
Istri mana yang tak hancur saat mendapati kenyataan jika suami yang paling ia cintai harus mengalami kecelakaan.
Dunia wanita mana yang tak berantakan saat prianya berada dalam ruangan yang mungkin saja berada di ambang kematian.
Setelah ibu Maryati memaksa masuk untuk melihat putranya kali ini adalah giliran Novia untuk menemui suami baiknya, suami yang begitu setia meski dalam keadaan begitu sulit.
Dengan langkah bergetar Novia mulai mendorong pintu yang menjadi pembatas ruangan Kevin dengan ruang tunggu.
Rasa Novia tak memiliki tenaga sama sekali, sehingga rasanya untuk mendirong pintu itu pun Novia tak mampu, sehingga Rifan adik ipar Novia dengan segera membatu membuka pintu untuk Novia.
"Kakak pasti kuat. Kak Kevin membutuhkan Kakak." sebelum membiarkan kakak iparnya pergi keruangan Kevin, pemuda itu memeluk Novia untuk sekedar menyalurkan rasa tenang.
"Rifan, kakak takut jika seandainya Kevin melupakan kakak." Novia berbisik lirih di antara pelukan adik iparnya.
"Kalian saling mencintai, sepertinya Tuhan iri akan cinta kalian, sehingga mendatangkan beberapa ujian, percayalah hal itu akan menjadi penguat cinta kalian. Untuk itu bersabarlah dengan apa yang terjadi kepada kakakku, cintai ia semestinya. Kau wanita hebat Kak." Rifan membingkai wajah kakak iparnya, kemudian membiarkan Novia untuk masuk dan menyapa pria yang kini tengah berbaring di atas brankar pasien.
Rifan menutup kembali pintu ruangan dan membiarkan Novia untuk mendatangi kakaknya.
"Keviiin,"
Novia memanggil lirih, suaranya nyaris tak terdengar, air matanya meluruh begitu saja bagaikan anak sungai, sehingga beberapa tetesan bening itu menggenang diantara pipi dan rahangnya bahkan juga terkumpul di dagu runcing Novia.
Sesak, sungguh Novia ingin berteriak kepada dunia jika ini tak adil! Siapa yang bisa Novia salahkan? Takdirkah? Atau semesta?
"Kevin, kau benar benar ingin menghukumku atau bagai mana? Mengapa bisa hal buruk terjadi padamu hanya untuk memberikanku sebuah hukuman? Tidak adakah hukuman lain yang tidak menyakitimu Vin? Ibumu benar, aku mengakuinya jika aku hanya menjadi beban untukmu. Aku selalu menyusahkanmu, tapi sungguh aku tak bisa jika membiarkankanmu pergi, aku tak bisa melihatmu dengan orang lain. Maaf aku egois Vin!" Novia menangis dengan tergugu di hadapan tubuh Kevin yang kini hanya mampu memejamkan matanya.
Terdapat dua jarum di lengan tangan kanan dan kiri Kevin, lubang hidung pria itu juga di sumbat menggunakan alat bantu oksigen, untuk memudahkan Kevin bernafas.
__ADS_1
"Vin, kau bilang kau sudah memaafkan apa yang terjadi terhadapku. Jika seperti itu, untuk apa kau menghukumku sekejam ini." Novia terisak pelan di samping suaminya yang tengah terbaring. Terdapat perban di kepala Kevin, rambutnya juga terlihat di potong tak beraturan.
Sesakit ini saat melihat seseorang yang kita sayangi terbaring dalam keadaan terluka.
Ari sang adisten bahkan meninggal di tempat kejadian perkara, masih beruntung nyawa Kevin masih tertolong.
Terhitung sudah dua hari Kevin tak sadarkan diri, pria itu masih saja terbaring lemah di tempatnya.
Novia memasuki ruang inap suaminya, membuka gordeng yang menutupi jendela, seketika bias cahaya matahari pagi memasuki ruangan.
"Pagi yang cerah. Tidak kah kau merindukan suasana pagi Vin?" Novia berujar dengan nada sendu, ia segera menyiapkan air hangat untuk mengelap tubuh suaminya, tubuh yang sudah dua hari terlihat tak berdaya.
Entah harus dengan apa Novia membujuk Kevin, agar suaminya bersedia untuk membuka kembali matanya.
"Cepatlah bangun! Apa kau tak mengkhawatirkan aku? Ibumu selalu menyalahkan aku atas apa yang terjadi kepadamu."
Terlebih saat mertua Novia mengetahui bahwa seluruh aset juga harta yang di miliki mereka semua atas nama Novia. Ibu Maryati menudukan banyak hal kepada menantunya.
"Kau baik baik saja?" Seseorang mengejutkan Novia juga dengan sentuhan di pundaknya,
Novia tak tau kapan seseorang itu memasuki ruangan, Novia sungguh tak mendengar pintu itu terbuka. Terlihat juga seseorang itu membawa sebuah kantong yang berisikan sekotak makanan.
"Makanlah lebih dulu. Kau memerlukan nutrisi untuk bayiku." seseorang itu adalah Kendrick, Novia tsrlihat marah saat mendapati Kendrick di ruangan itu, gara gara pria ini keharmonisan keluarganya berantakan. Gara gara Kendrik pula kebahagiaan rumah tangganya tergadaikan.
Karna ulah Kendrik juga Kevin sempat menyalahkan Novia dan membuatnya Novia hampir mati karna bunuh diri, sedangkan Kendrick tak mendapatkan keadilan apapun. Semua kesalahan keduanya hanya di timpakan kepada Novia seorang.
Hingga semesta turut campur membuat Kevin celaka hanya untuk memberikannya hukuman.
__ADS_1
Novia lelas terus terusan di salahkan oleh ibu dari kedua pria itu.
"Untuk apa kau di sini!? Kau ingin melihat ibumu kembali memakiku? Kembali menyalahkan dan menghakimi diriku atas apa yang kau perbuat kepadaku?" Teriak Novia di depan wajah Kendrik.
"Tidakkah kau berpikir dan merasa bersalah atas guncangan rumah tanggaku. Kau penyebabnya Kendrick, kau penyebabnya!" Novia menunjuk nunjuk wajah Kendrik dengan amarah yang membuncah.
"Kau itu saudara macam apa? Kau bahkan tidak meminta maaf kepada suamiku atas apa yang kau lakukan Hah! Padahal kau meniduriku yang tak sadarkan diri, apa yang kau pikirkan sehingga menganggap one nigth stand adalah hal biasa bagimu? Tidak kah kau berpikir bagaimana sakitnya Kevinku saat mengetahui benih yang di kandung istrinya adalah milik adiknya sendiri!" Novua meraung, ini adalah kesempatannya menumpahkan amarah terhadap pria lancang itu.
"Aku tak melihat kemarahan di mata Kevin, dia juga mengatakan sudah menaafkan apa yang perbuat." Pandangan Kendrick bergulir, ia tak tega juga melihat Novia yang selalu di maki ibunya.
"Dia menyembunyikan pesakitannya Kendrick! Hanya demi hubungan persaudaraan kalian tak hancur, dia begitu menyayangimu, dia juga membelamu saat ibumu mengutukmu. Dia pemaaf, dia penyayang lantas apa dengan sikafnya yang seperti itu kau memanfaatkannya begitu?" Telak Novia.
Kendrick bungkam, hampir 70 persen tuduhan Novia benar adanya.
"Katakan kesalahan apa yang Kevin lakukan terhadapmu hingga kau terlihat puas akan kemalangan yang terjadi kepada suamiku?"
Kendrick terlihat bungkam kembali, Kevin memang tak melakukan kesalahan apapun, Kendrik saja yang terlalu serakah dan berharap jika Novia akan berpaling dari kakaknya.
"Kenapa kau hanya menyalahkan aku? Kau sendiri tak menolak sentuhanku malam itu. Tidakkah kau juga ingin menyalahkan Kevin? Dia juga turut terlibat atas hal yang tak sengaja kita lakukan, jika saja dia mampu sebagai seorang pria, kau tak akan merantau sampai ke negri itu." Kendrick berujar tenang.
"Tutup mulutmu sialan! Meski aku tak menyalahkannya, Kevinku selalu merasa bersalah dan selalu meminta maaf kepadaku. Dia bukan dirimu yang selalu merasa benar sendiri!" Bentak Novia kembali.
"Novia, mengapa kau membentaknya?" Sebuah nada lemah nyaris tak terdengar oleh Novia juga Kendrick.
Keduanya langsung menoleh kearah brankar Kevin, pria itu sudah membuka matanya dengan kerutan kening yang mendalam.
"Kendrick panggil dokter!"
__ADS_1
Novia segera mendekat kearah suaminya. "Sayang kau sudah sadar?"