
Sedetik saja Barsh enggan melepas pautan tangannya dari Kalistha. Mata mereka masih asyik menikmati beberapa lukisan di sana.
Tiba ketika bola mata Barsh tertarik pada sebuah lukisan. Yang letaknya tak cukup jauh dari tempat mereka berada.
Lukisan itu sedang ramai penikmatnya. Barsh menarik pergelangan tangan Kalistha. Itu membuat Kalistha kebingungan. Namun Kalistha tetap mengikuti langkah kaki Barsh.
"Ramai sekali! Aku ingin tahu ada lukisan seperti apa yang ada di balik manusia ini?" ujar Barsh seraya menerobos masuk kumpulan manusia itu. Kalistha mengernyitkan keningnya.
Baru pertama kali ini Kalistha melihat Barsh sangat berasumsi dengan sebuah karya seni.
"Sejak kapan kau tertarik pada seni sampai rela menerobos seperti ini?" tanya Kalistha di sela-sela usaha Barsh menerobos.
Mereka berhenti tepat di depan lukisan itu. Terbayar sudah usahanya menerobos. Barsh tersenyum senang memperhatikan lukisan itu.
Kalistha memperhatikan lukisan itu tapi dia tersenyum miris melihatnya. Barsh melirik gadisnya yang masih memperhatikan lukisan.
Dia tau betul apa yang dirasakan gadisnya itu. Latar belakang keluarga gadisnya sangat pilu. Tapi mau bagaimana lagi, sifat manusia memang sukar ditebak.
"Indah ya?" puji Barsh seraya menatap lagi lukisan itu. Kalistha mengangguk mendengarnya.
Apa yang dikatakan oleh Barsh memang benar. Lukisan itu indah sekali. Nun dia terpaksa harus tersenyum tipis mengingat begitu buruknya hubungan antara dirinya dan keluarganya saat ini.
"Ya, indah sekali!" lirih Kalistha pelan.
Lukisan keluarga dengan dua orang putri mereka mengingatkannya pada keluarganya. Dahulu kala sebelum kemalangan itu merenggut normalnya tubuh Syena. Mereka berdua adalah kedua putri yang makmur bahagia.
"Kau bisa membuatnya jauh lebih indah daripada ini, ya kan?" ucap Barsh yakin.
Ucapan itu membuat Kalistha tersenyum. Dia menggeleng mendengar itu. Sepertinya mustahil untuknya sekalipun bakatnya ada.
"Bagaimana bisa? Dua pion yang seharusnya ada untuk membimbing kami, hilang! Karena kemalangan yang menimbulkan cacat untuk adikku dan mereka menganggapnya aib? Lalu, menelantarkannya!" jelas Kalistha pada Barsh. Barsh tersenyum miris mendengar itu.
Kejadian perihal keluarganya kembali berputar. Itu sangat menyakitkan. Perkataan dan apa yang diberikan Mama dan Papanya terhadap Syena yang cacat.
Tapi Barsh, dia ada satu niat baik perihal permintaannya. Maka, Barsh akan bersikukuh meluluhkan hati Kalistha.
"Kau pernah merasakan kasih sayang mereka dan kehadirannya, tapi Syena?" lirih Barsh seraya masih memandangi lukisan itu.
Suara itu membuat Kalistha menatap pemudanya serius. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Barsh di sini.
"Lalu?" tanya Kalistha yang ingin mengetahui maksud Barsh.
"Kau bisa melengkapi semua ini meskipun bukan berwujud kenyataan. Tapi, obati luka dan keinginanmu melalui lukisan. Buatlah keluargamu utuh dari lukisan itu supaya Syena pun ikut merasa senang dan lengkap meskipun hanya dari sebuah lukisan. Setidaknya, Syena pernah merasa berada di samping mereka walau hanya dari sana!" tutur Barsh pada Kalistha.
Sebuah nasihat yang bijak membuat Kalistha tersenyum kecil mendengar itu, hatinya sedikit tersentuh. Namun semangat kian kembali berkobar dalam dadanya.
Hingga sudut bibirnya yang sejak tadi tersenyum itu mulai mantap mengatakan,
"Ya, aku akan mencobanya!" ucap Kalistha mantap.
Barsh tersenyum senang mendengar itu.
__ADS_1
"Apa kita harus membeli lukisan ini sebagai contohnya? Aku takut kau tak bisa melukisnya!" ujar Barsh bercanda.
Kalistha mendengus kesal mendengar itu.
"Aku lebih ahli daripada pelukis ini, lihat saja!" ujar Kalistha seraya menunjuk lukisan di hadapannya, Barsh tertawa mendengar itu.
"Ya... ya... Ya... aku tau itu! Ayo kita lanjut lagi!" ujar Barsh.
Kalistha mengangguk mendengar itu mereka pun kembali menikmati pameran itu.
Cukup lama mereka menikmati beberapa karya seni di sana. Senang rasanya melihat gadisnya tersenyum bahagia, hal itu adalah suatu kepuasan bagi Barsh.
Terlihat dari kejauhan seorang kakek tua dengan cat di tangannya, kakek itu sedang melukis sesuatu. Objek di hadapannya adalah sepasang kekasih. Barsh memperhatikan hal itu.
"Sayang!" panggil Barsh pada Kalistha yang sedang melihat ke arah lain. Kalistha menoleh mendengar itu, dia menaikkan salah satu alisnya seraya bertanya.
"Apa?" tanya Kalistha pada Barsh.
Barsh menunjuk ke arah Kakek itu sambil tersenyum.
"Ayo kesana!" ajak Barsh berjalan sambil menarik pergelangan tangan Kalistha.
Setibanya di sana tepat di belakang kakek itu Barsh tersenyum melihat hasil karya luar biasanya.
"Luar biasa ini indah sekali tampak nyata!" puji Barsh takjub.
Mendengar pujian dari suara seorang pemuda di belakangnya. Kakek tua itu menoleh dan tersenyum.
"Bisakah kau melukis kami?" tanya Barsh meminta pada Kakek tua itu.
Permintaan itu tentu membuat Kalistha tersenyum mendengar itu. Dia bertanya-tanya untuk apa Barsh membutuhkan lukisan? Padahal dia bisa berfoto. Sejenak kakek itu memperhatikan keduanya, dan tersenyum.
"Kalian terlihat serasi, majulah!" ujar Kakek Tua itu.
Mempersilahkan Barsh dan Kalistha sebagai bahan objek lukisnya. Dengan senang hati Barsh pun tersenyum dia maju bersama dengan Kalistha.
"Ini tidak lama, hanya lima belas menit sudah jadi!" ucap kakek itu.
Sang Kakek mulai mempersiapkan alat lukisnya. Mereka masih belum bergaya apapun. Kalistha hanya mampu pasrah memperhatikan Kakek tua di depannya yang masih sibuk mempersiapkan kuas dan cat airnya.
Kalistha yang berdiri di depan Barsh tak sadar bahwa sejak tadi Barsh memikirkan sesuatu yang licik.
Sembari memperhatikan Kalistha yang berdiri membelakanginya. Tanpa aba-aba apapun kedua tangan kekarnya mulai melingkari pinggang Kalistha. Barsh menempatkan dagunya di bahu Kalistha seraya tersenyum.
"Hei!" Pekik Kalistha terkejut atas perlakuan Barsh yang tiba-tiba.
"Diamlah! hanya lima belas menit saja!" ujar Barsh berbisik pelan tepat di samping daun telinga Kalistha.
Kakek itu mengacungkan jempolnya sebagai tanda bahwa gaya itu sudah bagus. Kalistha mendengus kesal. Dia sedikit malu karena beberapa mata mulai memperhatikan mereka.
Namun apa daya Kalistha yang hanya seorang perempuan. Berontak mengalahkan tenaga Barsh pun juga tak mungkin.
__ADS_1
Lima belas menit pun usai Barsh mengahmpiri Kakek itu, sambil memperhatikan hasil lukisannya.
"Ini indah sekali, anda bisa memberitahu harganya dan tolong kirimkan ke alamat ini!" ujar Barsh seraya memberikan kartu namanya dan sepeser uang.
"Terima kasih, Tuan!" ucap Barsh lagi setelah kesepakatan di antara mereka berhasil.
Barsh pun kembali mendekati Kalistha yang berdiri tak cukup jauh darinya.
"Kita pulang? Atau makan?" tanya Barsh pada Kalistha di sampingnya.
"Aku lelah, bisa kita pulang?" jawab Kalistha pada Barsh. Barsh mengangguk mendengar itu.
"Tentu saja!" ucap Barsh menyetujui permintaan Kalistha. Mereka pun berjalan kembali ke area parkir mencari mobilnya dan pulang.
~•••••••~
Pameran itu menguras tenaga Kalistha sepertinya. Terlalu lelah setelah jalan-jalan tadi. Kalistha saat ini terlelap di dalam mobil.
Barsh tersenyum melihat itu. Barsh membiarkan gadisnya itu tetap tidur, hingga sampai di depan rumahnya.
Tak ingin membangunkan Kalistha. Barsh membuka pelan pintu mobilnya lalu berlari ke arah pintu mobil lain membukanya pelan. Sejenak sebelum mengangkat tubuh kekasihnya, Barsh memandangi wajah Kalistha.
Cantik sekali, semoga Tuhan mengizinkanku menjaga manusia ini!. Ucap Barsh dalam hati, sambil mengecup singkat namun lembut kening Kalistha lalu membawanya masuk ke rumah.
Terlihat, Arteta sedang asyik menonton telivisi. Acara yang paling dia sukai 'Avengers'. Suara langkah kaki mulai menarik perhatiannya. Arteta terkejut melihat kehadiran Barsh di kediaman Kalistha.
"Gadis Belanda, di mana kamar Kalistha?" tanya Barsh. Mendengar itu Arteta berdiri menghampirinya.
"Astaga, kau apakan dia?" pekik Arteta seraya memperhatikan Kalistha yang terlelap.
"Dia tidur, di mana kamarnya, cepat beritahu!" ujar Barsh. Arteta menunjukkan jarinya ke atas.
"Kamar nomor dua, di atas!" ucap Arteta, lalu kembali duduk menonton televisinya.
Barsh sedikit kesal dengan tingkah sahabat Kalistha ini. Barsh pun bergegas membawa Kalistha ke atas.
Ketika dia membuka pintu kamar terlihat Syena yang sudah tertidur pulas di sana. Barsh membaringkan Kalistha di atas ranjang lalu pergi dari sana.
Suara langkah kaki yang baru saja turun itu membuat Arteta kembali berdiri. Setibanya Barsh di hadapannya.
Arteta menatap serius ke arah Barsh yang kini sudah berada di ruang tamu. Barsh memperhatikan tatapan itu sedikit curiga. Arteta berdiri menghampiri Barsh.
"Ingat satu hal, jangan pernah buat dia menangis! Dia sudah cukup menderita, jaga dia baik-baik!" ujar Arrta padanya memberi peringatan.
Barsh tersenyum mendengar itu, lalu mengangguk.
"Aku janji, akan kubahagiakan sahabatmu itu. Kau boleh membunuhku jika aku mengingkarinya!" ujar Barsh padanya.
Arteta mengangguk mendengar pernyataan itu.
"Kami ada kelas malam karena ulahmu dia sampai kelelahan! Membuatku repot saja kau ini!" kesal Areta. Barsh tertawa mendengar itu.
__ADS_1
"Bilang saja hari ini dia sakit. Aku kembali dulu ya!" ucap Barsh pergi meninggalkan Arteta.