
Kata sebagian orang, wanita dapat menahan cintanya dalan diam selama berahun tahun, wanita juga bisa memaafkan banyak kesalahn pasangannya, mereka bisa menyimpan dan menyembunyikan lukanya seorang diri, namun ketika seorang wanita cemburu sungguh mereka tak mampu menyembunyikaannya walaupun hanya se saat saja. Dan itu yang Novia rasakan kali ini.
Novia masih mengingat dengan jelas wajah panik Kevin saat tengah menggendong anak perempuan itu. "Aaa. Ku pikir kau berbeda dari pria kebanyakan."
"Hiks, rasanya sangat sakit jika benar kau memiliki hubungan dengan wanita itu." Novia menangis sembari mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Keterampilan Novia mengemudi, ia dapatkan sewaktu masih bekerja di Dubai sana.
Kiiikkk ...
Kiiikkk ...
Di belakang sana Kevin terus membunyikan klakson mobilnya, berusaha menghentikan laju mobil yang tengah di kendarai oleh istrinya. Namun Novia sama sekali tak menghiraukan klakson yang di bunyikan suaminya, yang ada di pikirannya ia ingin sampai di rumah dengan segera.
"Ya, Tuhan. Darimana Novia bisa mengendarai mobil secepat itu?" Kevin malah tertinggal jauh di belakang istrinya, mobil yang Novia kendarai seakan melesat di atas angin sekarang.
"Novia, tidakkah kau perhatikan kondisimu yang tengah hamil? Kau seakan menantang maut." geram Kevin marah.
Novia tiba lebih dulu di halaman rumahnya yang luas. Ia parkirkan mobilnya dengan sembarang, sebelum turun dari mobil Novia meminum sisa air yang di berikan pria tadi, kemudian tangannya terulur untuk mengambil tissue untuk mengusap air matanya yang tadi berderai. Hanya karna mengingat ke bersamaan Kevin dengan wanita dan juga seorang anak tadi.
Kevinpun sudah sampai di rumahnya sesaat setelah Novia memarkirkan mobilnya.
Dor ...
Dor ...
Kevin segera menggedor kaca mobil Novia. Dengan segera wanita itu menyudahi sesegutak yang berasal dari tangisannya tadi.
Novia membuka unlock pintu, dan dengan kasar Kevin membuka pintu dengan sedikit membantingnya.
Dapat Novia lihat kemeja Kevin yang berwarna broken white berlumuran darah, Novia berpaling muka dari pria itu.
"Kau sadar apa yang kau lakukan Hah?" Bentak Kevin sampai memekan telinga.
"Kau bosan hidup? Yang kau lewati itu jalananan umum bukan sirkuit balapan. Bagaimana jika kau kecelakaan dan mati dalam keadaan hamil?" Kevin berkacak pinggang dengan ekspresi berang.
__ADS_1
"Justru itu akan lebih baik." Novia meninggalkan Kevin yang tersentak akan ucapannya.
"Kau tak boleh mati Novia! Kau masih berhutang penjelasan kepadaku tentang siapa ayah bayi itu? Apakah pria tadi?" Suara Kevin melemah, saat membahas kematian. Kevin mengejar langkah Novia hingga ke kamar.
Novia meletakan obat serta buku KIA di atas nakas kamarnya.
"Aku akan mengatakan yang sebenarnya apa yang terjadi kepadaku. Tapi setelah aku mengatakannya, kau juga harus menjelaskan siapa wanita dan anak perempuan yang kau gendong tadi." ujar Novia tegas.
"Oke." Kevin menjawab tanpa keraguan sedikitpun. Karna memang wanita tadi sungguh Kevin tak mengenalnya, anak perempuan dalam gendongannya pun Kevin tak kenal.
Hanya saja, saat Kevin tadi hendak ke percetakan miliknya ia tak sengaja melihat wanita itu berteriak meminta tolong. Dengan anak perempuan di pangkuannya, dan darah segar mengucur di mana mana, sepertinya anak itu korban tabrak lari.
Kevin yang tak tega akhirnya berhenti dan mengantarkan anak beserta ibunya ke rumah sakit terdekat, yang ternyata rumah sakit yang sama yang di pilih Novia sebagai tempat memeriksakan kandungannya.
"Kemari." Novia menepuk sisi kasur di sebelahnya. Raut wajahnya sudah serius, ia akan menceritakan kebenarannya.
Kevin mengurut, dengan sebelah kaki yang ia naikan ke atas ranjang, sedangkan Novia duduk dengan bersila.
"Kau hanya boleh mendengarkan apa yang ku katakan, aku akan jujur. Tapi tolong jangan menyela saat aku tengah bercerita."
"Sebenarnya aku tak tau siapa nama pria dari janin ini." Aku Novia jujur, wajahnya tetlihat sendu.
"Mustahil kau tak tau nama pria yang menidurimu." ucap Kevin dalam hati. "Kau bukan kucingkan? Yang ketemu tiba tiba langsung bikin anak, kalian pasti sudah saling mengenal sebelumnya." Lagi lagi Kevin berujar dalam hati, ia terlanjur menyetujui perkataan Novia tadi.
"Lalu?" ucap Kevin datar.
"Waktu itu majikanku membawaku ke sebuah pesta. Aku sudah menulak namun beliau tetap memaksa, dengan iming iming aku akan di kasi uang lembur dua kali lipat." Novia menunduk sejenak, hatinya merasa teriris saat ia mengingat kejadian itu, yang menjadi sebab keretakan rumah tangganya.
"Kau di jebak?" Kevin bertanya.
Novia menggelengkan kepalanya pelan.
"Majikanku berpesan supaya aku tidak mengkonsumsi alkohol. Karna aku bodoh dan mengira jika Alkohol hanya berbentuk minuman saja, tanpa sengaja aku memakan makanan olahan laut yang mungkin saja mengandung Alkohol. Aku sedikit menyadari dan menebak jika aku tengah mabuk, dan kembali ke kamar yang di sediakan bosku. Namun saat aku selesai muntah di kamar mandi aku menemukan sosokmu di sana." Novia menatap dalam manik Kevin, berharap pria itu mempercayai apa yang ia katakan.
Apa Novia pikir ini kisah novel One nigth stand? Geram Kevin dalam hati.
__ADS_1
"Ck." Kevin berdecak pelan seperti mencemooh apa yang Novia katakan. Tapi Kevin tetap mendengarkan istrinya selesai bercerita.
"Aku yang mengira, itu hanya ilusiku saja. Aku mengabaikan seseorang yang menyerupai wajahmu. Aku tertidur di ranjangku. Namun samar samar ku ingat seseorang menyentuhku. Maaf ..." Novia menunduk.
Tangan Kevin sudah mengepal ia menahan gejolak emosi yang membuncah di hatinya demi mendengarkan cerita Novia yang ia anggap hanya bualan semata. Rupanya benar yang Novia takutkan sejak awal, Kevin tak akan mempercayai ucapannya.
Ya Novia mengetahui sifat Kevin, pria itu kerap kali mengutamakan logikanya. Itu sebabnya Novia tak menceritakan hal ini sejak awal, dan benar yang terjadi adalah sia sia.
"Lanjutkan." titahnya datar.
"Aku pikir itu mimpi, aku tak melawannya ku biarkan pria itu menyentuhku, yang demi Tuhan aku menganggap itu mimpi dan yang mendatangiku adalah dirimu. Namun keesokan harinya saat aku terbangun, pria yang menyerupai dirimu berada di sebelahku tanpa sehelai benangpun, begitu juga dengan diriku. Aku mohon maaf karna sudah mengecewakanmu. Hiks ..." tangis Novia pecah setelah ia menceritakan kebenarannya.
"Baru ku sadari jika pria itu, bukan dirimu. tangannya juga dadanya bertato, juga terdapat tahi lalat kecil di ujung hidungnya." Lanjut Novia lagi.
Senyuman sinis tergelincir di sudut bibir Kevin. "Dan kalian mengulangi malam panas itu? Di pagi harinya. Wah kau sangat pandai dalam mengarang cerita, aku pikir kau pantas jadi sutradara atau penulis novel." Kevin menganggap jika Novia membohonginya, demi mendapatkan maaf dan kesempatan darinya.
"Vin aku serius."
"Kau pikir aku bergurau?"
"Tolong percaya padaku!" mohon Novia.
"Kau pikir, pola pikirku seperti seorang bocah yang akan mempercayai ucapanmu begitu saja. Dasar pembual!"
Kedua mata Novia terpejam. Ini yang ia takutkan sejak saat itu, Kevin tak mempercayai ucapannya dan menganggapnya sebagai pembohong. Meski Novia sudah menduga hal ini sejak awal tapj sunghuh saat Kevin menolak dan tidak mempercayai apa yang ia katakan seakan menikam ulu hatinya. Bagaimana caranya Novia membuat Kevin percaya terhadapnya?
"Cih. Seseorang yang katamu menyerupai diriku hanyalah kambing hitam dari setiap dosa dosamu." Kevin berdiri, ia mendorong kening istrinya hingga memendongak menatap ke arahnya.
"Demi Tuhan! Vin, aku tak berdusta. Orang itu memang benar benar mirip denganmu. Aku bersumpah atas nama apapun, aku tak sengaja melakukannya. Mengenai orang itu aku sama sekali tak mengada ada dia memang menyerupai dirimu."
"Bisakah kau datangkan orang itu di hadapanku? Aku akan percaya jika orang yang katamu menyerupai aku ada di hadapanku." Ucap Kevin di antara gertakan giginya.
"Bagai mana bisa aku menghadirkannya Vin? Sedangkan aku tak memiliki informasi apapun tentangnya." Novia berpalibg dengan air mata yang membasahi hingga ke dagu runcingnya.
"Sampai kapanpun pria itu tak mungkin dapat kau hadirkan, karna apa yang kau katakan hanya sebuah karangan cerita." Kevin berlalu seraya membanting pintu kamar. Bahkan tembok rasanya bergetar saking kencangnya bantingan pintu itu.
__ADS_1
"Tuhan ku mohon, pertemukan aku dengan pria itu kembali. Aku ingin membuktikan jika ucapanku tidaklah bohong." Novia menenggelamkan wajahnya di atas bantal, berharap suara tangisnya sedikit teredam.