
Seorang gadis cantik sedang mengotak atik ponselnya sejak tadi. Jari jemari tangannya begitu sibuk menari nari di atas layar ponselnya.
Ini sudah lima belas menit lebih dari jam yang di janjikan oleh seseorang yang akan dia temui di tempat itu. Ya, dia sedang menanti seseorang.
Gadis itu duduk manis di sebuah bangku panjang yang tertata banyak sekali di taman. Di tengah kesibukannya itu.
Sepasang tangan kekar bergelayut manja di lehernya. Dia mendapat pukulan kecil di bahunya lalu sebuah bisikan kecil membuat gadis itu tersenyum.
"Hei, apa aku terlambat?" tanya pemuda itu lirih yang tak lain adalah Barsh.
Gadis cantik yang tak lain adalah Kalistha itu pun tersenyum. Barsh beralih ke arah gadisnya. Dia berdiri tepat di depannya.
Tangannya mengusap kecil surai gadisnya lalu mencium lembut surainya tak lama ia pun duduk di samping Kalistha.
Melihat Barsh yang sudah duduk di sampingnya itu. Kalistha menengok jam tangan yang melingkari tangan kirinya. Dia memperhatikan jarum jam di sana.
"Kau terlambat lima belas menit, jadi? Kenapa kau mengajakku kesini?" tanya Kalistha.
Barsh menatap gadisnya dengan pandangan yang sulit diartikan baginya pertanyaan Kalistha itu aneh. Bagaimana dia bisa diam dalam kamar selama dua Minggu.
Kalistha bersemayam dalam hatinya. Barsh overdosis rasanya ingin menemuinya. Sudah dua Minggu mereka tidak bertemu. Tentu saja, Barsh sangat merindukan Kalisthanya.
"Aku merindukanmu, kau terlalu sibuk dengan tugasmu. Sudah dua minggu aku tak menemuimu itu hari yang sangat menyebalkan!" jawab Barsh lalu membuang kasar nafasnya.
Kalistha tertawa kecil mendengar itu. Sungguh, tawanya sangat indah saat berkumandang.
Barsh merasa beruntung mendapatkan gadis semenawan Kalistha. Tanpa ada sedikitpun aba-aba Barsh mulai membaringkan dirinya di pangkuan Kalistha.
Kalistha sedikit terkejut ketika Barsh melakukan itu. Tapi, ketika kepala itu berlabuh tepat di atas pangkuannya Kalistha tersenyum. Hanya Barsh yang boleh menempatkan dirinya di atas pangkuan Kalistha. Tidak boleh ada manusia lain selain Barsh.
"Kau tau apa yang kulakukan selama dua minggu?" tanya Barsh padanya.
Kalistha menaikkan salah satu alisnya mendengar itu.
"Hmm. . aku tidak tau? Tapi coba katakan padaku apa yang kamu lakukan selama dua minggu?" tanya Kalistha lagi pada Barsh.
Kali ini tangan kanan itu mengusap lembut Surai Barsh. Mencoba membuat Barsh tetap nyaman berbaring di sana.
"Aku memandang fotomu dan mencoba berbicara pada fotomu itu!" ujar Barsh.
Kalistha tertawa mendengar hal itu. Lucu sekali rasanya sungguh.
"Maafkan aku, tugas kuliah sangat menyibukkanku hehe.." ujar Kalistha pada Barsh mencoba memberinya pengertian.
__ADS_1
"Sayangnya permintaan maaf itu tidak berlaku hari ini!" ucap Barsh berkata sambil memejamkan matanya menikmati jemari lentik gadisnya yang bermain di atas surainya sungguh nyaman sekali baginya.
"Hmm, lalu apa yang bisa kulakukan untuk tidak membuatmu marah?" tanya Kalistha pada Barsh yang terpejam.
Barsh berfikir sejenak, tak lama ide licik mulai bermain dalam pikirannya.
"Cium aku!" ujar Barsh.
"Huh..." lirih Kalistha terkejut saat mendengar itu tangannya berhenti tepat di atas surai Barsh. Dia diam.
"Kenapa diam?" tanya Barsh padanya.
"Permintaanmu konyol! Aku tidak akan melakukannya kau tau itu!" jawab Kalistha padanya.
Ah, Barsh sudah menduga hal itu. Sepertinya memang harus selalu dia yang mengawali kecupan itu.
Barsh mulai membuka matanya dan menegakkan tubuhnya untuk duduk ia menatap lekat gadis di sampingnya yang juga menatapnya itu.
Tangan kekar Barsh menangkup lembut kedua pipi itu lalu tersenyum begitu tulus pada Kalistha.
"Boleh kulakukan?" tanya Barsh sambil menatapnya.
"Tidak akan!" jawab Kalistha cepat langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya seraya tak ingin Barsh melakukan hal itu.
Barsh tersenyum melihat hal itu. Dengan cepat tangannya mencubit gemas pipi Kalistha. Sedangkan Kalistha di sana hanya merajuk manja meminta Barsh melepaskan cubitannya diantara wajahnya.
Kemudian dia mengingat sesuatu. Perihal satu acara yang letaknya tidak cukup jauh dari tempat mereka berada.
Barsh mengingat sesuatu yang akan dia datangi itu berhubungan langsung dengan seni. Di mana Barsh tau bahwa Kalistha bukan hanya seorang pianis baik di kampusnya.
Namun Kalistha juga adalah seorang seniman muda berbakat. Lukisan di dalam rumahnya itu banyak sekali dan itu adalah hasil tangan milik Kalistha.
"Hari ini kau mau pergi ke pameran bersamaku?" tanya Barsh pada Kalistha. Barsh melepaskan cubitan tangannya itu.
"Pameran?" tanya Kalistha tak percaya mendengar apa yang Barsh katakan.
"Ya, bukankah kau suka?" tanya Barsh lagi pada Kalistha.
Kalistha nampak terkejut mendengar itu, bagaimana mungkin pemuda di hadapannya ini tau dirinya sangat mencintai seni? Baru saja beberapa bulan mereka jadian. Tapi Barsh sudah mengetahui segalanya perihalnya.
"Kau tau aku menyukai seni?" tanya Kalistha tak percaya. Barsh berseringai tentu saja dia mengetahui itu.
"Tentu saja aku tau itu!" jawab Barsh padanya.
__ADS_1
"Tapi bagaimana mungkin? Bukankah kita baru saja saling mengenal? Atau jangan-jangan kau menguntitku ya?" tanya Kalistha mengintrogasi Barsh.
Barsh tersenyum puas mendengar itu. Hal itu benar, begitu inginnya ia mengenal gadis ini hingga rela membuang waktunya untuk sekedar mengenalnya.
Barsh mengangguk dengan polosnya, sengaja ia tirukan gaya seorang anak kecil. Berniat supaya Kalistha gemas menatapnya.
"Hei siapa yang mengajarimu mengangguk seperti itu dasar!" ujar Kalistha tertawa melihat kelakuan Barsh.
"Syena jika mengangguk terlihat polos, aku suka itu! Jadi aku juga ingin terlihat polos di matamu!" ujar Barsh.
"Sadar usiamu, Barsh!" ucap Kalistha menjawab apa yang Barsh katakan padanya.
Mereka berdua pun tertawa lepas. Setelah cukup puas tertawa Barsh pun meraih satu tangan.
"Mari pergi, sebelum malam!" ajak Barsh padanya.
Kalistha mengangguk mendengar hal itu, mereka berjalan masuk ke dalam mobil.
Tak ada satupun kisah yang tak diceritakan di dalam mobil itu. Tak ada jeda lama ketika mereka berdua bersama.
Jalanan itu ramai, sepertinya akan memakan banyak waktu. Beberapa menit kemudian sampailah mereka pada sebuah pameran besar.
Berbeda dengan Kalistha. Di sana Barsh sama sekali tidak tertarik pada seni dulu. Tapi saat ini entah mengapa ia begitu senang menghadiri acara seni ini, untuk pertama kalinya.
Mereka turun dan mulai menikmati beraneka ragam seni yang dipamerkan. Seperti biasa, pameran selalu padat akan pengunjung. Mereka di sana berjalan-jalan di antara pengunjung.
"Indah, aku menyukainya karya mereka bagus sekali!" ucap Kalistha kedua matanya berbinar melihat beberapa lukisan alam yang menakjubkan di matanya.
Lirikan kecil memperhatikan wajah anggun itu sungguh ini pertama kalinya ia melihat gadisnya sebahagia ini.
"Kau suka sayang?" tanya Barsh padanya. Kalistha mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari seni itu.
"Mari kita lihat yang lain!" ucap Kalistha sambil menarik tangan Barsh semangat.
"Apa kau pernah memiliki mimpi?" tanya Barsh pada Kalistha. Gadis di sampingnya itu mengalihkan pandangannya ke arah Barsh.
"Ya, semua orang punya mimpi!" jawab Kalistha padanya.
"Boleh kutau apa mimpimu?" tanya Barsh pada Kalistha.
"Seniman! Aku juga ingin membuka galeriku sendiri!" jawab Kalistha.
Barsh mengingat impian kekasihnya itu dengan baik. Menyimpannya rapat-rapat dalam ingatannya.
__ADS_1
Akan kubawa mimpi itu dengan jerih payahku sendiri aku berjanji! Tidak akan pernah kugunakan harta orang tuaku untuk memenuhi setiap keinginanmu. Aku yang ingin memilikimu juga untukmu akanku upayakan segalanya! Kau baik, kau pantas mendapatkan sesuatu yang baik! Mimpimu adalah mimpiku!. Batin Barsh mengeratkan genggaman tangannya pada Kalistha.
Dia mematri tiap lekuk wajah Kalistha. Dia bidadari milik Barsh. Sumpah mati, Barsh akan menjaganya sekalipun takdir meminta jantungnya untuk seorang Kalistha. Barsh akan menyerahkannya hanya demi Kalistha.