Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)

Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)
Bab 16: Sebelum Gerbang Sekarat Menganga


__ADS_3

Sore ini rasanya begitu nyaman bagi dua insan yang sedang berada di ketinggian. Barsh memeluk Kalistha seraya memperhatikan langit yang sedang menguning.


Sesekali ia mencium pipi mulus Kalistha yang kini nyaman berada dalam pelukannya.


"Sunset sebentar lagi ya?" tanya Barsh berbisik lirih tepat di daun telinga Kalistha.


Nafas kekasihnya yang berhembus menerpa sisi kepalanya itu hangat dan Kalistha merasakannya. Dia tidak risih, dia membiarkan Barsh tetap di sana. Manja meletakkan dagunya di bahunya.


Kalistha mengangguk mendengar itu entah mengapa hari ini sepertinya berbeda. Kalistha merasa kali ini,l pelukan pemudanya begitu nyaman lebih dari biasanya.


Kalistha menyentuh tangan kekar yang sedang melingkari pinggangnya. Dia mengusap lembut lengan kekar itu. Ada sesuatu dalam hatinya yang harus dikatakan.


Ini adalah untuk Barsh yang selama ini ada bersamanya. Jarang bagi Kalistha mengatakan isi hatinya. Tapi untuk satu hal ini sepertinya memang harus dikatakan.


"Terima kasih, karena sudah menemaniku selama ini!" lirih Kalistha lembut sambil kedua netranya menatap pemandangan di depannya.


Suara lembutnya yang indah itu tentu membuat Barsh tersenyum mendengar itu. Apapun yang Kalistha katakan selalu menjadi candu untuknya. Suaranya yang indah itu memabukkan sekali.


"Hah, ucapan macam apa itu? Bukankah kita sepasang kekasih memang seharusnya begitu?" tanya Barsh.


Kalistha mengangguk mendengarnya. Benar apa yang dikatakan oleh Barsh. Tetapi apa salahnya jika mengucapkan terima kasih bukan?


"Lalu kita tidak boleh mengucapkan terima kasih? Kesannya seperti semaunya saja!" ucap Kalistha. Barsh tertawa mendengar itu.


Sejenak Barsh memejamkan matanya. Pikirannya sedikit terusik akan kehadiran Vince dan Tressya dalam hidupnya.


Gadis yang sedang dia peluk ini adalah segalanya untuknya sudah seperti nyawanya. Bagi dirinya Kalista sudah seperti nyawanya.


Merenggut Kalistha darinya adalah hal yang tak mudah bagi siapapun. Pelukan itu semakin erat Kalistha merasakannya. Tidak biasanya Barsh seperti ini.


"Ada apa?" tanya Kalistha pada Barsh. Barsh masih memejamkan matanya mendengar itu.


"Lebih dari apapun dirimu tidak akan pernah kulepaskan. Aku tidak akan mundur untuk tetap menjaga hatimu. Aku mencintaimu Kalistha!" ujar Barsh.


Kalistha merasakan ada banyak ke khawatiran atas kalimat yang baru saja Barsh ucapkan.


"Aku paham mengenai keresahan itu sayang. Tenanglah, Tuhan tidak akan sekejam itu membiarkan manusia tanpa perasaan itu menang. Jika memang suatu saat ada yang hilang maka Tuhan akan mengembalikannya jika itu milik kita!" ujar Kalistha mencoba menenangkan Barsh. Ucapan itu membuat Barsh tersenyum tipis.


Barsh melepaskan pelukan itu lalu menghadapkan Kalistha ke arahnya. Mereka sama-sama tersenyum. Barsh mengusap lembut puncak kepala itu.


"Lihatlah, kau sangat cantik!" ucap Barsh memuji Kalistha.


Hal itu menciptakan semu merah di wajah Kalistha. Mau berapa kali pun Barsh mengucapkan itu. Kalistha akan selalu memerah bak warna tomat yang matang.


"Kau baik dengan segala sisi positifmu. Lalu, pemuda mana yang tak ingin memilikimu sayang?" ujar Barsh lagi memujinya.

__ADS_1


Ah, sudah cukup. Kalistha bisa melayang jika dipuji seperti itu.


"Sudah berhenti berkata seperti itu!" ujar Kalistha padanya sambil menundukkan kepalanya malu.


Barsh tertawa melihat itu. Perlahan dia merogoh sakunya. Terlihat, dua kunci dan satu gembok kecil. Kalistha memperhatikan itu lalu tersenyum.


"Bisa kita lakukan ritualnya?" tanya Barsh pada Kalista.


Di atas sana ada banyak gembok. Barsh berucap sambil menunjuk ke arah banyaknya gembok yang sudah dikunci di tempat itu.


Kalistha mengangguk mendengar itu. Barsh menarik pergelangan tangan gadisnya menuntunnya ke arah banyaknya gembok yang sudah dikunci.


Itu gembok yang sering diletakkan di sana oleh sepasang kekasih. Mereka meyakini selama gembok itu tetap terkunci layaknya ikatan dan hubungan mereka akan tetap terjaga sampai kapan pun.


Tepat di hadapan Gembok Cinta yang banyak terkunci di sana. Barsh mulai menaruh gembok miliknya dan Kalistha di salah satu pagar besi itu.


"Sebelum kita menguncinya, mari kita buat harapan." ujar Barsh.


Kalistha mengangguk mendengar hal itu. Mereka berdua memejamkan matanya. Hati mereka sedang memanjatkan beberapa harapan yang semoga saja Tuhan kabulkan.


Aku mencintai manusiamu yang saat ini berdiri tepat di sampingku. Tuhan, jika boleh kupinta satu hal lagi. Tolong, biarkan kami tetap bersama menjaga Cinta ini. Semoga kau kabulkan!. Batin Kalistha, bulir air mata mendadak turun begitu saja dari kelopak matanya. Dia begitu mencintai Barshnya.


Aku tidak memiliki banyak kuasa untuk tetap mengawasinya. Selagi gadisku belum sepenuhnya untukku. Tuhan, selalu beradalah disampingnya. Buat dia selalu tersenyum sekalipun keadaannya buruk tetap kau beri dia ketenangan. Jaga dia, dia hal terbaik yang kumiliki saat ini. Satukan kami segera, kumohon. Aku mencintainya!. Pinta Barsh dalam hatinya berharap sambil tersenyum tulus sekali.


Klikkk


Bunyi dari gembok itu adalah bukti cinta mereka saat ini. Saksi doa mereka di hadapan Tuhan. Diiringi langit yang saat ini menggelap juga lampu kota yang mulai menyala.


Senang rasanya melihat dua sejoli ini bahagia dari atas kota dengan background seindah ini.


"Mari kita pulang!" ajak Barsh. Kalistha mengangguk mendengar ajakan itu.


Sambil berpegangan tangan. Mereka berjalan cukup santai malam ini. Obrolan kecil mengiringi perjalanan mereka sesekali diselingi dengan beberapa candaan.


Barsh tidak menggunakan mobilnya kali ini dia ingin menikmati waktunya lebih lama bersama Kalistha hari ini.


Hari ini adalah hari pertama salju turun. Kalistha membuka telapak tangannya sebulir salju mendarat tepat di atas telapak tangannya.


"Salju pertama?" ucap Kalistha sumringah ketika melihat salju jatuh di atas telapak tangannya.


Barsh membuka jaket miliknya. Memakaikannya pada gadisnya. Kalistha menerima itu dengan senang hati.


"Malamnya cukup dingin kau pasti kedinginan!" ujar Barsh padanya sambil memakaikan jaketnya.


Kalistha tersenyum memperhatikan pemudanya. Barsh menaikkan resleting jaket miliknya yang saat ini dikenakan Kalistha.

__ADS_1


Gemas sekali rasanya melihat pemandangan di depannya. Sebelum usaha Barsh selesai Kalistha mencium singkat wajah Barsh, lalu berlari kecil meninggalkannya.


Barsh terkejut atas tindakan Kalistha yang berani dan cukup mendadak itu. Beberapa saat kemudian dia tersenyum seraya memegangi pipinya. Ah, gadisnya itu sudah mulai nakal rupanya.


"Curang sekali ya! Kemari kau!" ucap Barsh seraya ikut berlari berusaha menggapai Kalistha.


Mereka bermain kejar-kejaran itu sebentar sampai tak sengaja Kalistha terjatuh akibat sesuatu.


"Awww!" pekik Kalistha.


Barsh terkejut melihat itu. Dia mempercepat kakinya menghampiri gadisnya.


Barsh bersimpuh di hadapan Kalistha. Sejenak dia perhatikan wajah gadisnya yang sedikit kotor itu. Tangannya mulai mengusap beberapa debu yang hinggap di wajah cantik itu, lembut dan perlahan.


"Kalau sudah begini bagaimana?" tanya Barsh pada Kalista seraya masih membersihkan wajah Kalistha.


"Apanya yang bagaimana?" tanya Kalistha padanya.


"Lagi pula kenapa harus berlari? Lihat, kau jadi terluka sekarang!" jawab Barsh.


Kalistha menggembungkan pipinya. Kemudian sambil tersenyum tipis Kalistha menjawab.


"Spontan saja tadi!" jawab Kalistha padanya. oong Barsh mengangguk kecil.


"Kau bisa berjalan sendiri?" tanya Barsh padanya.


Kalistha mengangguk. Dibantu dengan Barsh dia lalu bangkit dan mulai berjalan lagi. Barsh memperhatikan langkah gadisnya yang berjalan tertatih mendahuluinya.


Dia berjalan menghampirinya tepat ketika dirinya berada di depan gadis itu dia berjongkok membelakanginya.


"Naiklah!" ucap Barsh tapi Kalistha menggeleng pelan mendengar itu.


"Aku bisa!" ujar Kalistha.


Barsh menggeleng cepat mendengar itu. Mencoba memaksa Kalistha agar mau digendongnya.


"Jika kau tidak naik akan kupakai cara lain!" paksa Barsh sedikit mengancam.


Sejenak Kalistha paham cara lain apa yang akan Barsh pakai padanya jika menolak tawarannya ini. Itu akan lebih memalukan pikirnya, jika Barsh memakai cara itu.


Barsh melingkarkan tangannya di leher pemudanya. Perlahan Barsh mulai berdiri mengangkat tubuh Kalistha membawanya berjalan bersamanya.


"Bagaimana mungkin kubiarkan gadis kesayanganku ini tertatih dengan kaki yang sakit?" tanya Barsh padanya.


Kalistha senang mendengar hal itu. Astaga, sungguh hatinya sangat mencintai pemuda ini. Kharismanya, hatinya, sosoknya, tutur katanya, sungguh sangat ia kagumi.

__ADS_1


__ADS_2