Benih Lain Di Rahim Istriku

Benih Lain Di Rahim Istriku
Mengapa harus Kevin?


__ADS_3

"A-a, apa maksudmu?"


"Akulah pria yang kau katakan keparat! Akulah pemilik benih dari bayi yang di kandung menantumu. Jadi bagai mana? apa kau mau meralat atau membatalkan kutukanmu?"


Kendrick melangkah maju, sedangkan ibu Maryati malah mundur beberapa langkah, wanita tiga orang anak itu justru tersentak dan hampir terjengkang kebelakang saat mendapati kalimat pernyataan dari putra keduanya.


"Apa maksudmu Kendrick?" ibu Maryati kembali bertanya, seakan jawaban Kendrick barusan tak memuaskan rungunya.


"Aku ayah biologis dari bayi menantumu. Akulah pria keparat yang sejak tadi kau layangkan sumpah serampah. Bukankah setiap kalimat dari seorang ibu bahkan menembus langit? Lalu apa yang harus kulakukan saat ibuku sendiri mengutukku?" terdapat nada sendu juga penuh penyesalan dinada bicara Kendrik kali ini.


"Kau memang pantas dikutuk." desis Kevin.


"Ma-maksudmu kau pemilik benih yang tengah tumbuh di rahim iparmu sendiri?" Ibu Maryati bertanya dengan bibir bergetar, kesepuluh jemarinya saling bertautan.


Ini bencana! Lalu bagaimana dengan putra sulungnya? Apa yang akan di lakukan Kevin? Jika sebenarnya duri dan akar dalam pernikahan mereka adalah adik kembarnya sendiri.


"Kevin, kau tak apa Nak?" Maryati hanya memperdulikan perasaan Kevin kali ini, untuk sesaat Maryati mengabaikan apapun tentang Novia dan Kendrick. Sungguh akan lebih baik jija Kendrick tak kembali jika harus menyakiti Kevin seperti ini.


"Vin, Are you okay?" Ibu Maryati lagi lagi nertanya hal serupa karna Kevin masih bungkam, hanya maniknya yang mulai mengeluarkan air mara. Matanya seakan mengambil alih setiap jawaban dirinya.


"Bagaimana bisa aku baik baik saja saat saudaraku sendiri menyumbangkan benihnya di rahim istriku? Ini lebih sakit dari apa pun Bu. Tapi aku tak kuasa berbuat apa apa, aku punya kendala tapi Tuhanlah sang pemilik kendali. Aku hanya mengikuti alur yang Tuhan ciptakan untukku." Sebisa mungkin Kevin menyembunyikan air matanya dengan mengusapnya menggunakan punggung tangannya, namun tetap saja air mata sialan itu tak tau diri dan terus menganak sungai.


"Kevin," ibu Maryati melirih pelan, dapat ia saksikan kehancuran putra pertamanya.

__ADS_1


Begitukah perasaan Marwan? mantan suaminya saat mengetahui dirinya hamil benih pria lain. Kejadiannya hampir sama, bedanya ia dan pria itu saling mencintai jadi tidak serumit urusan Kevin sekarang.


Keempat orang yang berada di sana mendadak membisu, sehingga keheningan tercipta, tanpa ada satupun dari mereka yang berani membuka mulut.


Yang di lakukan Novia hanya menunduk dan terisak pelan, ia juga kebingungan harus mengatakan apa, rasanya sejuta kalipun Novia mengucapkan maaf hal tersebut tak akan mampu mengurangi luka Kevin yang terlanjur menganga.


Ingin rasanya Novia menarik mundur waktu, dari pada ia harus melukai Kevin sedalam ini, rasanya akan lebih baik jika ia dan Kevin hidup dalam himpitan ekonomi.


"Novia," panggil Kevin lembut, suaranya mendayu dengan sangat lembut. Kelima jemari kekarnya meraih dan menautkannya kepada jenari Novia.


"Mari saling menguatkan!"


Selapang itukah hati Kevin?


Disaat diri pria itu dalam kehancuran, justru Kevin mengajak Novia untuk saling menguatkan.


Novia menatap suaminya dengan manik yang berkaca kaca, tatapannya tak terbaca ia pikir Kevin akan mengamuk kemudian memakinya habis habisan, ternyata pria itu justru malah berusaha menguatkannya.


"Jangan menyerah Novia, kita hanya tersandung kerikil kecil dalam perjalanan menuju surga. Kita hanya terjatuh sebentar dengan luka yang tak seberapa, kita akan melanjutkan perjalanan cinta kita setelah ini." Kevin tersenyum getir, justru Novia yang malah meraung menghambur ke pelukan Kevin.


"Maaf Vin, maaf. Kau harus terluka karna keegoisanku. Maki aku salah kan aku, itu lebih baik untukku Vin." raungan itu kini menggema di rumah besar impian mereka, untuk sesaat jebahagiaan mereka lenyap entah kema, rumah itu di hiasi oleh tangis.


"Aku yang harusnya meminta maaf Novia, aku sadar sepenuhnya kesalahan ada padaku. Keterbatasan juga melekat pada diriku. Seandainya saja aku mampu memberikanmu kehidupan yang layak kau tak akan pergi merantau ke negri orang. Harusnya kau menjadi tulang rusuk bukan malah mencakup menjadi tulang punggung. Aku bersalah Novia, maafkan aku! Karna keterbasanku kau harus mengalami hal kelam." Kevin kini semakin mendekap Novia dengan sangat erat, seakan ia takut jika Novia benar benar akan menghilang dari jangkauannya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Novia, sekalipun kau mengandung benih pria lain. Aku mencintaimu sekalipun semua orang menentang. Tetaplah menjadi istriku apapun yang terjadi."


Kendrick berpaling wajah, haruskah ia bersaing dengan kakak kembarnya sendiri?


Kevin begitu terlihat mencintai Novia, lantas apa kabar dirinya yang juga pemilik dari janin yang tengah tumbuh di rahim iparnya?


"Jika begitu aku akan mengambil anak itu jika sudah lahir, kalian bisa melanjutkan hidup kalian." Kendrick berujar datar, salahkah jika hatinya serakah dan ingin mengatakan jika dirinya ingin mengambil bayi juga ibunya?


"Itu tidak akan terjadi Kendrik." Kevin segera menyela, ia hanya tak ingin Novia terlalu banyak berpikir dan akan mengganggu kesehatannya.


"Aku dan Novia sudah sepakat, aku akan membesarkan anak itu dan menganggapnya seperti anakku sendiri, dia hadir diantara pernikahan kami! Sekalipun kau menuntut keadilan di meja hijau sekalipun kau tak akan mendapatkan hak asuhnya, akulahlah yang bertanggung jawab atas apapun tentangntlya. Terus terang aku memang tak menerima bayi itu pada awalnya, tapi setelah ku pikir pikir bukan salahnya jika ia harus hadir diantara hubungan orang tuanya yang rumit, dia juga tak pernah di tawarkan pilihan akan hadir di keluarga yang mana. Dan setelah aku mulai berdamai dengan keadaan hatiku sedikit tenang." Kevin tak berbohong akan hal ini, ia mengatakan yang sebenarnya.


"Kau selalu lebih berutung dariku Kevin, aku ingin serakah dan memgambil apa yang kau miliki Kevin." Kendrick merasa jika dirinya selalu merasa sial jika di banding dengan Kevin, bahkan benihnya malah tumbuh di rahim istri dari kakaknya.


"Dan untukmu Ibu, tolong jangan selalu menyalahkan istriku. Bahkan tanpa sadar kau mengutuk putramu sendiri, aku sudah menerima apapun takdirku. Aku memang bukan orang baik tapi setiap yang kulakukan aku selalu berhati hati, cabutlah sumpahmu itu ibu! Aku memang tidak bisa memaafkan Kendrick atas apa yang sudah terjadi, tapi aku juga tak bisa mengucapkan hal buruk padanya." Kevin membawa tangan Novia untuk keluar dari rumahnya sendiri, entah kemana pria itu akan membawa istrinya pergi, yang jelas untuk sementara waktu Kevin harus menepikan Novia dari keluarganya sendiri.


Kendrick terpaky, masih ada seseorang yang tulus kakaknya, pantas saja Novia begitu terlihat mencintai pria itu.


Jija saja Kevin berlaku berutal terhadapnya akan kesalahan yang ia lakukan terhadap Novia, justru itu lebih baik. Kendrick akan merasa tertantang dan ingin merebut Novia dari Kevin.


Tapi apa ini? Perlakuan kakaknya justru sangat jauh dari ekspetasinya, sekarang Kendrick kebingungan harus berbuat seperti apa.


Jika Kendrick bertindak menyeran atau menikung Kevin, itu sama saja dengan mengangkat senjata kepada seorang kesatria yang bertangan kosong. Bukan kah dalam perangpun hal ini di larang?

__ADS_1


"Novia. Mengapa harus Kevin yang menjadi suamimu, hal ini membuatku di lema dan serba salah."


Kendrick terus menatap bayangan kakak dan iparnya hingga kedua orang itu tak terlihat lagi.


__ADS_2