Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)

Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)
Bab 19: Misi Pembunuhan yang Gagal


__ADS_3

Beberapa pria berjaket Hitam Hoodie turun terhitung ada dua puluh orang di sana. Kalistha mulai takut sekarang.


"Jika cintaku sampai saat ini tidak mendapatkan balasan! Tidak seorang pun bisa memilikimu kecuali diriku!" ucap Tressya turun dari dalam mobilnya.


Kalistha dan Barsh lekat ke arah Tressya yang baru saja turun dari dalam mobil. Saat ini Tressya menatap mereka. Kedua kubu itu saling berhadapan satu sama lain.


"Kau sakit Tressya! Harusnya kau berada di rumah sakit jiwa!" ucap Barsh mencibirnya.


Tressya menatap tajam ke arah Barsh. Dia benar-benar muak sekali pada Barsh juga Kalistha.


"Apa kau akan menghabisiku?" tanya Barsh pada Tressya.


Mendengar itu Kalistha membulatkan matanya. Dia menatap pemuda yang ada di depannya itu khawatir. Dia tau kali ini jika Tressya akan melakukan hal gilanya.


Baik Barsh ataupun dirinya tidak akan selamat. Tressya tersenyum penuh kemenangan mendengar itu. Tentu saja, dia di sini bertujuan untuk melenyapkan Barsh dan Kalistha.


"Aku muak denganmu! Habisi saja mereka, kakak!" ucap Tressya pada Vince. Vince mengangguk mendengar itu, lalu tersenyum


"Ucapkan salam pada neraka Barsh! Akan kukirim kau kesana hari ini, bersamanya!" ucap Vince seraya menunjuk ke arah Kalistha.

__ADS_1


Beberapa anak buah Vince mulai mengeluarkan tongkat pemukul mereka. Mereka mulai mendekat ke arah Barsh.


Bohong jika dalam situasi ini Barsh tidak ketakutan. Degup jantungnya berdetak sangat cepat. Dia tidak takut pada kematian yang akan datang padanya jika tongkat pemukul itu dipukulkan berulang kali padanya.


Yang dia takutkan hanya satu. Dia takut Kalisthanya terluka. Apa yang ada di pikirannya itu hanya satu. Barsh ingin Kalistha selamat. Tak apa dirinya menjadi perisai Kalistha di sini sungguh.


"Sayang larilah!" lirih Barsh tanpa menoleh sedikitpun pada Kalistha.


Kalistha masih takut dengan situasi ini. Bagaimana dirinya bisa meninggalkan pemudanya di sini? Itu tidak mungkin.


"Larilah!" ucap Barsh lagi padanya. Kalistha menggeleng cepat mendengar itu. Tidak, dia tidak akan lari meninggalkan Barsh sendirian di sini.


"Tidak!" tegas Kalistha. Barsh membuang kasar nafasnya saat mendengar itu.


"Telpon Arteta sekarang!" ucap Barsh.


Kalistha mengangguk mendengar hal itu. Tangannya mulai tergesa-gesa mencari kontak sahabatnya itu. Hingga ketika telfon mulai terhubung, salah seorang anak buah Vince menjambak rambutnya lalu menendangnya.


Handphone miliknya berada jauh darinya dengan cepat Barsh menghajar pemuda yang sudah melukai gadisnya, menghajarnya dengan brutal.

__ADS_1


Kalistha mencoba meraih telfonnya di tengah perkelahian itu. Berhasil, dia berhasil meraih telepon genggam miliknya.


Sambungan telepon antara dirinya dan Arteta sudah tersambung. Di sana, Kalistha pun sontak berteriak pada Arteta yang berada di seberang sana.


"Arteta!!!" pekiknya ketakutan.


"Hallo... ada apa?!! Kenapa berisik sekali disana?!!" tanya Arteta di seberang sana lantang.


"Tolong kami, kami..." teriak Kalistha memberitahu keadaan mereka.


Namun telapak tangan kekar menamparnya. Menjatuhkan dirinya beserta ponselnya begitu saja. Kalistha meringis kesakitan menahan betapa perihnya tamparan itu mengenai wajahnya.


Plakkkk


Kalistha takut tapi tangannya tak mampu menyerang Pria besar itu. Di tengah keputusasaannya salah seorang Pria berjaket Hoodie mengangkat pemukulnya.


Sial!. Batin Barsh.


Dia segera berlari ke arah gadisnya. Tidak ada yang boleh menyakiti Kalistha bagi Barsh.

__ADS_1


Bukkkkkkk


Satu pukulan keras itu mendarat tepat di kepala Barsh. Kalistha terkejut ketika pemudanya itu bersimpuh di hadapannya.


__ADS_2