan Orang Tuanya?" tanya Sang Dokter. Belum sempat mereka menjawab, sepasang dua orang paru baya datang terburu-buru.


"Kami!" ucap mereka seraya menjawab pertanyaan dokter itu.


Michael dan Andrew terkejut akan kehadiran mereka, mereka adalah orang tua Barsh.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Ayah Barsh.


Dokter itu tersenyum tipis. Tapi sepahit apapun keadaan pasien sekalipun hatinya tak sampai menjelaskan. Dokter harus tap menyampaikannya.


"Untuk mentalnya sudah membaik hanya saja, bekas pukulan beberapa hari lalu terlalu keras. Itu mengakibatkan sesuatu yang fatal pada otaknya tepatnya pada memorinya. Mungkin, saat ini ingatannya sedang berada pada tiga tahun yang lalu. Jadi jika dia tidak mengenali salah satu di antara kalian saya harap kalian memaklumi hal itu. Satu lagi, untuk pemulihan juga tidak bisa cepat. Jika setelah ini dia mendadak dipaksa untuk ingat itu akan mengakibat hal buruk, bahkan bisa merenggut nyawanya sendiri!" jelas Dokter.


Semua yang ada di sana tentu saja terkejut bukan main. Ditambah tadi pun Barsh tidak mengenali Arteta dan Kalistha di sana.


Jujur Kalistha lah di sana yang paling merasa terpukul dan sakit. Apakah dia harus rela bersandiwara menjadi orang asing di mata pemuda yang teramat sangat dia cintai?


"Saya permisi dulu!" ujar Dokter setelah menjelaskan hal itu.

__ADS_1


Semuanya mengangguk mendengar ucapan dokter itu.


Kalistha terlihat menunduk setelah mendengar hal itu. Tiga tahun lalu, dirinya masih belum bertemu dengan Barsh. Pantas saja tadi dia tidak mengenalinya.


"Tiga tahun lalu, ingatannya ada di Seoul!" ucap Andrew, Michael menatap sendu ke arah Kalistha yang menunduk itu.


Arteta paham apa yang dirasakan sahabatnya itu. Dia lalu menyentuh bahunya. Mencoba memberi kekuatan pada Kalistha di sana.


"Sepertinya waktu kita sudah habis di sini Arteta!" lirih Kalistha pada Arteta namun Arteta tetap diam mendengar itu.


"Boleh aku pergi dari Tokyo setelah ini?" tanya Kalistha pada Arteta.


Dia pham jalan pikiran sahabatnya itu. Pasti sangat sakit rasanya menjadi orang asing di samping Barsh.


"Kau akan meninggalkannya?" tanya Andrew pada Kalista. Kalistha lalu menggeleng mendengar pertanyaan Andrew.


"Apa yang sudah dituliskan Tuhan untukku, tidak akan berubah. Untuk saat ini, mundur darinya adalah hal terbaik. Aku akan menjadi ancaman untuknya jika tetap dekat dengannya! Aku sesuatu yang tidak boleh diingatnya saat ini. Jika memang Barsh adalah cintaku maka suatu saat nanti dia akan kembali!" ujar Kalistha memberi penjelasan.


Kali ini orang tua Barsh menghampiri Kalistha. Ibu Barsh mengulurkan tangannya mengusap kepala Kalistha lembut.


"Kau pasti Kalistha?" tanyanya, Kalistha mengangguk kecil seraya tersenyum.


"Terima kasih nyonya, Barsh juga pemuda yang baik. Aku mencintainya!" ujar Barsh. Ibu Barsh mengangguk mendengar itu.


"Maaf karena membuatmu ada di posisi ini!" ucap Ibu Barsh lagi. Kalistha menggeleng pelan mendengar hal itu dari Ibu Barsh.


"Tidak Nyonya, ini bukan salah siapapun. Memang sudah skenarionya harus begini jadi konsekuensinya harus diterima dan dijalani!" ucap Kalistha pada Ibu Barsh.


"Jadi, kau akan kemana setelah ini?" tanya Arteta Kali ini. Dia penasaran akan kemanakah Sahabatnya ini.


"Amsterdam!" jawab Kalistha padanya. Sumpah demi apapun ketika Kalistha menyebut negara kelahirannya itu Arteta tersenyum mendengar hal itu.


"Baiklah, sore nanti aku akan menelfon ayahku untuk menyiapkan pesawat pribadinya. Kita berangkat hari ini juga!" ujar Arteta pada Kalistha.


Kalistha mengangguk mendengar hal itu.


"Boleh sebelum pergi, aku menemui Barsh sebentar?" tanya Kalistha sembari menatap penuh ke arah ibunya Barsh. Orang tua itu mengangguk mendengar hal itu.

__ADS_1


Kalistha mendorong kursi roda miliknya sendiri. Tangannya membuka pintu rawat itu, terlihat di sana Barsh mengalihkan pandangannya ke arahnya dan tersenyum.


"Hai!" sapa Barsh ketika Kalistha berada tepat di sampingnya. Kalistha memberinya satu senyuman tulus.


"Apa aku mengenalmu nona? Apa kau milik Michael?" tanya Barsh lagi, sakit rasanya ketika orang yang kita cintai tidak mengenali kita. Kalistha menggeleng kecil mendengar itu.


"Michael temanku di sini. Dia bercerita padaku, temannya sedang dirawat di sini, teman Michael temanku juga bukan?" Tanya Kalistha pada Barsh yang mengangguk setelah mendengar itu.


"Kau baik sekali nona? Padahal aku tidak mengenalmu, tapi kau jenguk aku?" tanya Barsh tak percaya. Kalistha mengangguk kecil mendengar itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Kalistha pada Barsh.


"Masih sedikit pusing, aku juga tidak mengerti apa yang sudah kualami sampai berakhir seperti ini. Lucu kan?" jelas Barsh sambil tertawa. Kalistha menatap miris ke arahnya.


"Baiklah, lekas sembuh ya! Jaga dirimu dengan baik!" ujar Kalistha pada Barsh.


Ucapan itu membuat Barsh menatap sendu ke arah Kalistha. Rasanya hatinya tak rela ketika Kalistha mengucapkan kalimat itu.


"Hmmm... ini aneh!" ujar Barsh pada Kalistha.


"Apa?" tanya Kalistha padanya. Barsh lalu menunjuk Kalistha.


"Kau orang asing tapi mengapa hatiku bilang aku mengenalmu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Barsh polos pada Kalistha.


Kalistha tersenyum mendengar itu.


"Mungkin, karena aku juga teman dari Michael, kan? Aku pamit ya?" ucap Kalistha, kali ini raut muka Barsh mendadak sedih ketika Kalistha berpamitan dengannya.


"Kemana?" tanya Barsh padanya. Kalistha mencoba tersenyum tulus kali ini sambil menatap Barsh.


"Aku akan pergi ke negara lain untuk mengejar mimpiku, senang bertemu denganmu Barsh!" ucap Kalistha.


Entah mengapa Barsh seakan tak ingin gadis itu berlalu dari hadapannya. Mungkin ingatannya melupakan, tapi hatinya tidak.


"Ya, terima kasih ya!" ucap Barsh. Dia tidak tau harus berucap apalagi pada Kalistha. Kalistha pun berlalu dari hadapannya.


Hatinya harus kuat menerima kenyataan bahwa saat ini takdir menyuruhnya mundur. Barsh menatap kepergian gadis itu, air matanya menetes begitu saja. Dengan cepat Barsh pun mengusapnya.

__ADS_1


Ini aneh, siapa gadis itu? Kenapa mataku menangis melihat dirinya menjauh dariku?. Batinnya.


~••••~~


__ADS_2