Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)

Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)
Bab 12: Bertemu Tressya


__ADS_3

Kalistha mengembungkan pipinya sembari memperhatikan bahan-bahan yang sedang tertera di etalase.


Tak lama dia pun tersenyum, mengambil salah satunya dan memasukkannya ke keranjang belanjaan.


Sudah dua minggu sejak kematian saudaranya mental dan hatinya sempat kacau. Tapi, beruntung ada Barsh dan Arteta yang selalu ada untuk memperbaiki bagian dirinya yang cacat.


Ia bersyukur sekali memiliki mereka berdua di tengah kesulitannya.


Kalistha sedang berbelanja bulanan di supermarket. Tiba-tiba dering di sakunya membuatnya berhenti sejenak.


Kalistha mengambil ponselnya lalu dia melihat layar ponselnya tertera nama Barsh di sana. Kalistha tersenyum kemudian dia pun mengangkat telfon dari Barsh.


'Hey nona?' ucap suara di seberang sana.


'Ya?'


'Kau sedang berbelanja ya?'


'Iya, kau di mana? Dan kenapa bisa tau?'


'Lalu kenapa tidak menelfonku? Agar bisa kuantar?'


'Tenanglah, ini supermarket terdekat dari rumahku. Aku akan baik-baik saja. Lagi pula ini baru dua minggu dan lukamu masih basah, istirahatlah!'


'Hmmm, aku tidak suka ini. Kau terlalu mandiri!'


'Itu hal bagus kan? Haha..'


'Tunggu ya!'


Tuttttttttttt

__ADS_1


Barsh mengakhiri percakapannya. Kalistha paham benar mengenai pemudanya itu. Lihat saja, beberapa menit setelah ini manusia itu pasti sudah ada di sini.


Kalistha melanjutkan kegiatan berbelanjanya lagi. Kali ini dia ingin membeli beberapa camilan, untuk menemaninya maraton drama di laptopnya.


Dia memilih beberapa camilan. Namun ketika akan mengambilnya. Sebuah tangan lain mencengkram pergelangannya.


Kalistha terkejut melihat itu. Matanya beralih, mencari tau pemilik tangan itu. Dia terkejut melihat gadis barat yang cukup cantik menurutnya, tapi siapa dia?


"Maaf, apa aku mengenalmu?" tanya Kalistha sambil memiringkan kepalanya. Kedua matanya menatap heran ke arah gadis bule itu. Gadis itu menatapnya sinis lalu tersenyum licik.


"Inikah gadis ****** yang sedang dekat dengan Barsh?" jawab gadis itu kembali melempar pertanyaan pada Kalistha.


Kalistha mengernyitkan keningnya. Mencoba berpikir keras mencari tau jawaban atas siapakah gadis di hadapannya ini.


Perlahan jawaban itu muncul meski sedikit ragu tapi dia yakin, gadis ini adalah Tressya.


"Kau merebutnya dariku, berani sekali?" ujar Tresya naik pitam.


Melihat emosi yang berkecamuk dalam wajah Tressya. Kalistha pun tersenyum tipis mendengar itu.


Seandainya Tressya adalah manusia yang waras mungkin dia akan merenungkan perkataan Kalistha.


Tapi yang terjadi malah Tressya melotot mendengar itu. Dalam pikirannya dia berpikir, beraninya gadis di hadapannya itu menjawab kalimatnya.


Tangannya semakin kencang mencengkram tangan Kalistha. Membuat Kalistha sedikit kesakitan rasanya.


"Gadis ******, beraninya kau menentang kehendakku? Siapa kau?" ucap Tressya murka.


Kalistha mencoba menahan sakit di tangannya akibat cengkraman itu.


"Kau yang siapa? Dia tidak memilihmu untuk menjadi pasangannya. Lalu, mengapa kau tidak tau diri sama sekali. Semakin kau menyakiti orang terdekatnya, semakin dia menjauhimu!" jelas Kalistha lagi tegas.

__ADS_1


Tressya semakin mencengkram tangan Kalistha. Kali ini Kalistha sedikit merintih kecil. Sembari tangannya mencoba melepas cengkraman itu.


"Lepaskan!" ucap Kalistha berontak mencoba menarik tangannya.


"Kenapa? Bukankah kau ingin disakiti seperti ini?" tanya Tressya berseringai, ia masih enggan melepas cengkraman tangannya dari Kalistha.


Hingga dari kejauhan terlihat Barsh sudah datang. Dia melihat Kalistha di sana bersama dengan Tressya.


"Hei!!!" teriak Barsh pada mereka berdua. Baik Tressya ataupun Kalistha menoleh ke arah sumber suara.


Barsh berjalan mempercepat langkahnya menghampiri mereka berdua. Tatapannya penuh amarah tertuju pada Tressya.


Setibanya dia tepat di hadapan keduanya. Barsh pun melepas cengkraman Tressya dari tangan gadisnya. Lalu menarik Kalistha di sisinya.


Barsh lalu memperhatikan tangan Kalistha yang sedikit lecet itu. Lalu kembali matanya tertuju pada Tressya.


"Kau berani menyakiti gadisku?" tanya Barsh menatap tajam ke arah Tressya. Nampak Tressya hanya diam mendengar itu.


"Kau akan kubunuh!" ucap Barsh hendak menghampiri Tressya.


Kalistha menahan tangan pemudanya. Menatap gadis di hadapannya itu dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


"Kita bisa pulang sekarang?" tanya Kalistha pada Barsh yang masih diliputi amarah. Tressya tersenyum mendengar ucapan itu.


"Gadis ini, terlalu tidak pantas berada di sampingmu!" ujar Tressya mencaci maki Kalistha.


Barsh semakin naik pitam dibuatnya rasanya tangannya ingin melayang saja saat ini. Merobek mulut wanita Dajjal yang ada di hadapannya itu.


"Dan kau, lebih tak pantas berada di hadapan kami saat ini! Pergi!" ucap Barsh geram sambil menunjuk ke arah Tressya.


Tressya berbalik meninggalkan mereka, baru beberapa langkah ia pun berhenti.

__ADS_1


"Akan kubuat gadis disampingmu itu lebih sengsara daripada gadis lain yang pernah dekat denganmu. Vince, pasti akan menjalankan misinya. Kalian tunggu saja masa hancur kalian!" ujar Tressya melanjutkan langkahnya setelah itu.


Barsh dan Kalistha diam. Mereka dengar ancaman itu. Namun mereka tidak peduli. Mereka sudah berjanji untuk bersama dan menghadapi rintangan itu juga bersama.


__ADS_2