
Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan yang Kevin lakukan selama beberapa waktu ini.
Terkesan tak adil, seakan penderitaan hanya menyerang diri Kevin seorang, lalu akankah semesta memberikan hukuman pada Novia yang melakukan perbuatan tak benar secara tidak sengaja.
Perbuatan itu bahkan membuahkan hasil berupa seorang janin yang kini tengah tumbuh di rahimnya.
"Vin, apa kau benar benar ingin membesarkan anak ini?" Novia bertanya dengan suka rela seakan ia telah iklas seandainya Kevin akan menolak anaknya.
"Ya aku yakin, membesarkan anak itu adalah kewajibanku juga, lagi pula dia bukanlah orang lain melainkan keponakanku sendiri." Kevin mengusap perut buncit Novia, kandungannya kini sudah memasuki usia 6 bulan dan sudah sangat terlihat besar.
Kevin sudah berdamai dengan keadaan ia sudah bisa menerima apapun yang terjadi terhadapnya.
"Sayang, besok aku ada kunjungan kerja ke bandung. Untuk sementara kau menginaplah lebih dulu di rumah ayah dan ibu, pagi pagi sekali aku akan mengantarmu kerumah mereka." Kevin kini beralih membelai rambut bergelombang istrinya, rambutnya kini begitu panjang juga sedikit lepek karna Novia belum sempat perawaran ke salon.
Novia hanya mengangguk, untuk menanggapi ucapan suaminya.
"Mau kupotong sedikit rambutnya? Agar kau terlihat sedikit segar." Kevin menawarkan yang langsung di iyakan Novia.
Kevin membawa Novia ke meja riasnya, menyisir dan menggunting rambutnya dengan hati hati hingga sebatas bahu.
Novia merasa beruntung memiliki seorang suami yang seperti Kevin.
.
Pagi pagi sekali Kevin sudah memacu kendaraannya menuju rumah mertuanya, untuk menitipkan istrinya kepada mereka.
"Saat aku tak ada, jangan hindari ibuku Novia, ucapannya mungkin saja akan menyakitimu." Kevin mengecup punggung tangan istrinya di antara tautan jemarinya.
"Memangnya kau akan pergi berapa lama?" Novia bertanya kepada suaminya.
"Belum tentu, tapi yang pasti aku akan pulang. Rasanya aku ingin menghukummu untuk beberapa waktu. Aku ingin kau merasakan bagaimana sakitnya merindukan seorang pasangan, seperti aku merindukanmu selama enam tahun." Kevin terkekeh renyah dengan ucapannya sendiri.
"Tak masalah aku menunggu, asalkan kau mau pulang kepadaku." Ada sendu di setiap kalimat Novia, entah mengapa rasanya ia merasa berat untuk di tinggalkan Kevin sekalipun untuk perjalanan bisnisnya,
"Tentu, aku akan pulang. Asalkan kau menungguku dan tak menyerah seperti apa yang kulakukan kepadamu selama ini."
"Aku akan menunggumu. Tapi aku akan menyerah jika kau singgah di tempat lain sebelum pulang kepadaku." Ucap Novia tegas meskipun dengan intonasi suara yang sangat tenang.
Kevin kembali tertawa, ada ada saja istrinya, masa iya singgah di tempat lain sebelum pulang pada istrinya.
Kevin juga mengajarkan Novia untuk mengelola perusahaannya.
"Dengan siapa kau akan pergi?" tanya Novia.
"Ari, dia adalah asistenku, mana mungkin aku pergi dengan orang lain."
__ADS_1
"Awas saja jika kau pergi untuk mengunjungi wanita lain!"
"Tidak akan. Wanitaku jauh lebih mempesona dari pada wanita di luar sana." Kevin menjawil dagu runcing istrinya.
Setelah menitipkan Novia, Kevin pergi dengan mobil yang di kemudikan oleh Ari, pria itu sudah menunggu lebih dulu di rumah mertua Kevin.
Sepanjang perjalanan Kevin memejamkan matanya, hingga ia sama sekali tak menikmati perjalanan karna lebih memilih untuk menjelajahi alam mimpi di kursi penumpang di belakang.
Hingga entah apa yang terjadi-
Brrraaaakkkk ...
Mobil yang di kemudikan Ari menghantam sebuah kendaraan lain hingga mobilnya memantul kemudian merguling guling di jalanan yang lumayan ramai.
Kevin sempat membuka matanya sebentar, kemudian ia tak mengingat apapun lagi, pandangannya menjadi hitam entah apa yang terjadi selanjutnya Kevin sama sekali tak mengingatnya.
Kecelakaan tabrakan di tol menuju kota bandung itu terjadi hingga menyebabkan arus lalu lintas terhambat.
.
"Tak mungkin. Ini tak mungkin."
Brak,
Novia bahkan menjatuhkan ponsel di genggamannya, saat setelah menerima panggilan dari pihak rumah sakit.
"Ibuuuu!" Novia berteriak memanggil ibunya, hingga ibu Tikah dan ayah Anwar mendekat kearah Novia yang sudah bersimpuh di atas lantai.
Novia menangis serta meraung, dengan tangisan yang layaknya anak kecil, ingin rasanya Novia berguling guling di lantai untuk mengungkapkan kekhawatirannya kepada keadaan Kevin.
Hwaaa ...
"Ada apa Novia? Ada apa?"
Ibu Tikah merangkul Novia dalam pelukannya.
"Ada apa Novia? Katakan pada ibu Nak?"
Novia tak menjawab wanita itu masih fokus dalam tangisannya, meraung dan mnangis adalah satu satunya yang bisa Novia lakukan. Novia bahkan sempat tak sadarkan diri untuk beberapa waktu.
"Novia!"
Ibu dan Ayah Novia bahkan memberikan minyak angin di lubang hidung putri mereka.
Perlahan Novia membuka kedua matanya, hingga wanita itu kembali melanjutkan tangisannya.
__ADS_1
"Bu, Kevin Bu. Dia dan asistennya kecelakaan, polisi mengatakan salah seorang dari mereka meninggal. Bagai mana jika yang tiada adalah Kevinku Bu?" Novia kini kembali menangis di pelukan ibunya.
Setelah di rasa cukup tenang Pak Anwar dan ibu Tikah membawa Novia kesebuah rumah sakit yang alamatnya di kirimkan oleh polisi yang menelponnya tadi.
"Ayah bagai mana jika Kevinku yang tiada?" Novia mengulang ulang pertanyaan serupa.
"Nak tenanglah, kita tak tau apapun yang terjadi, polisi juga tidak menemukan identitas, jadi belum tentu Kevin yang meninggal, bisa saja Ari kan?" ayah Novia berusaha menenangkan putrinya meskipun ia sendiri juga cemas akan kebenarannya.
Setibanya di rumah sakit gegas Novia dan ayah ibunya mendatangi resepsionis untuk berrtanya keberadaan suaminya.
Seorang petugas menunjukan keberadaan korban kecelakaan hari itu.
Rupanya di depan sebuah ruangan sudah ada keluarga Kevin yang tengah menunggu.
Di sana ada juga Kendrick dan Rifan yang tengah menunggu keterangan dari beberapa dokter yang tengah memeriksa Kevin.
Ibu Maryati sudah menatap berang ke arah Novia dengan pandangan membenci yang di tunjukan keaarah menantunya.
"Gara gara kau putraku selalu mengalami kemalangan. Selalu mendapatkan kesusahan yang bertubi tubi. Tidakkah kau kasihan kepadanya? Kumohon menjauhlah dari putraku!"
Bagai mana mungkin Novia bisa meninggalkan seorang pria yang sudah menunggu dan menantinya dengan kesetiaan selama enam tahun? Bagaimana bisa Novia melepaskan pria yang menerimanya sekalipun Novia datang dengan keadaan berlumur dosa.
Novia masih bungkam, ia tak menyauti perkataan ibu mertuanya, sekarang yang di tunggui keluarga Kevin ada di depan ruangan icu, itu artinya Kevin masih dalam keadaan hidup, ya jika Kevin dalam keadaan tak bernyawa mungkin saja pria itu berada di ruangan jenazah.
"Mantra apa yang kau terapkan kepada putraku sehingga dia begitu tak waras saat menginginkanmu!"
"Bu, berhenti menyudutkan Novia!" Kendrik tak senang, saat ibunya selalu menyalahkan ibu dari calon anaknya.
"Lebih baik kau diam Kendrick, kau tak tau seberpengaruh apa Novia kepada Kevin, wanita ja-lang itu merubah putraku yang penurut menjadi seorang pembangkang juga pemberontak.
"Novia pergi dari sini! Selama ini kau selalu membuat putraku sengsara. Akhi hubungan kalian!"
"Bu, Kumohon diamlah! Aku tengah kacau. Aku juga memiliki hak untuk berada di sini aku istrinya."
"Vih, istri macam apa yang sudah bersuami tapi malah mengandung benih pria lain?"
"Tutup mulutmu! Putriku menjadi terhina juga karna perbuatan putramu yang lain. Kau seakan terus menghakimi putriku, sedangkan kesalahan putramu begitu kau abaikan! Didik putramu, sebelum terus menyalahi putriku." Ayah Anwar terlihat sangat marah saat putrinya terus di salahkan.
Ceklek ...
Pintu terbuka, menampilkan seorang dokter yang barusan sudah memeriksa seorang pria di dalam.
"Bagai mana keadaan putra saya dok?"
Novia turut mendekat untuk mendengar penjelasan dokter.
__ADS_1
"Pasien mengalami cidera di kepala karna benturan yang cukup keras, sejauh ini tidak memerlukan tahap oprasi, tapi sepertinya pasien akan mengalami cidera otak atau amnesia."
"Kumohon jangan!"