
Pikiran Novia berkecamuk, antara percaya dan kemustahilan yang ia lihat. Bahunya bergetar karna menahan tangis sedari tadi, kedua tangannya memegang erat benda kertas yang menjadi pemicu hatinya begitu kesakitan.
Deru mesin kendaraan terdengar membelah jalanan siang ini, jalanan yang renggang akan kendaraan membuat Novia leluasa untuk menangisi apa yang terjadi.
"Aku bisa saja pergi melarikan diri karna rasa sakit yang kau berikan Vin, tapi aku tak segegabah itu. Aku masih ingin mendengarkan pembelaan dari mulutmu."
"Tapi rasanya ini sakit. Hiks ..."
Novia menangis menutup seluruh wajahnya menggunakan kedua belah tangannya, menumpahkan semua kekecewaannya, foto foto yang menjadi pelaku utama sakit hatinya ia letakan di atas pangkuannya. Menjadi saksi akan kerapuhan hatinya.
"Vin apa kau tengah membalaskan rasa sakitmu terhadapku?" Novia lagi lagi berujar pelan. Ia mengabaikan sang supir yang menyetir di kursi kemudi.
"Baru seperti ini saja dadaku terasa sesak, nafasku tercekat apa lagi jika apa yang aku lakukan terhadapmu kau lakukan juga pada wanita lain, aku tak bisa membayangkan akan sehancur apa hidupku saat mengetahui kau menduakan diri ini." Novia terus terisak dengan suara tertahan, sebisa mungkin Novia meredam tangisannya.
Pasti Kevin mendapatkan sakit yang lebih parah dari pada ini. Novia segera menyusut air matanya menggunakan lengan bajunya.
Hingga beberapa waktu berlalu Novia akhirnya sampai di gedung 5 lantai yang Kevin jadikan sebagai kantor pusat.
Novia menanyakan resepsionis tentang keberadaan suaminya, namun Kevin tengah berada di luar kantor, dari keterangan yang Novia dapat Kevin tengah mengadakan rapat dengan relasi bisnisnya sekaligus makan siang.
Cukup lama Novia menunggu di ruangan suaminya, Novia meneliti seluruh ruangan yang di penuhi beberapa potret dirinya, mulai dari potret pernikahannya juga beberapa posenya di negri Dubai juga di depan gedung Burj khalifa, seakan pria itu menjelaskan pada siapa saja yang memasuki ruangannya jika pria itu sudah memiliki seorang pawang, seperti wanita cantik sepertinya.
"Mungkinkah ini hanya kamuplase, sebagai topeng untuk menutup belangmu Vin?"
Novia menatap potret dirinya juga dengan Kevin yang tengah memegang buku nikah di kantor urusan agama. Novia tersenyum getir saat kilasan pernikahan mereka melintasi otaknya. Tak ada kebaya maupun riasan make up yang Novia kenakan, ia dan Kevin haanya mengenakan pakaian sederhana di pernikahan mereka.
Novia terus menatap lekat potret itu hingga air matanya kini sudah membasahi pipi.
Terlalu fokus menatap foto itu Novia tidak menyadari jika seseorang telah membuka ruangan itu. Dan orang itu adalah Kevin, pria itu berjaslanan perlahan tanpa menimbulkan suara, kedua tangannya langsung membelit pinggang serta perut Novia.
"Kau datang?"
Kevin menyandarkan dagunya di bahu Novia, wajahnya memangkas jarak keduanya kemudian mengecup sekilas pipi Novia.
"Kau menangis?" Kevin langsung menyadari wajah Novia yang basah, dengan enggan ia melepaskan pelukannya dan membalik tubuh istrinya menjadi menghadapnya.
"Vin."
Novia justu langsung menyeruduk serta mendekap tubuhkekar yang sebentarclagi akan ia mintai keterangan.
__ADS_1
"Katakan kau tak melakukan apapun! Katakan kau tidak pernah bermain dengan wanita manapun selain aku." Novia meraung di dada kekar oria itu, raungan yang kencang layaknya seorang anak yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya.
Kevin tak lantas menhawab pertanyaan Novia, yang ia lakukan justrilu mendekap tubuh rapuh itu semakin erat, seakan Kevin hendak menyerap segala kegundahan wanita dalam pelukannya.
"Hey, ada apa? Mengapa tiba tiba kau bertanya seperti itu? Aku tak melakukan apapun sungguh."
Kevin melerai pelukan Novia, kemudian membingkai wajah cantik yang menyedihkan itu dengan menggunakan kedua belah tangannya yang lebar.
Noviapun mencangkup tangan yan tengah membingkai pipinya, ia tatap dalam manit teduh suaminya, manik itu hanya menatap dirinya saja dengan tatapan yang menurutnya mendamba.
"Aku, aku tengah patah hati Vin." adu Novia.
"Ada apa? Jelaskan pelan pelan. Aku rada kau butuh minum." Kevin membawa istrinya kesebuah sofa yang tersedia di ruangannya, mereka duduk bersisian, dengan Kevin yang menyodorkan air mineral yang sudah ia buka tutupnya.
"Minumlah dulu dan ceritakan secara perlahan." Kevin mengisap sebelah pipi Novia menggunakan ibu jarinya.
Novia tak langsung bercerita, ia memilih menenangkan dirinya yang terguncang lebih dulu.
Setelah Novia merasa dirinya tenang kemudian ia meraih tas miliknya dan ia keluarkan isinya yang masih saja membuatnya kesulitan bernafas.
"Kapan kau mengunjungi klub malam? Apa saat kau mabuk tempo hari?" Novoa sedikit menyentak foto foto itu ke dada Kevin.
Pergi klub malam yang benar saja? Kevin belum pernah kesana.
Kevin meneliti foto lainnya, di foto itu pria yang mirit dengannya tengah mencium seorang berpakaian minim dengan sangat rakus, dan di foto berikutnya Kevin memukan jika tangan pria itu tengah memegangi dada wanita yang berbeda lagi. Ada sekitar empat wanita di sana, dan Kevin tak mengetahui wanita mana saja yang menjadi teman kencan pria itu.
"Demi Tuhan Novia pria itu bukan aku!" Tegas Kevin seraya melempar foto itu ke atas meja. Ia menyangkal tegas fitnah tersebut dengan kalimat yang sangat tenang.
"Apa kau bisa membuktikan ucapanmu."
"Novia kau mengenalku lebih baik dari siapapun. Tatap mataku, carilah kebohongan di mata ini."
Ajaib sekali pria itu meminta Novia menvmcari bukti di matanya, namun nyatanya Novia tak menemukan secuilpun kebohongan do sana.
"Aku tak pernah ke klub." tegas Kevin.
"Pernah."
"Kapan?"
__ADS_1
"Waktu kau marah saat itu dan pulang pukul satu pagi, aku menanyaimu kau darimana? Dan kau mengatakan kau pulang dari klub, kau bilang kau mabuk dan tubuhmu menguarkan bau alkohol yang sangat tajam."
Ya Tuhan Kevin terjebak kebohongannya sendiri, haruskah ia jujur pada Novia jika malam itu ia hanya tidur di apartementnya dan menyiram tubuhnya dengan Alkohol untuk memperdaya Novia, agar wanita itu percaya jika dirinya mabuk.
Haruskah ia membongkar kebohongannya secepat ini?
Tapi dari pada dirinya di tuduh macam macam akan lebih baik ia mengatakan segalanya.
"Itu-" Kevin menarik tengkuknya yang tak gatal.
"Itu apa?"
"Sebenarnya aku tak ke klub di malam itu maupun malam malam sebelumnya, yang ku lakukan hanya tiduran di apartemen kemudian aku menyiramkan minuman keras di tubuhku hanya aar kau mengira aku benar benar mabuk." Kevin meringis pelan saat mengakui dosa dosanya.
"Jadi kau membohongiku?"
"Hmm."
Kevin bergunam pelan.
"Lalu siapa pria itu jika bukan durimu?"
"Aku tak tau, tapi bisa saja ada seseorang yang mengedit foto itu agar kau dan aku memiliki masalah." untuk kali ini mereka melupakan jika Novia pernah mengatakan jika ayah biologis bayinya merupakan pria yang nyaris serupa dengan wajah Kevin.
"Jika itu hasil editan tak mungkin semorip itu Vin."
"Kau meragukan aku?"
"Bukan seperti itu, tapi-"
"Dunia editing semakin canggih Novia, jangan pikirkan apapun fokuslah pada kehamilanmu, aku bersumpah demi apapun aku tak se brengsek itu." Kevin mengecup dalam telapak tangan Novia yang terasa dingin.
"Tolong percaya padaku."
Novia mengangguk lemah.
"Kau harus tidur siang terlebih dulu, biar ku antar ke ruangan istirahatku."
Kevin mengantar Novia ke tempatnya beristirahat. Setelah memastikan Novia terlelap Kevin keluar dari ruangan itu. Ia membawa serta foto itu untuk menemui seseorang.
__ADS_1
"Ari titip istriku, aku akan keluar sebentar." Kevin menitipkan istrinya pada sang asisten.
"Foto ini bukan editan, dan hanya kalian yang mengetahui jawabannya." Desis Kevin.