
Wajah tampan itu kini penuh dengan luka. Darah segar mengucur deras dari kepalanya. Kesadarannya hampir hilang kali ini.
Ketika pemukul itu mendarat tepat di atas kepalanya. Sungguh rasanya kepalanya ingin meledak saja. Sakit, teramat sangat.
"Kau tak apa?" tanya Barsh sekalipun kondisinya babak belur dan hampir sekarat dia masih ingin tau bahwa Kalisthanya baik-baik saja.
Sungguh Kalistha tak kuasa melihat keadaan Barsh saat ini. Kalistha takut sekali mereka tidak akan selamat dari tragedi ini. Kalistha menangis sesenggukan kali ini.
"Maaf!" lirih Kalistha pada Barsh, dengan cepat Barsh meraih tubuh gadis itu memeluknya.
"Kita akan pulang! Kau tenang saja!" lirih Barsh menenangkan Kalistha dalam pelukannya. Pandangannya mulai mengabur sepertinya ini adalah batasannya, suara itu kian melemas.
Vince tertawa melihat kejadian di hadapannya itu. Dia menghampiri Barsh lalu menatapnya tajam.
"Apa kau akan tetap mengorbankan nyawamu untuknya? Ironis sekali! Padahal, kau punya banyak waktu jika kau bersama Tressya, tapi kau memilih sesuatu yang salah!" Ucap Vince sambil menatap Barsh yang hampir mati itu.
Barsh memperhatikan Vince dengan tatapan sayu. Matanya mulai mengabur kali ini. Dengan sisa tenaga yang masih ada Barsh berkata kepada manusia bejat itu.
"Sampai mati pun tidak satu pun dari kalian bisa menyentuhnya! Sebelum melewatiku!" lirih Barsh.
__ADS_1
Vince tersenyum mendengar itu. Dia memberi sedikit aba-aba pada anak buahnya. Ketika seluruh anak buahnya mengangguk Vince kembali menatap Barsh lalu mengatakan,
"Selamat tinggal!" ucap Vince pada Barsh.
Kali ini anak buah Vince mulai melayangkan pukulan tongkat kayu itu lagi pada Barsh. Pemuda itu di sana masih memeluk Kalistha.
Dia masih mampu menahan bertubi-tubi siksaan yang diberikan Vince dan Tressya padanya. Tangannya masih memeluk Kalistha erat, seraya melindunginya dari tiap pukulan yang sedang di layangkan anak buah Vince padanya.
Di dalam pelukan itu Kalistha menangis. Dia merasa bodoh tak mampu berbuat apapun kali ini. Di tengah rasa sakitnya bahkan Barsh masih sempat membisikan beberapa kalimat untuk menenangkan gadisnya itu.
Aksi mereka terhenti ketika suara sirene ine Polisi mulai mendekat. Dengan cepat anak buah Vince kabur dari tempat itu tapi tidak dengan Vince.
Vince meraih tongkat kayunya dengan penuh kebencian ia melayangkan tongkat itu pada kepala Barsh.
Itu adalah pukulan terakhir yang membuat Barsh tidak mampu bersimpuh menahan berat tubuhnya lagi.
"Selamat tinggal bajingan!" ucap Vince lalu pergi.
Barsh tak lagi mampu menahan tubuhnya kali ini. Dia jatuh tepat menindih gadisnya.
__ADS_1
"Kita akan pulang!" lirihnya Barsh tepak di daun telinga Kalistha. Dia berbisik lirih sekali dengan nafas yang memelan menerpa daun telinga Kalistha.
Mobil polisi itu kini sampai di tempat mereka. Terlihat Arteta juga Alexo turun dari mobilnya. Mereka terkejut melihat keadaan Barsh dan Kalistha saat ini.
"Ya Tuhan! Panggil ambulance sekarang!" ucap Arteta seraya menghampiri mereka berdua.
Beberapa polisi mulai menelpon ambulance.
"Sayang?" lirih Kalistha, seraya menggerakkan tubuh Barsh di atasnya.
Brukkkkk
Pemuda itu kesadarannya hilang sepenuhnya dia ambruk di sisi Kalistha. Dengan cepat Kalistha yang ditindih Barsh pun bangun.
Dia duduk sambil menggerakkan tubuh pemudanya. Arteta bersimpuh di samping Kalistha. Dia memperhatikan Barsh yang sangat parah kondisinya.
"Tenanglah! Semua akan baik-baik saja!" ucap Arteta pada Kalistha.
"Arteta, tolong Barsh!" ucap Kalistha sembari menangis menatap pemudanya yang tak sadarkan diri.
__ADS_1
~••••••~~~