
Kevin meraih ponselnya di atas nakas tempat tidurnya, ia mencari nama asistennya untuk ia hubungi.
Novia tak mengeluarkan suaranya, ia menikmati segelas susu hamil hangat yang di bawakan Kevin untuknya, ia berharap semoga setelah ini Kevin tak lagi menyakitinya.
Betkali kali Kevin mencoba menghubungi Ari, untuk mengatakan jika dirinya memberhentikan sepupu Ari yang bernama Rara itu, namun asistennya entah kemana pria itu tak mengangkat panggilannya hingga beberapa saat.
"Kemana Ari? Tumben tumbenan pria itu tak mengangkat panggilanku." Kevin menggerutu karna Ari tak juga mengangkat panggilannya sebanyak beberapa kali.
"Untuk apa kau menelpon asistenmu hingga berkali kali?" Novia yang penasaran akhirnya bertanya juga.
"Ck, Tentu saja untuk memecat Rara, kau pikir untuk apa lagi?" Kevin berdecak malas, Novia akhir akhir ini terlihat sangat bodoh di hadapannya, apa itu pengaruh dari bayi yang ia kandung?
"Mengapa malah menghubungi Ari? Kau bisa langsung menghubungi Rara, apa kau tak tega memecat wanita cantik itu?" Novia berpaling dengan wajah yang mulai ia tekuk, kecemburuan di wajahnya kelas sekali terlihat.
"Justr itu aku menghubungi Ari Novia, aku tak memiliki nomor ponsel Novia."
"Realy kau tak memiliki nomor wanita itu?" Novia kembali bertanya dengan raut yang berbinar.
"Iya, untuk apa aku memiliki nomor wanita itu, ga ada gunanya juga."
Novia melipat bibirnya dalam ia kini tengah mengulum senyumannya, ternyata Kevinnya tidak berubah, pria itu masih memperdulikan perasaannya. Novia tau Kevin tak menyimpan nomor wanita itu demi menjaga perasaannya yang pecemburu.
Setelah mencoba beberapa kali akhirnya Ari mengangkat panggilannya.
"Ari darimana saja kau?" Kevin berang karna Ari mengabaikan panggilanya. Kevin menekan tombol speaker agar Novia dapat mendengar percakapan mereka.
"Anu Pak, saya baru saja dari toilet, memangnya ada hal apa Pak? Tumben sekali Bapak menelpon sampai sebanyak ini." Ari mengerutkan keningnya di sebrang sana, tanda dirinya tak mengerti.
__ADS_1
"Tolong pecat sepupumu Rara! Buatlah pemecatannya resmi secepatnya, terserah kau mau memasukan alasan apa." Kevin terus menatap kearah Novia yang tengah berpura pura menyeruput susu bikinanannya, padahal Kevin tau jelas jika Novia tengah menguping percakapannya.
"Tapi Pak, kita masih memiliki kontrak dengannya hingga beberapa tahun kedepan, artinya kita harus membayar finalty karna memecatnya secara sepihak." Ari mengingatkan atasannya barang kali Tuasnnya lupa, jika Tuannya mengangbil keputusan secara mendadak maka Ari berhak mengingatkannya.
"Tidak masalah! Bayar semua denfanya asalkan wanita itu tidak lagi bekerja denganku!" putus Kevin cepat, tak masalah jika ia harus kehilangan sebagian uang perusahaan dari pada Rara terus berada di perusahaannya dan justru menjadi pemicu pertengkarannya dengan Novia.
Setelah mengatakan maksud dan tujuannya Kevin segera menutup panggilan.
"Kau benar benar memecatnya kan? Tidak hanya bersandiwara di hadapanku?" Novia bertanya hati hati, wajahnya menunduk dan hanya menatap gelas kosong di genggamannya.
"Kau pikir aku menipu istri cantikku?" Kevin meraih gelas kaca di genggaman Novia dan memindahkannya ke atas nakas.
"Kemari, kita tidur siang. Aku ingin tidur sembari memelukmu." Kevin merindukan istrinya, karna egonya yang tinghi ia hampir saja kehilangan cintanya.
Novia dan Kevin menaiki tempat tidur di kamar utama, keduanya sepakat akan memperbaiki hubungan mereka.
"Bekasnya masih ada." Kevin mengelus bekas jeratan tali di leher Novia. Meski sudah tiga hari berlalu ruam itu masih terlihat jelas.
"Maafkan aku Novia."
"Kuku ibu jari kakimu juga belum tumbuh, itu juga karna kecerobohanku. Harusnya aku bertindak lebih dewasa bukan malah menyakitimu sedemikian rupa." Kevin menyesal karna telah membuat kekacauan di dalam rumah tangganya.
"Tidak papa Vin, aku mengerti kekecewaanmu."
"Kau semakin kurus Novia. Kau pasti tertekan karna ulahku. Aku juga sudah memperkerjakan Bi Asih juga Bi Mar, kau tak perlu kelelahan mengerjakan tugas rumah. Nikmati kehamilanmu dengan baik, lahirkan anak itu dengan sehat, kau berhutang satu bayi yang berasal dari benihku. Aku tak ingin menunda kehamilan, setelah kau melahirkan kau harus memberikanku seorang bayi." Meski sudah bisa menerima kesalahan Novia, Kevin tetaplah manusia biasa yang memiliki keegoisan. Manusiawi jija Kevin belum mampu menerima bayi itu sepenuhnya.
.
__ADS_1
Sore hari Ari berkunjung kerumah sepupunya, dengan membawa surat pemecatan juga sejumlah uang yang akan ia bayarkan kepada Rara sebagai dendema, jumlahnya tentu saja sesuai kesepakatan yang berlaku. Uang senilai 200 juta Ari bawa di sebuah papperbag miliknya.
Ari berbasa basi sedikit kepada Mamanya Rara, yang merupakan tantenya juga. Ari juga menyapa putra Rara yang berumur 4 tahun.
"Ada apa Ri? Tumben sekali kau bertamu sore hari, apa ada hal penting?" Rara duduk di samping Ari yang tengah memangku putranya, putra Rara memiliki kelainan keterbelakangan mental juga fisiknya, jemari tangan bocah itu yang sebelah kiri menyerupai kepiting sehingga jemari tangannya yang normal hanya sebelah kanan saja, semasa hamil Rara berusaha mengugurkan bayinya karna pria yang merupakan ayah bocah itu merupakan pria miskin, jadi Rara menolak pertanggung yang di ajukan pria itu, sehingga berkali kali Rara mencoba menguguran janin dalam kandungannya.
Rara memang pernah menikah dengan seorang pria kaya beristri, namun pernikahannya di vawah tangan sehingga saat bercerai Rara tak memiliki hak apapun untuk menggugat harta gono gini, terlebih Rara tak memiliki anak dari pernikahan itu.
"Begini," Ari mengeluarkan selembar surat resmi pemecatan untuk Rara juga dengan sejumlah uang yang Ari bawa dalam sebuah paper bag bertuliskan H&M itu.
Ari menyerahkan selembar surat pemecatan itu kepada Rara ia juga berpesan sesuai apa yang Kevin katakan terhadapnya. "Tidak usah ke kantor untuk mengambil sisa barang barangmu, nanti aku akan menyuruh orang untuk mengantarkan barang barangmu yang tertinggal." ujar Ari.
"Ini uang dendanya." Ari memberikan uang bergepok gepok itu di pangkuan Rara.
"Tapi alasannya Kevin menecataku Ri? Kerjaku baik aku tak pernah telat maupun melanggar peraturan perusahaan." Rara tak terima saat Kevin begitu saja memecatnya, yang ia sayangkan adalah niat besarnya yang pasti akan terhambat karna pemecatan ini.
"Aku tidak tau Ra. Aku hanya di beri tugas saja oleh Pak Kevin sisanya aku sama sekali tak tau. Maaf aku tak bisa mempertahankanmu." Ari berujar penuh sesal, mau bagaimanapun Rara adalah sepupunya, ia merasa bersalah saat saudaranya di verhentikan kerja.
"Semua ini pasti karna istri Kevin itu, dasar wanita licik dia tak berani bersaing secara sehat denganku." Rara mengepalkan tangannya dengan sangat kesal, ia bahkan memaki beberapa kali.
"Sebenarnya aku penasaran Ra, ada hubungan apa kau dengan Pak Kevin? kenapa Pak Kevin begitu tidak menyukaimu? meskipun aku tau pak Kevin tak ramah dengan semua pegawainya tapi saat terhadapmu Pak Kevin benar benar tanpa ampun." Ari memincingkan mata penasaran.
"Sebenarnya Kevin adalah pria yang ku tolak cintanya berkali kali, bahkan di suatu jetika aku mempermalujannya di kampus." Rara menunduk penuh sesal.
"What, kau menolak Pak Kevin di masa lalu? Padahal Pak Kevin sangat tampan juga mapan."
"Kevin memang tampan sejak dulu, namun kekayaan yang ia miliki di dapat akhir akhir ini. Dulu di masa kuliah dia kere Ri, bahkan sering kali jadi kacung anak anak kampus. Aku gak mau lah punya pacar kaya dia. Mungkin ini juga penyebab Kevin tak menyukaiku hingga saat ini dia masih saja dendam kepadaku."
__ADS_1
"Sudahlah Ra, jangan mengingat masa itu lagi. Intinya kau sudah di pecat dari kantor pak Kevin. Aku permisi!" Ari pamit dari sana.
"Sial, Novia akan ku balas kau!"