Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)

Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)
Bab 13: Sebuah Ancaman


__ADS_3

Gadis Belanda ini masih tetap kuat dengan cangkirnya. Entah sudah berapa kali Arteta meneguk habis tuangan bir itu. Ya, Arteta sedang menikmati party bersama rekan sesama detektifnya.


"Wah parah, ini nikmat sekali astaga!" ucap Arteta sembari tertawa disusul dengan tawa lain yang ikut meledak.


"Teta, kalau saja Mr. Becham tau tentang ini tamat kau!" ucap salah seorang teman Arteta.


Benar apa yang dikatakan oleh salah satu temannya itu. Orang tua Arteta sejujurnya sangat membenci bir. Tetapi godaan setan di luar itu luar biasa. Sehingga Arteta yang cerdas ini pun tergiur.


"Jadi, kalian jangan posting apapun di sosial media. Papa, cukup ekstrem untuk masalah minum seperti ini!" ujar Arteta mengingatkan para temannya untuk tidak memposting apapun di sosmed.


"Kau habis tujuh gelas tapi kesadaranmu patut diacungi jempol, teta!" ujar salah seorang temannya yang mulai dikuasai mabuk.


"Tentu saja, Arteta ini perempuan jenius yang tangguh!" ujar Arteta bangga sambil menenteng gelasnya ke atas.


Sebuah pesan singkat masuk di ponsel Arteta. Arteta membaca pesan itu. Itu pesan dari salah seorang rekan detektifnya.


Melihat pesan itu Arteta pun tersenyum tipis. Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Sudah dulu ya, ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan!" ucap Arteta berpamitan dengan temannya.


Dia pun pergi meninggalkan teman-temannya. Arteta merogoh kecil sakunya tepat ketika dirinya sampai di tempat parkir.


Cukup sepi di sana hanya ada beberapa mobil yang terpakir cukup rapi. Seorang Pria bertubuh besar berjalan melewatinya. Arteta mencium sesuatu yang janggal di sana.


Dia merasakan hawa intimidasi menguat ketika melihat kehadiran lelaki besar itu. Sembari masih mencari kuncinya tiap detik matanya memperhatikan sekitar.


Kali ini muncul lagi beberapa Pria besar, berjaket hitam sama seperti sebelumnya. Benar, ada yang tidak beres di sini. Sisi detektif dari Ayahnya yang melekat dalam diri Arteta mengenali hal itu.


Perlahan Arteta merogoh ke dalam tasnya. Langkah kaki itu mendekatinya dari belakang. Belum sempat mendekat ke arahnya Arteta berbalik dan menodongkan pistolnya.

__ADS_1


Pria itu tersenyum kecil melihat itu.


Beberapa Pria besar lainnya juga mulai menodongkan pistolnya ke arah Arteta. Arteta tersenyum kali ini manusia yang sedang berada di hadapannya ini adalah manusia paling keji.


Yang tangannya sudah banyak meregang nyawa orang tak berdosa.


"Wah, bajingan besar ya?" tanya Arteta sambil berseringai. Pria yang tak lain adalah Vince itu tersenyum kecil


Dia kagum melihat Arteta mengetahui statusnya. Padahal Vince pun belum mengungkap identitasnya. Dari sinilah Vince menyimpulkan satu hal bahwa Arteta adalah gadis yang cerdas namun juga berbahaya.


"Hallo detektif muda! Aku datang untuk ditangkap atau aku yang menangkap?" tanya Vince sambil berseringai. Dia mencoba mengintimidasi Arteta di sini.


Namun buka Arteta namanya jika dia takut. Arteta justru tersenyum mendengar itu.


"Kau besar tapi otakmu kecil sekali! Coba katakan, bagaimana caramu menangkapku sekarang?" tanya Arteta. Vince tertawa medengar itu.


"Jika yang mati di sini adalah kalian semua siapa yang akan menyampaikan berita kemenangan sekaligus dukanya? Massa? Lalu tetap, pengejaran akan lebih efektif jika aku ikut mati di sini!" ujar Arteta, Vince diam mendengar itu.


Benar apa yang Arteta katakan. Jika Arteta mati di sini maka pengejaran akan lebih efektif.


"Kau hanya memiliki satu pelatuk untukku! Tapi tidakĀ  untuk orangku! Mereka yang akan menyampaikannya pada adikku!" ujar Vince mencoba mencari keuntungan apa yang dia dapat di sini agar Arteta mampu bertekuk lutut di hadapannya.


Arteta tersenyum licik mendengar itu. Tangannya yang lain merogoh kembali tasnya. Mengambil sesuatu di dalam sana.


Tepat ketika ia menemukannya ia memamerkan itu pada Vince. Itu adalah Granat. Beberapa anak buah Vince terkejut melihat itu kali ini dalam hati mereka ada sedikit rasa takut terhadap gadis yang berdiri di hadapannya ini.


"Lihatlah, bola kecil ini! Aku menyukai kembang api sejak kecil. Dan ya, aku lebih suka ledakan Granat daripada petasan?" ujar Arteta pada mereka.


Para anak buah Vince ciut rasanya mendengar itu. Mereka berhenti meremehkan Arteta yang hanya seorang perempuan di sana.

__ADS_1


Gertakan yang Arteta berikan membuat Vince tersenyum mendengar itu. Baginya, baru kali ini ada manusia yang lebih nekat dari dirinya.


Di mata Vince, Arteta adalah seorang gadis yang menarik. Baru kali ini Vince dibuat terperangah akan tindakan seorang gadis yang berani.


"Bisa kita mulai perayaannya, Vince?" tanya Arteta pada Vince ketika hening di antara kerumunan itu menyapanya.


Vince memberi aba-aba mundur pada anak buahnya.


"Tinggalkan tempat ini!" ucap Vince. Beberapa dari mereka mengangguk lalu pergi mendengar itu.


Arteta tersenyum licik melihat itu. Kali ini tinggallah mereka berdua di sana. Vince memberi tepukan tangan untuk tindakan Arteta yang cukup berani.


"Kau wanita, tapi baru saja kau ciptakan rasa takut di hati pasukanku? Aku mengagumi prestasimu ini nona!" ucap Vince berbalik, lalu ikut pergi meninggalkan Arteta.


Arteta berbahaya, Vince akan mundur sejenak. Nun masih banyak akal busuk lain yang ada dalam kepalanya. Ratusan rencana jahatnya pada hubungan Kalistha dan Barsh.


"Jika tidak ada yang bisa dikembalikan. Maka akanku kembalikan mereka tepat di pangkuan Tuhan. Camkan itu, gadis Belanda!" ujar Vince sembari berjalan menjauhi Arteta.


Arteta ingin menangkap Pria itu saat ini. Tapi, menangkapnya sendiri itu tak mungkin. Jikalau tangannya menelfon bantuan polisi Vince pun juga akan lebih dulu kabur darinya.


Jikalau dia menembaknya maka pasti ada tembakan lain untuk dirinya nanti. Jika hari ini dia dan Vince tewas. Menangkap Tressya akan semakin sulit, dan dendamnya akan semakin menjadi.


Arteta merenungkan ucapan Vince kali ini. Ada rencana gila yang akan Vince jalankan setelah ini setelahnya. Dan ya, kali ini Barsh dan Kalistha benar-benar dalam bahaya besar.


"Entah makan apa dua anak manusia itu sampai menjadi beringas lalu hilang rasa kemanusiaannya dan hatinya. Mengapa tidak ada ikhlas dalam dadanya perihal hilangnya sesuatu. Hidup menerima dan diterima. Tuhan tidak pernah menghalalkan paksaan kehendak. Tapi ciptaannya, beringas dan saling serang. Dasar bedebah gila!" umpat Arteta membuang kasar nafasnya.


Arteta memasukkan kembali granat miliknya ke dalam tasnya. Tak lama dia mengambil sesuatu lain dari dalam tas itu.


Ah, itu adalah seputung rokok. Pikirannya saat ini berpikir keras mencoba memecahkan teka-teki yang baru saja Vince katakan padanya.

__ADS_1


__ADS_2