
"Ayah, bawa aku pulang! Dan tolong urus perpisahanku dengan Kevin secepatnya."
Degh ...
"Tidak, apa maksudmu kau berkata seperti itu?" Kevin yang semula diam kini protes saat Novia ingin berpisah dengannya, keinginan wanita itu tak main main rupanya.
"Vin jangan keras kepala! Hubungan kita sudah tak bisa di selamatkan, kau dan aku kita berdua memiliki kisah yang berbeda, kau setia terhadapku kan? Sedangkan diriku? Aku hanya membawa kotoran kewajahmu. Jadi aku rasa hubungan kita memang harus di akhori secepatnya." Novia berujar sembari memegangi lehernya, sepertinya syal itu seakan melukai pita suaranya.
"Aku tidak mau! Perpisahan hanya akan terjadi jika kedua belah pihak setuju, sedangkan diriku menolak keras akan hal itu. Ayah awas saja jika Ayah sampai ikut campur merusak hubunganku dengan Novia!" Kevin memperingati ayah mertuanya dasar menantu kurang ajar!
"Nak kau dalam keadaan hamil, pengajuan perpisahan akan di tolak hakim sampai kau melahirkan." Ayah Anwar berujar lembut, sedikit banyak ia mengetahui hal itu.
"Aku hamil bukan benihnya Yah."
"Ayah tau, tapi hal itu tak menjadi alasan untuk pembenaran, justru kau akan mempermalukan dirimu sendiri jika mengaku hal konyol seperti itu." Ayah Anwar tak ingin memanfaat keadaan putrinya yang tengah putus asa, ia juga tau kesetiaan menantunya saat Novia jauh dari pria itu.
Di saat banyak para wanita menawarkan diri, Kevin terus membatasi diri dengan hal hal positive salah satunya gemar bekerja.
Kevin juga sampai memutus hubungan dengan beberapa temannya, di saat teman temannya mulai mempengaruhi dirinya yang tidak tidak.
Ayah Anwar tak melepas menantunya begitu saja saat putrinya keluar negri, ia menyuruh seseorang untuk memata matai Kevin, dan sejauh pantauannya Kevin setia terhadap putrinya.
"Bicaralah berdua! Ayah rasa kalian perlu ruang. Ayo Bu, kita keluar!" Ayah Anwar mengajak istrinya untuk menjauh dari sana.
"Novia." Panggil Kevin lembut, pria itu mendekat dan menggemggam sebelah tangan istrinya. Namun Novia menarik tangannya dengan sangat kasar.
"Aku minta maaf karna sudah menyakitimu. Aku menyesal, aku sadar aku tak bisa tanpamu, aku tak ingin kehilanganmu! Aku mengalah Novia, akan ku biarkan bayi itu menjadi anakmu. Meskipun aku tak bisa mengakuinya sebagai anakku, aku berharap kau mengerti ini tak mudah untukku Novia." Kevin sudah berpikir matang matang jika dirinya akan melanjutkan pernikahannya, satu kesalahan Novia akan ia tutup rapat dengan beribu kebaikan istrinya.
__ADS_1
"Maaf karna menyakitimu setiap waktu." ujar Kevin kembali.
Novia memahami perasaan Kevin, juga memaklumi apa yang terjadi. Namun hatinya sudah cukup sakit akan perlakuan Kevin, terlebih pria itu memperkerjakan wanita bernama Rara tanpa seijinnya, dan jelas sekali di mata Rara jika wanita itu menginginkan suaminya.
"Aku perlu waktu untuk ini Vin, kau tak perlu menungguku untuk hidup bahagia. Bukankah kau sangat memuja wanita bernama Rara itu? Pergilah bersamanya! Mulailah kisah kalian biarkan aku sendiri menyembuhkan luka yang ada di hati ini." Novia berpaling, ia merasa minder jika di hadapkan dengan wanita dewasa yang bergelar sarjana itu. Sedangkan dirinya hanya tamatan SMA, saja hampir tak lulus karna keburu hamil dan di nikahkan.
"Aku tak menginginkan wanita manapun selain dirimu Novia!"
"Aku juga tak bisa menghadirkan pria yang kau minta sebagai syaratmu kan? Aku rasa perpisahan adalah jalan terbaik Vin."
"Aku tidak mau."
Kevin tetaplah Kevin, pria yang tak ingin mendengarkan apapun dari siapapun.
Tanpa keduanya duga di luar ruangan ada Ari bersama Rara, yang tak sengaja mendengar percakapan mereka karna pintu kamar ruang inap itu sedikit terbuka, namun keduanya dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka perbincangkan.
Karna tak ingin mengganggu perbincangan atasan dan istrinya Ari membawa Rara untuk pergi dari sana.
"Perlu kau ketahui tak ada yang lebih ku cintai sebesar dirimu Novia, aku gila! Aku tak tertolong lagi."
"Vin, orang tuamu juga akan membenciku jika mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dan tak menerima anak ini!" Novia sudah berpikir matang matang jika memang jalan terbaiknya adalah pisah.
"Aku tak perduli Novia, mungkin cobaan rumah tangga kita berada di anak ini. Tapi sudahlah, dia ada juga dalam ikatan perkawinan kita. Aku akan berbaik hati memberikan kasih sayanhku sedikit padanya." Kevin meluluh ia ingin terus menerus semakin merusak hubungannya dengan Novia.
"Cukup sekali aku jauh darimu Novia, dan aku tak menginginkan hal itu terulang kembali." tekad Kevin kuat.
Butuh waktu dua hari untuk memulihkan kondisi Novia di rumah sakit. Ayah Anwar dan ibu Tikahpun sudah pamit pulang, mereka bersyukur hubungan Kevin dan Novia dapat di selamatkan. Meskipun tanpa mereka ketahui Ayah Anwar mengajukan beberapa hal kepada Kevin sebagai syarat jika pria itu tak akan menyakiti putrinya lagi.
__ADS_1
"Kita mulai dari awal hubungan kita. Kuanggap bayi itu adalah benihku di masa lalu." Ujar Kevin pelan, ego masih menolak akan kenyataan bayi itu.
"Aku memiliki 2 syarat untuk itu." Bukan hanya Kevin saja yang merasa tersakiti oleh keadaan, keduanya menderita luka yang sama meski dengan cara yang berbeda.
"Katakan."
"Yang pertama kau tak boleh mengungkit dan menghina bayiku sebagai anak haram lagi. Meski itu kebenarannya, hatiku selalu saja terluka saat kau berkata buruk tentang bayi ini. Jika kau memang tak bisa merevisi kalimat kalimat pedasmu, akan lebih baik jika kita mengakhiri pernikahan kita sesrgera mungkin." ucap Novia tegas, Kevin memang merasa dirinya juga sudah keterlaluan selama ini.
"Baik, aku tak akan berkata buruk lagi mengenai bayi itu."
"Dan yang kedua, aku ingin kau memberhentikan Rara sebagai pegawaimu."
"Tapi kenapa? Aku memerlukan alasan yang masuk akal!" Kevin menatap dalam manik Novia yang membara, istrinya itu memang pecemburu luar biasa.
"Aku tak menyukainya! Aku cemburu jika wanita yang pernah kau sukai ada di sekitarmu. Aku cemburu saat ada orang lain mengataimu tampan. Dan aku hanya ingin membatasi setiap peluang hadirnya orang ketiga di rumah tangga kita. Aku tau aku memang bukan wanita baik, tapi aku tak ingin suamiku tersesat dengan wanita lain. Bukankah aku adalah rumahmu?" padahal dalam hati Novia takut tak mampu bersaing dengan wanita itu.
"Tentu saja, kau rumahku, wanitaku juga harga diriku. Karna kau mengaku cemburu itu artinya kau masih mencintaikukan?" Kevin menyelipkan surai rambut Novia kebelakang telinga istrinya.
"Memangnya sejak kapan aku mengatakan tidak mencintaimu lagi?"
"Oh istriku yang manis."
"Jadi bagai mana apa kau menyetuji kedua syaratku?"
"Aku menyetujuinya. Akan ku pecat wanita itu sekarang juga!" Kevin meraih ponselnya dan segera menghubungi asistennya.
Tanpa pikir panjang lagi Kevin menuruti keinginan istrinya.
__ADS_1
"Anak baik, aku sudah menuruti keinginan ibumu."