Benih Lain Di Rahim Istriku

Benih Lain Di Rahim Istriku
Aku tak suka berbagi


__ADS_3

"Siapa wanita itu?"


Degh ...


Sial mengapa Kevin ceroboh sekali? Membiarkan potret istrinya di lihat oleh adik kembarnya, Kevin harus bisa menyembunyikan istrinya dari pria itu atau Kendrick akan mengetahui jika istrinya tengah hamil anaknya.


"Bukan urusanmu!" Kevin memasukan ponsel miliknya tanpa membaca pesan yang masuk ke ponselnya terlebih dahulu.


Saat Kendrick hendak bertanya lagi ibunya segera mengurungkan niat putra keduanya. "Ibu mohon maafkan Ibu, tinggallah di sini ibu akan menebus kesalahan ibu dengan di masa lalu, ibu akan memasakanmu setiap hari juga mencuci bajumu. Ibu akan melakukan hal hal yang seharusnya kau dapatkan di masa kanak kanakmu Ken." Ibu Maryati terlihat memohon.


Kendrick tersenyum sinis, "Apa ibu pikir aku sangat miskin hingga tak dapat melakukan hal itu, aku bisa membayar orang untuk melalukan tugasku. Rasanya aku tak bisa tinggal di rumah kecil seperti ini." Kendrik mendongak menatap langit langit rumah ibunya juga beberapa barang di sana.


Sebenarnya rumah ibunya cukup besar, tapi Kendrick tak bisa memaafkan ibunya vegitu saja.


"Bu, apa tujuan ibu dan ayah menyembunyikan kebenaran ini dariku? Sampai umurku sedewasa ini kalian tega menyembunyikan hal sebesar ini." Kevin akhirnya dapat mengucapkan pertanyaan yang tercokol di kerongkongannya sedari tadi.


"Maafkan ayah. Ayah yang bersalah, karna telah merebit ibu kalian dari tangan ayah kalian." Ayah Hasan menunduk, tapi dengan segera ibu Maryati menggenggam tangannya,.


"Bukan hanya salamu saja, ini juga kesalahanku. Kita sama sama bersalah akan hal ini. Vin." ibu Maryati menghadap kearah putranya.


"Maafkan ibu, ibu memang bukan wanita yang baik. Tapi ibu mencintai ayah Hasan, menyakiti ayah kalian di luar kuasa ibu " Ibu Maryati menunduk, tangisnya kembali pecah saat itu.


"Ck, ck ... Pasangan yang sangat serasi." Kritik Kendrick. "Tidakkah kami dapat menahamu, maksudku aku dan Kevin, tidakkah ibu memikirkan perasaan kami saat ibu bermain gila dengan pria itu?" Kendrick menunjuk ayah Hasan, sumpah demi apapun, Kendrick ingin mematahkan leher pria itu, pria yang sudah merebut seorang istri dari suaminya, menculik ibu dari anak anaknya.


"Maafkan ayah Kendrick, ayah tak berdaya kami saling mencintai." Ayah hasan tak membela diri sama sekali, satu satunya alasan yang ia katakan hanya cinta.


Cuih, Kendrick meludah ke sebelah kanan, tepat di atas lantai.


"Menjijikan."


Kevin tak menyalahkan reaksi berlebih yang di tunjukan Kendrick kepada ayah sambungnya, ia memahami sedalam apa luka yang di derita Kendrick. Tapi hal itu tak lantas membuat Kevin membenci ayah sambungnya, Ayah Hasan menjadi ayah yang baik untuknya ia adil memperlakukan Kevin dan Rifan putra kandung pria itu, bahkan Kevin tak menfmduga jika ia merupakan seorang anak tiri dari ayah Hasan.

__ADS_1


"Kapan kau akan menemui ayah Vin?" Tanya Kendrik sesaat setelah berhasil menetralkan kekesalannya.


"Dimana beliau?"


"Madih di Dubai."


Jevin memejamkan mata sejenak, fix Kendrick adalah pria yang di maksud Novia.


"Dubai? Vin bukankah istrimu bekerja di Dubai?" sial ibunya mengacaukan semuanya, ia berusaha melindungi identitas Novia di hadapan Kendrick, takutnya hal serupa yang terjadi pada ayah dan ibunya terulang di masa sekarang.


Karma macam apa ini?


"Hmm, tapi istriku tak pernah keluar dari rumah majikannya, tak mungkin kalian pernah bertemu." potong Kevin cepat, ia takut Kendrick lebih dulu menyadari sesuatu.


"Istri? Kau sudah menikah Vin?"


Meski Kendrick tak menyukai keberuntungan Kevin tapi ia tak berniat merusak persaudaraan mereka, Kevin saudaranya, ayahnya berpesan supaya mereka saling menyayangi dan melindungi. Ayahnya begitu menyayangi keduanya dengan amat sangat.


"Kau memiliki Foto ayah? Aku ingin melihatnya?"


Kendrick mengambil ponsel pintarnya dan menunjukan foto foto ayanya.


"Dia menyayangimu juga Vin, meski dalam keadaan serba paspasan ayah selalu membeli dua barang, beliau selalu mengatakan takutnya kau pulang dia sudah menyiapkan banyak hal untuk kita, mobil rumah tanah, semua investasi juga di bagi tmrata namamu dan namaku dia pria tua yang sangat adil."


Kevin menatap foto ayah kandungnya lambat lambat, air matanya terjatuh, ada segumpal luka yang tak bisa ia jelaskan dengan benar rasanya.


"Mengapa ayah duduk di kursi roda? Apa ayah sakit?" terdengar nada cemas di suara Kevin yang bergetar.


"Ayah tak sakit, dia hanya sedikit manja saja." kelakar Kendrik, "Kemarin, maksudku beberapa waktu lalu kakinya terkilir saat bermain golf, jadi aku tak ingin mengambil resiko takutnya keadaan kakinya senakin parah." Kevin meraba wajah di foto itu.


"Maafkan Kevin karna tak pernah menganggap Papa ada."

__ADS_1


Ayah Hasan merasa sesak, meski sepenuhnya ia menyadari Kevin bukanlah anaknya tapi melihat anak yang ia besarkan dengan sepenuh hati menyebut ayah lain kepada pria lain cukup membuatnya cemburu, sekalipun pria itu adalah ayah Kevin sendiri.


Ayah Hasan beranjak, ia hendak berlalu tapi Kevin memegangi tangannya. "Ayah juga ayahku. Aku menyayangi ayah juga, meski ada ayah lain yang merupakan ayah kandungku. Ayah Hasan tetap ayahku, dunia mengenalku sebagai putramu. Aku tak perduli seburuk apa ayah dimata orang lain, tapi bagiku kau ayah terbaik." Kevin memeluk ayah sambungnya, ia tak berdusta akan ucapannya barusan.


"Terima kasih, kau memang putraku.." Ayah Hasan memeluk putra sambungnya, ia memang menyayangi Kevin, layaknya putranya sendiri.


Cukup lama keempatnya berbincang meskipun Kendrick hanya menampilkan kebenciannya kepada ibu dan ayah sambuhnya,


"Aku harus kembali." Kevin berdiri ia menyudahi perbincangan mereka lebih dulu, Kevinlah yang paling netral disini, ia tak menyalahkan ataupun menghakimi ibunya. Ia paham benar bagaimana cinta jerap kali bertindak di luar nalar.


"Kenapa buru buru Vin?" Ibu Maryati seakan enggan melepas kepergian puta pertamanya.


"Novi- maksudku istriku pasti sudah menunggu, tadi aku hanya pamit sebentar." Bohong Kevin.


"Memangnya ada hal penting apa Vin? Tumben sampe datang tidak menelpin saja?"


Kevin membisu, ia tak mungkin juga mengatakan kedatangannya kemari untuk meminta penjelasan tentang pria yang menyerupai dirinya, pria itu bahkan membuat istrinya menangis karna menganggap jika yang ada di foto itu adalah dirinya.


"Aku hanya ingin menengok kalian saja, mungkin Tihan sengaja ingin mengumpulkan kita dalam satu pertemuan." Kevin berkelakar.


"Bu tunjukan kamar mana yang bisa ku tempati? Aku lelah." Kendrik berdiri.


"Asal bukan kamarku saja." sahut Kevin.


"Dasar pelit, lagipula aku takk suka menumpang pada tempat orang." sahut Kendrick.


"Dasar pembual. Kau bahkan menumpang menumbuhkan benihmu di rahim milikku." ingin sekali Kevin meneriaki hal itu di wajah kembarannya, namun ia masih mengingat akan resikonya.


"Bu jangan biarkan dia menempati kamarku, atau menyentuh apapun barang milikku! Aku tak suka berbagi sekalipun dengan adikku sendiri!" Kevin berujar penuh maksud. Ia bahkan mengunci kamarnya sendiri dan membawa kuncinya.


"Dasar pelit!"

__ADS_1


"Terserah!"


__ADS_2