
"Bayi itu bukan milikmu Kevin, dia berkhianat kepadamu! Bayi itu milik pria lain."
"Ibu!"
Novia menarik ibu mertuanya keluar dari ruangan tempat Kevin di rawat, cukup sudah ibu mertuanya ikut campur tentang rumah tangganya.
"Bu, jabgan membuat Kevin berpikir terlalu dalam. Nyawanya dalam bahaya jika ibu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi sekaran. Beri aku waktu untuk mengatakan semuanya." Novia terlihat memohon kepada ibu mertuanya.
"Dan kau justru akan merekayasa apa yang terjadi." Maryati kembali masuk, ia ingin mengatakan semuanya kepada putranya, sekalipun Kevin tak mempercayainya.
Maryati justru mendorong Novia hingga wanita itu hampir terperosok, Novia bahkan merasakan kram di perutnya hibgga ia tak bisa mencegah ibu mertuanya untuk masuk, lalu kemana perginya semua orang?
Ayah ibunya juga tak ada.
Saat Maryati kembali masuk Kevin tengah meminum segelas air.
"Sedang apa ibu disini?" Yang Kevin ingat hanyalah ibunya yang kejam yang sudah mengusir dan tidak memberikan restu kepada pernikahan mereka.
"Ibu ingin mengatakan semuanya Kevin!"
Maryati mulai menceritajan semuanya menurut versinya, Maryati bahkan tak membiarkan Kevin menyela ucapannya, yang tentu saja sedikit di bumbui kebohongan.
"Novia kini tengah mengandung anak dari Kendrick adik kembarmu. Hal itu terjadi saat ia menjadi tenaga kerja di negara Dubai, dia juga licik dan mengatas nanakan harta yang kalian kumpulkan bersama atas namanya." papar ibu Maryati dengan penuh kemarahan.
Tak salah jika Maryati marah, meligat kemalangan yang di derita putranya, tapi dirinya seakan menutup mata akan ketidak berdayaan Kevin yang menjadi pemicu utama Novia pergi ke negri dubai untuk mengubah nasib.
"Bu, tolong jangan terus memfitnah istriku." Kevin mencoba menyangkal apa yang terjadi, meski apa yang di katakan ibunya memang melukainya.
"Demi Tuhan. Ibu tak berdusta Vin. Novia memang hamil anak Kendrick."
"Ibu memang tak tau segila apa istrimu di luar negri, tapi kau bayangkan saja, va gi na itu letaknya tersembunyi, Novia tak mungkin hamil begitu saja, pembuahan tak semudah itu dengan sekali injak langsung jadi. Kau juga mengaku saat sebelum menikahi Novia kalian kerap kali melakukan hubungan itu. Pembuahan tak semudah menginjak ibu jari kaki yang langsung terasa. Novia dan Kendrick pasti melakukan hal itu berkali kali." ucapan Maryati begitu menohok, dan membuat Kevin kebingungan.
__ADS_1
Benarkah apa yang di katakan ibu? Kevin merasa bimbang, tapi sekuat mungkin ia mencoba mengingat hal itu Kevin tidak mengingat apapun selain kecelakaan yang terjadi terhadapnya.
Novia masuk dengan mememegangi perutnya, niat hati ingin mencegah ibu mertuanya mengatakan kebenarannya nyatanya Novia sudah terlambat.
"Tanyakan pada istrimu anak siapa yang ada dalam rahimnya!" ibu Maryati merasa di atas angin saat Kevin menatap Novia dengan tatapan meragu.
"Novia, katakan jika bayi itu adalah milikku!" Kevin bertanya dengan penuh keraguan, tapi srandainya Novia berbohongpun Kevin akan menerimanya, Kevin sungguh tak siap jika Novia mengatakan bayi itu bukan miliknya.
"Katakan Novia!" Kevin meninggikan srluaranya, saat hanya mendapati kebungkaman di mulut Novia.
"Maaf Vin, bayi ini bukan milikmu. Tapi aku tak seburuk apa yang di katakan ibumu." Novia menatap nanar, akankah Kevin bertindak semaunya seperti yang terjadi beberapa bulan lalu saat ia baru mengetahui kabar ini.
"Lalu apa kau mau mrngatakan jika kau istri setiq yang suci?" Kecewa tentu saja.
"Aku pikir kau tak sehina ini Novia. Apakah aku juga berlaku berengsek saat kau tak ada, sehingga kau berbalas dendam kepadaku."
"Apa kau ke dubai juga ingin memuaskan hasrat sek s ualmu?"
"Tutup mulutmu Kevin! Aku tak penah mengungkit atau membenarkan tindakanku, tapi kau sudah memaafkan aku dan berjanji akan memaafkan segalanya."
"jika seperti itu yang terjadi, itu hanya Kevin bodoh Novia, sekarang Kevin itu telah tiada, mataku sudah terbuka. Untuk itu aku jatuhkan kau talak satu."
Jelebet jeder ...
Semudah itu Kevin menjatuhkan talak terhadapnya.
"Akan ku revisi semua harta yang atas namamu, kita akan membagi rata hatra itu."
Kevin tak mampu berpikir jernih. Ia menelan bulat bulat pengakuan ibunya.
Maryati tersenyum penuh kemenangan ini yang ia harapkan sejak lama, Kevin akhirnya mengabulkan keinginannya.
__ADS_1
"Tak masalah kau menceraikanku. Tapi tidakkah kau berpikir mengapa bisa aku pergi ke luar negri? Tidakkah kau berpikir jika aku menggadaikan marwahku sebagai tulang rusuk menjadi tulang punggung hanya untuk memperbaiki ekonomi keluarga kita. Tidak maukah kau mendengar penjelasan recehku atas asal mula bayi ini? Apakah kehilang ingatanmu juga menghilangkan seluruh cintamu? Baik Kevin baik. Lakukan apapun maumu. Sejak awalpun aku tidak serakah, jangan kau sesali, talak yang kau lontarkan dengan mudah ini sah. Aku pergi, kita tidak terikat hubungan lagi. Kita akan berjumpa di pengadilan."
Kevin yang di landa emosi tak menggubris apapun yabg Novia katakan, semoga setelah ini ia tidaklah menyesal.
"Semuanya sudah berakhir." Novia menyeret kakinya dengan sangat berat keluar rumah sakit.
"Kesalahanku satu malam membuatku hancur seperti ini!" Novia menerobos hujan yang menyapa kota. Ia ingin menyamarkan air mata yang berjatuhan sedari masih di ruangan pria yang sudah menjatuhinya talak satu.
"Sakit Tuhan." Adu Novia pada malam yang baru saja di mulai.
Sebuah mobil berhenti di dekat Novia yang tengah berjalan menerobos air hujan.
Seseorang keluar dengan payung yang ia bawa, rupanya pak Anwarlah yang datang, selaku ayah Novia.
"Sayang ada apa? Apa yang terjadi? Mengapa bisa seperti ini?" Pak Anwar terlihat kebingungan melihat putrinya, tadi saat ia mengantarkan istrinya pulang Novia dan Kevin terlihat baik baik saja, mereka bahkan sempat terdengar bergurau.
"Kevin Yah, Kevin menalakku Yah." Novia memeluk tubuh ayahnya, ia seakan berharap ayahnya mampu menyerap setiap kesakitan yang ia terima.
"Mengapa bisa?"
"Dia tau aku hamil bukan anaknya di tak terima itu dan menyalahkan serta menalakku." Novia terisak, suaranya sedikit tersamarkan oreh suara gemuruh air hujan yang cukup besar.
Payung yang semula di bawa pak Anwar entah lenyap kemana.
"Sialan. Beraninya pria itu menyakitimu. Mengapa dia tak mati saja dari pada harus melukaimu Sayang." Pak Anwar turut menumpahkan air matanya, ayah mana yang terima melihat putrinya di perlakukan seburuk ini.
"Aku yang salah Yah, aku yang salah." Novia tak tau lagi harus seperti apa, di saat prianya sudak memutuskan melepaskannya, ia tak memiliki alasan untuk memohon, karna memang kesalahan terletak padanya.
"Semua karna bayi ini, aku membencinya Yah, aku membenci bayi ini! Mengapa dia harus hadir dia antara aku dan Kevin, bayi sial ini mengacaukan hidupku. Dia menjadi penyebab cinta kami lenyap." Novia mengamuk, di bawah guyuran air hujan ia meraung, tanpa seorangpun yang menghentikannya termasuk ayahnya sendiri.
"Menangislah putriku! Berteriaklah! Tuhan sengaja menurunkan hujannya malam ini untuk menyamarkan kemalanganmu. Jika sudah lelah mengeluh, peluk Ayah, kita akan pulang bersama." Bibir berkumis pak Anwar bergetar saat mengatakan itu.
__ADS_1
"Iya ayah, aku perlu menangis. Semua akan baik baik sajakan?" Novia tak mengingat apapun lagi, saat kantuk menghampirinya dan membawanya kealam mimpi.