
Ini pukul delapan malam jalanan ini sedikit sepi dari biasanya. Hawa dingin semakin menjadi saja semakin malam. Sesekali Kalistha menggosok-gosokan tangannya.
"Dingin sekali!" ujar Kalistha menggigil. Barsh melirik kecil gadisnya yang meniup-niup telapak tangannya sendiri.
"Kugendong saja bagaimana?" tanya Barsh pada Kalistha. Kalistha menggeleng cepat mendengar itu. Barsh nampak gemas melihat ulahnya, dia kemudian mencubit singkat pipi milik Kalistha.
"Lagi pula di sini juga sepi kenapa harus malu?" tanya Barsh padanya. Namun Kalistha bersikukuh tetap menggeleng.
"Tidak!" jawab Kalistha padanya.
"Kau tadi menciumku tanpa ragu sekarang bersikap seperti ini. Kemarilah!" ucap Barsh merentangkan tangannya berusaha meraih Kalisthanya.
Dengan susah payah sambil berjalan Kalistha berusaha menolak itu menggunakan tangannya menahan tubuh Barsh yang hendak menciumnya.
Di tengah kegembiraan itu terlihat seorang Pria berjaket Hoodie mendekat ke arahnya. Barsh melihat Pria itu mendekat ke arah mereka dari arah depan. Nampak mencurigakan sekali gerak geriknya.
Deggg
__ADS_1
Mereka berdua berhenti ketika melihat pria bertubuh besar itu datang ke arahnya. Kali ini, Kalistha merasakan sesuatu yang tak baik akan terjadi sebentar lagi di sini.
Matanya menatap takut ke arah Pria besar itu. Hoodie itu menghalangi wajahnya, baik Kalistha ataupun Barsh masih menebak-nebak siapa orang di balik Hoodie tersebut.
"Wah, mesra sekali kalian ini ya!" ujar suara Baritone itu tak asing bagi Barsh.
Barsh berusaha mengenali dengan baik suara itu. Hingga dia menemukan jawaban kali ini dia tau siapa Pria besar itu.
"Itu hak kami!" jawab Barsh berani. Sebab dia tau bahwa orang ini adalah dia manusia keji yang datang beberapa waktu lalu ke kediaman Barsh. Ya, Pria itu adalah Vince.
Barsh maju membelakangi Kalistha. Dia tidak ingin hal buruk menimpa Kalisthanya. Barsh adalah seorang lelaki. Sampai kapan pun Barsh akan melindungi Kalistha sekalipun itu dengan nyawanya.
"Lalu, bagaimana? Bukankah sudah kukatakan dengan baik dulu? Aku tidak mencintai Tressya!" ujar Barsh mencoba membela dirinya.
Sungguh dia tidak mencintai Tressya di sini. Yang dia cintai dengan segenap hatinya adalah Kalistha. Gadis yang ada di belakangnya saat ini.
"Mudah sekali kau mengatakan itu tanpa berpikir?" tanya Vince lagi semakin geram.
__ADS_1
Amarah membuatnya mengepalkan tangannya kuat. Rasa ingin membunuh dalam dirinya kian membeludak.
"Lalu kau ingin aku bersama adikmu saat ini? Kau memikirkannya tapi tidak dengan orang lain! Hanya Tressya! Tidakkah kau tau tiap tindakannya itu salah!" ujar Barsh menjelaskan pada Vince atas apa yang sudah mereka lalukan.
Tapi setan tetaplah setan. Vince bukanlah manusia yang berhati. Vince tertawa jahat mendengar hal itu. Argumen benar dari Barsh tidak mempengaruhinya.
"Kesalahannya, untuk sesuatu yang penting baginya! Bukankah kita harus melindungi sesuatu yang penting bagi kita?" ujar Vince pada Barsh.
Ucapan itu membuat Barsh menaikkan satu alisnya. Dia sama sekali tidak paham perihal jalan pikiran Vince saat ini.
"Melindungi? Dari apa?" tanya Barsh padanya.
Pertanyaan itu tak mendapat jawaban dari Vince. Terlihat beberapa mobil zedan berwarna hitam mulai berhenti di depan dan di belakang Kalistha dan Barsh.
Beberapa pria berjaket Hitam Hoodie turun terhitung ada dua puluh orang di sana. Kalistha mulai takut sekarang.
"Jika cintaku sampai saat ini tidak mendapatkan balasan! Tidak seorang pun bisa memilikimu kecuali diriku!" ucap Tressya turun dari dalam mobilnya.
__ADS_1