
Kevin mematung dengan tatapan tak terbaca setelah membaca pesan singkat yang di kirimkan seseorang kepadanya, lidahnya kelu bahkan untuk sekedar mengucapkan sepatah katapun ia tak mampu.
"Darimana ibu mengetahui hal ini?" tanya Kevin dalam hati, seseorang yang mengirimkan pesan singkat tersebut adalah ibunya, ibu Maryati mengirimkan pesan terhadap Kevin dan memberitau jika ia dan ayahnya akan mendatangi rumah mereka.
Ibunya juga memaki serta mengatainya sebagai lelaki bodoh karna diam saja dan tak berbuat apapun padahal Novia tengah mengandung benih pria lain.
Kevin berkacak pinggang dengan risau, yang harus ia lakukan pertama kali adalah menyembunyikan Novia ke tempat lain, ya hanya itu yang bisa Kevin lakukan. Sebisa mungkin Kevin akan memberi pengertian kepada orang tuanya jika Novia tidak sengaja mengandung benih pria lain. Namun yang Kevin takutkan sekarang adalah ibunya bertemu dengan ibunya dan sudah di pastikan jika ibu Kevin akan mencaci maki istrinya.
Kevin tau benar watak dan perangai ibunya, sehingga ia tak ingin sesuatu hal buruk terjadi kepada istrinya.
"Vin, ada apa?"
Novia menyadari jika Kevin terlihat kebingungan, raut wajahnya juga terlihat tegang bahkan Kevin beberapa kali berdecak lidah.
"Vin, ada apa?" sekali lagi Novia bertanya.
"Nov, bersiaplah! Untuk malam ini kau menginaplah di rumah ibumu, aku akan mengantarkanmu. Jika semuanya sudah membaik aku akan menjemputmu."
"Tapi ada apa?" Novia mengerutkan kening karna tak mengerti tiba tiba saja Kevin menyuruhnya pulang kerumah ibunya. Padahal hubungan mereka baru saja membaik.
Kevin tak langsung menjawab pertanyaan Novia, ia lebih dulu mendekat dan menangkup kedua sisi wajah istrinya, membingkainya dengan kedua belah tangannya yang besar.
"Ibuku akan kemari Nov, entah dari mana ia mengetahui kebenaran akan siapa bayi yang tengah kau kandung. Aku hanya tak ingin kau terluka oleh perkataan ibuku, menurutlah kepadaku, semua ini juga demi kebaikanmu. Aku akan mempertahankan kau untuk berada di sampingku, ini hanya guncangan kecil rumah tangga kita, kita sudah melalui banyak badai untuk rumah tangga kita. Percayalah kita mampu melewati ini semua." Kevin membenamkan Novia dalam pelukannya, ungkapan ungkapan cinta Kevin bisikan di telinga wanitanya.
"Bagaimana jika ibumu meminta kita untuk berpisah?" tanya Novia cemas, wajahnya mendongak dengan manik berkaca kaca. Sungguh ini adalah beban baru dalam pikiran Novia.
"Jangan pikirkan apapun!" Kevin seakan mengetahui isi kepala istrinya. "Kasihan bayimu, jika kau tertekan bayi ini juga mendapat imbasnya, untuk itu kau harus tetap happy. Lahirkan bayi ini dengan sehat agar kau juga bisa segera melahirkan bayiku." dalam keadaan apapun ego Kevin tetaplah muncul.
Novia hanya tersenyum samar, ia memahami jika Kevin masihlah memiliki ego, tak mudah untuk menjadi Kevin, semuanya butuh peroses sekalipun memaafkan. Karna iklas hanyalah omong kosong, nyatanya yang ada hanya keterpaksaan setelah itu terbiasa.
Sesuai permintaan Kevin, Novia bersiap untuk menginap di rumah ibunya.
Kevin lekas mengantarkan Novia juga menitipkan Novia kepada ibu dan Ayah mertuanya. Kevin berjanji jika urusannya sudah selesai secepatnya Kevin akan menjemput Novia atau menginap di rumah mertuanya bersama sang istri.
__ADS_1
"Ayah, Ibu aku titp Novia sebentar, tolong jaga dia." Kevin berucap sebelum meninggalkan rumah orang tua istrinya.
"Kau yak perlu khawatir, sekalipun kau tak menitipkan Novia kepada kami, kami tetap akan menjaganya sepenuh hati, dia putri kami satu satunya." Ayah Novia menepuk pundak menantunya, dan berharap jika masalah keduanya segera berlalu.
"Jangan mengecewakan kami!"
Kevin berangkat untuk menemui ibunya di rumahnya, ya ibunya mengatakan akan mengunjunginya malam ini juga.
Saat sampai di rumah, Kevin melihat mobil ayahnya terparkir di halaman rumahnya, sedangkan keduanya tak terlihat, mungkin ayah serta ibu Kevin telah berada di dalam rumahnya.
Kevin memarkirkan mobilnya lebih dulu sebelum menemui orang tuanya, helaan nafas lelah terdengar memenuhi dinginnya malam, dengan langkah gontai Kevin melangkahkan kakinya menuju rumahnya, secara perlahan Kevin membuka pintu yang berwarna coklat tua itu.
Saat Kevin memasuki rumah dua pasang mata langsung menatap ke arahnya dengan tatapan menghakimi.
Ibu Kevin langsung berdiri tegak dan berjalan kearah Kevin kemudian meminta putranya untuk menjawab pertanyaan pertanyaannnya, sedangkan Ayah Hasan hanya mampu diam saja atas apa yang terjadi, ia merasa jika apa yang di alami Kevin adalah karma dari perbuatan ia dan istrinya di masa lalu, karna Maryati sempat hamil anaknya meski masih berstatus istri dari Marwan walaupun pada akhirnya mereka menggugurkan bayi itu sebelum semuanya terkuak.
"Kevin! Kenapa kau bodoh sekali masih menerima Novia padahal wanita itu sudah hamil anak orang lain?" Tanya Maryati dengan bada yang sangat tinggi.
"Kau terlalu di butakan oleh cinta Kevin! Banyak wanita di luar sana yang masih baik baik, bukan malah menerima wanita rusak seperti Novia."
"Cukup. Jangan lancang mengatakan hal buruk tentang istriku! Dia wanitaku, mau seperti apapun keadaannya aku tak akan melepaskan, tidak akan! Hanya dengan kematian yang bisa memisahkan aku dan Novia sisanya tak akan ku biarkan hal lain merusak cinta kami." Kevin duduk di atas sofa miliknya ia mengabaikan ibunya yang mulai mengoceh.
"Kau di khianati Kevin, wanita itu hamil benih pria lain, mengandung benih pria itu pasti mereka sudah melakukan hubungan sek sual, ini bukan jaman nabi yang mana seorang wanita bisa hamil tanpa di buahi."
"Iya Bu aku tau, ibu tak perlu menjelaskannya." Kevin mulai kesal akan ibunya yang terus menyalahkan ibunya, tidak sadarkah ibunya jika semua yang terjadi kepada Novia akibat ketidak berdayaan putranya.
"Jika kau tau, bertindaklah ceraikan dia! Ibu yakin jika Novia mengkhianatimu Kevin, dia bermain gila di belakangmu! Makanya Novia hamil benih pria lain, tidak mungkin jika kejadiannya hanya sekali Novia bisa hamil." kukuh Maryati yang terus memojokokan menantunya.
"Dari mana ibu seyakin itu?"
"Ibu yakin karna ibu juga pernah berkhi-"
"Bu"
__ADS_1
Maryati menggantung ucapannya karna Hasan lebih dulu menghentikan ucapan sang istri.
Hampir saja Maryati kelepasan dalam berucap dan justru akan membongkar aibnya sendiri.
"Intinya kau harus menceraikan Novia! Ibu bisa mencarikan gadis baik baik untuknu Kevin."
"Sekali tidak tetap tidak, Novia adalah istriku sebelum ia mengandung benih pria itu Novia milikku, dan selamanya milikku! Bukan salahku jika aku tak ingin melapaskannya, semua ini karna cinta. Dan lagi" Kevin mengacungkan satu jemarinya di hadapan wajah ibunya.
"Sekalipun ibu menawariku seorang Dewi untuk mengubah status Novia di hati dan hidupku sungguh itu semua tak akan ku setujui." Kevin berujar dengan tegas, ia mengabaikan kemarahan ibunya.
"Kau sangat keras kepala Kevin!"
"Aku tak perduli."
Ibu dan anak itu terdiam untuk beberapa waktu.
"Daricmana ibu mengetahui tentang kehamilan Novia?" Kevin bertanya penuh selidik, karna selain kedua mertuanya tak ada yang mengetahui hal ini, tak mungkinkan kedua mertuanya menjelekan putri mereka sendiri.
"Tak penting ibu mengetahui dari mana."
"Katakan Bu!" desis Kevin tajam.
"Mantanmu."
"Manatanku?" Kevin berpikir tajam, karna ia tak pernah memiliki mantan lalu siapa yang ibunya bicarakan.
"Rara." sambung ibunya kembali.
"Kurang ajar! Dasar perusak!" Kevin mengetatkan rahangnya. Ia akan memberikan wanita itu pelajaran.
"Ibu Kevin mohon berhenti mencampuri kehidupanku!" pria itu mengatupkan kedua bilah tangannya di hadapan sang ibu.
"Novia tak sengaja melakukan kesalahan."
__ADS_1