Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)

Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)
Bab 9: Pelakor Setan


__ADS_3

Kalistha sedang sibuk di depan Canvasnya hari ini. Tangannya mulai menari nari di sana, melukis sesuatu.


Kalistha teringat kembal akan ucapan Barsh kemarin. Mengenai lukisan satu keluarga yang begitu bahagia dengan dua orang putri mereka.


Sekalipun tangannya begitu berat mengabulkan hal itu, tapi benar yang Barsh katakan. Jika dirinya tak mampu membawa orang tuanya kemari menemui Syena.


Tapi tangan dan bakatnya masih mampu mewujudkan itu walau hanya pada sebuah lukisan. Setidaknya, adik kesayangannya itu bahagia.


Setengah jam sudah tangannya bekerja kali ini palet itu ia letakkan. Matanya memperhatikan sejenak hasil karyanya. Sebuah senyum mengembang di paras cantiknya.


Drrtttt Drrrrrtttt


Kalistha menoleh ke arah ponsel di sampingnya. Dia mengambil ponsel itu. Terlihat sebuah surrel entah dari siapa?


Kalistha heran dengan surrel itu. Pasalnya baik Arteta atau pun Barsh tak pernah mengirimkan surrel padanya.


Lalu, itu dari siapa? Penasaran akan surrel itu, dia pun membukanya.


Barbeque Party.


Title itu membuatnya bingung. Di dalam sana ada satu vidio. Kalistha membukanya. Dia melihat beberapa pemuda sedang menikmati acara pesta Barbeque.


Dengan Jae saudara Kalistha yang sudah tiga hari tak pulang. Ya, Kalistha saat ini memang tinggal di rumahnya Jae. Jae adalah saudara Kalistha yang memang bersekolah di sini.


Jae ini kehidupannya pun tak kalah mahsyur seperti halnya Kalistha dulu. Situasi ramai dalam Vidio itu sekejap berubah hening.


Vidio seketika gelap beberapa detik setelahnya. Tak lama terlihat pemuda yang sedang diikat di atas kursi kedua matanya ditutup menggunakan kain hitam.


Sepasang tangan mulai membuka penutup mata itu. Pemuda itu tak lain adalah Jae. Jae meronta ronta seraya memohon untuk dibebaskan. Kalistha terkejut melihat itu dia mulai ketakutan sekarang.


"Ini adalah puncak dari perayaan, sebagai suatu peringatan!" ujar pemuda ber jas hitam di dalam vidio.


Sebuah obor menyala ia dekatkan pada Jae. Jae berteriak sejadi jadinya melihat hal itu. Pemuda itu melempar obornya ke arahnya dan membakar Jae


Suara teriakan Jae begitu kencang ketika api dari bawah kakinya merambat ke atas membakar rumah tubuhnya perlahan.


Sungguh adegan sadis yang belum pernah Kalistha saksikan. Kalistha menutup mulutnya tak percaya dia terisak menginat satu satunya saudara yang paling peduli padanya, tewas begitu tragis.


Sementara Kalistha di sana sedang ketakutan. Barsh di dalam kamarnya masih terlelap. Pagi ini mentarinya megah berdiri di atas langit.


Cahaya matahari menembus masuk melalui sela jendelanya. Membuat seorang pemuda yang sedang terlelap sedikit terusik matanya.


Dia menguap lalu membuka matanya. Tangannya meraih ponsel di meja sampingnya dia mulai mengetik sesuatu di sana untuk Kalistha.


Ya, pemuda ini adalah Barsh. Dan yang akan dia sapa pagi ini melalui ponsel adalah bidadarinya. Gadis yang begitu di cintai, Kalistha.

__ADS_1


Barsh: Selamat pagi, apa kau sudah bangun?


Pesan singkat itu dia kirim tiap pagi. Barsh bangun dari ranjangnya menuju kamar mandi membersihkan dirinya.


Lima belas menit sudah dia berada di kamar mandi. Barsh pun keluar segera dia kenakan pakaian yang cukup bagus har ini.


Ketika dia membuka pintu kamarnya, seorang gadis nemeluk tubuhnya. Hal itu membuatnya terkejut. Gadis berambut coklat, yang cukup cantik. Tapi, siapa dia?


Barsh belum melihat wajahnya. Ketika gadis itu melepas pelukannya dari dirinya. Di situlah Barsh mengenali betul perihal siapakah gadis ini.


"Tressya?" ucap Barsh seraya menjauhkan diri dari gadis itu.


Gadis itu mendongak ketika Barsh melepaskan pelukannya secara paksa. Ya, dia adalah Tressya. Gadis dari Seoul teman Barsh dulu waktu menetap di sana.


Tressya sangat mengagumi Barsh. Keduanya sempat berteman baik. Hingga pertemanan baik itu membuat Tressya salah mengartikannya. Dia mencintai Barsh. Namun tidak sebaliknya.


Gadis itu terlalu memaksakan cintanya untuk dibalas. Tressya adalah gadis yang cukup berbahaya karena rela melakukan apapun untuk yang dia inginkan, sekalipun harus merugikan orang lain akan dia lakukan.


"Kenapa kau kemari?" tanya Barsh padanya. Tressya tersenyum mendengar itu.


Mendengar itu Tressya pun tersenyum. Tentu saja tujuannya kemari adalah Barsh. Siapa lagi yang ingin dia temui di sini jika bukan Barsh?


Obsesinya yang buta terhadap Barsh membuat dia melupakan simpati pada sesama. Dia bahkan dulu pernah melukai tiap gadis yang dekat dengan Barsh.


"Aku ingin menemuimu apa itu salah? Lihatlah kau masih tampan!" jawab Tressya seraya mencubit kecil pipi Barsh.


Barsh bertanya-tanya dalam kepalanya. Apakah masa hukuman mereka sudah usai. Rasanya masih belum. Lantas mengapa mereka bisa berkelana sampai ke Tokyo lalu menemuinya.


"Kenapa kau kemari?" tanya Barsh sekali lagi.


Tressya menarik sudut bibirnya. Dia melipat kedua tangannya dan berkata,


"Bukankah kau milikku?" jawabnya percaya diri.


Barsh risih mendengar seluruh perkataannya. Dia pun berlalu dari hadapan Tressya. Rasanya tidak ada waktu untuknya meladeni manusia semacam Tressya.


Perginya Barsh dari sana membuat Tressya masih tersenyum. Sambil melipat kedua tangannya dia pun melirik ke arah jendela yang terbuka.


Di sana terlihat seorang pemuda mulai masuk dari sana. Pemuda itu bertubuh besar lebih besar daripada Barsh.


"Maju selangkah saja gadis yang kau cintai akan celaka, Barsh!" ujar seorang Pemuda yang masuk dari sebuah jendela.


Barsh berhenti dia belum berbalik dia diam sejenak. Ah, tentu saja Barsh sangat mengenal suara itu. Dia berbalik dan benar saja dia mendapati Pemuda keji yang pernah ia temui di Seoul. Dia adalah, Vince.


"Bukankah kau di penjara?" tanya Barsh padanya dia tak percaya Vince bisa bebas sedangkan kesalahan yang dia lakukan fatal. Vince tersenyum licik mendengar hal itu.

__ADS_1


"Kau tau penjara seperti itu tak bisa menahanku terlalu lama? Seorang Mafia besar ini, bagaimana bisa lumpuh dengan jeruji selemah itu?" ujar Vince yang mulai menyombongkan dirinya pada Barsh. Mendengar itu Barsh menatap tajam Vince yang juga menatapnya.


"Kau patahkan hati adikku akan kubunuh seluruh orang yang dekat denganmu!" ujar Vince padanya.


Persetan dengan ancaman itu. Barsh muak meladeni mereka dia benar-benar tidak takut. Tak mempedulikan ucapannya Barsh pun pergi tanpa menjawab ucapan dari si Brengsek Vince.


Tindakan acuhnya itu justru membuat Vince dan Tressya berseringai saling tatap sejenak. Mereka kembali menatap punggung Barsh yang mulai menjauh.


"Kalistha, pasti sangat terpukul saat ini!" ucap Vince, hal itu menghentikan langkah kaki Barsh dan berbalik. Darimana bajingan ini tau mengenai kekasihnya.


"Kau tadi bicara apa? Tentang siapa?" tanya Barsh padanya. Melihat respon itu Vince tersenyum kecil.


"Tentang gadis ****** itu, Kalistha! Dia pasti sedang menangis saat ini!" ujar Barsh lagi padanya.


Barsh terkejut mendengar itu. Apa yang sudah Vince lakukan pada gadisnya?


Hatinya mulai dipenuhi rasa khawatir sekarang. Pria ini dan adiknya sangat berbahaya. Barsh bukannya takut terhadap dua orang ini. Tapi dia takut Kalisthanya akan disakiti.


"Kau hancurkan hati adikku? Kau pun juga akan hancur Barsh!" ujar Vince padanya.


"Kau bicara apa? Aku tidak pernah menghancurkan hidupnya, dia yang begitu gila mengejar dan memaksaku! Kau apakan Kalisthaku?" tanya Barsh meninggikan suaranya. Vince tertawa mendengar itu.


"Aku membunuh saudaranya!" jawab Vince enteng tanpa ada beban dalam hatinya usai melenyapkan satu nyawa.


Barsh membulatkan matanya mendengar itu tangannya mengepal keras. Cukup, ini membuat emosinya meledak.


Barsh berlari dan mulai menghajar Vince. Vince tak mau kalah dengan aksinya dia pun membalas hal itu.


Tressya, kali ini dia diam sambil menikmati pertunjukkan itu. Sama sekali tak ada upaya untuk melerai mereka.


Tressya justru mengeluarkan sebungkus permen dan memakannya sambil tetap menikmati aksi saling pukul itu.


Pranggg


Baik Barsh ataupun Vince keduanya menghantamkan botol bir di kepala lawannya. Mereka babak belur kali ini darah mengucur deras di kepala mereka.


Namun tubuh mereka masih kokoh berdiri dengan tatapan mereka yang sama-sama tajam. Vince tersenyum melihat itu.


"Kau lemah! Pembalasanku tak akan usai jika membunuhmu di sini. Entah sudah berapa tahun adikku berada di jeruji besi itu karenamu! Akan kubuat satu persatu manusia yang kau jaga itu merasakan pahitnya kehidupan!" ucap Vince, lalu pergi bersama Adiknya.


Barsh dengan segera bergegas ke garasinya mengambil mobilnya lalu pergi ke rumah Kalistha.


Pikirannya kacau saat ini hatinya begitu mengkhawatirkan Kalistha. Di sepanjang perjalanan Barsh masih berusaha menghubungi Kalistha.


Namun tak kunjung mendapat balasan. Kali ini dia tak mempedulikan dirinya yang sedang terluka. pikirannya sedang berfokus pada Kalistha, gadisnya.

__ADS_1


Persetan dengan luka yang ada di kepalanya. Intinya dia ingin melihat Kalistha sekarang.


~●●●●●●~.


__ADS_2