
"Aku mencintaimu." Bisik Novia. "Cepatlah pulih aku merindukanmu."
"Maksudmu kau merindukan tubuhku atau bagaimana?"
Kevin menahan pergerakan Novia agar tetap pada posisinya, pria dengan perban di kepala ini malah memencium sekilas bibir Novia.
Sepersekian detik Kevin saling menatap, raut penuh puja itu masih menatap kearah Novia tanpa berkedip sedikitpun.
"Berapa minggu usia kehamilan bayi kita?" tangan besar Kevin yang masih di tancapi oleh jarum itu mengusap lembut bayi yang ia anggap sebagai miliknya.
"30 minggu." Jawab Novia, wanita itu membuang pandang hatinya selalu saja mencelos ketika Kevin mengatakan jika bayi yang di kandung Novia adalah miliknya. Novia bahkan bertanya tanya di dalam keadaan Kevin yang seperti sekarang apa yang akan di lakukan Kevin jika pria itu tau jika dirinya mengandung pria yang merupakan adik kembarnya.
Sungguh Novia mulai di hantui rasa bersalah, dan lagi bagai mana jika mertuanya justru malah membonhkar Aibnya, apakah Kevin akan tetap menerimanya seperti yang sudah sudah.
"Novia ..."
"Novia,"
__ADS_1
"Eh, i iya, ada apa?"
"Kau melamun? Apa yang kau pikirkan? Biaya rumah sakit?" Kevin mengernyitkan keningnya dalam, ia malah berpikir bagai mana caranya ia melunasi biaya rumah sakit.
"Aku tidak papa, sebenarnya ada hal penting yang hendak ku sampaikan Kevin, ini bukan lagi tahun 2015 melainkan tahun 2022." Novia ingin menyampaikan perlajan lahan apa yang sebenarnya terjadoli, ia hanya tak ingin Kevin justru mengetahui kebenarannya dari ibu mertuanya, justru hal itu yang akan menambah masalah dalam rumah tangganya.
"2022. Apakah aku tak sadarkan diri selama itu Novia? Apa selama itu aku- bagaimana bisa?" Kevin terlihat linglung dengan apa yang Novia katakan.
"Tidak seperti itu Vin, kau koma hanya dua hari tapi selama 7 tahun kau melalui masa yang sulit untuk menjadi seperti pria kaya raya sekarang."
Kevin tak fokus lagi, ia mulai berpikir apa yang Novia katakan. Lalu anak yang di kandung Novia? Artinya itu anak yang berbeda dari anak yang dulu menjadi alasan utama pernikahan mereka.
Novia menggeleng pelan rasanya tak sanggup untuk mengatakan semuanya.
"Lalu di mana anak pertama kita, apa dia sudah sekolah?" Kevin berbinar, ia berpikir jarak waktu tujuh tahun, kemungkinan besar jika anak mereka sudah sekolah.
"Laki lakikah? Atau perempuan." Kevin tak sabar sampai ia mendudukan tubuhnya.
__ADS_1
"Aku tak tau." Novia menunduk ia terisak pelan.
"Jawab Novia!"
"Anak kita sudah tiada di saat usia kandunganku 14 minggu. Kau juga merasa kehilangan saat itu."
"Ya Tuhhan." Kevin juga turut mrnunduk, hidungnya sudah merah, serta bibir yang bergetar itu menjadi bukti jika ia memang merasa kehilangan.
"Tak apa Novia, Tuhan sudah menggantinya dengan anak ini."
Ya tuhan seandainya Kevin tau jika anak itu bukan miliknya entah apa respon pria itu.
"Katakan semuanya Novia! Katakan semuanya!" Maryati masuk dengan wajah yang di angkat tinggi tinggi, tercetak jelas kemarahan di wajahnya. Wanita paruh baya itu bahkan tak memperdulikan apa kata dokter dengan jangan menaksakan agar Kevin berpikir terlalu dalam.
Sungguh Maryati ingin mengenyahkan wanita pengkhianat seperti Novia dari hidup putranya, di masa lalu pun ia tak mendapatkan maaf dari suaminya, maka dunia harus adil dengan tak memberikan maaf kepada pendusta seperti Novia.
Novia meremat kesepuluh jemarinya bergantian, ia takut jika Ibu mertuanya justru membobgkar aibnya sekarang.
__ADS_1
"Bayi itu bukan milikmu Kevin, dia berkhianat kepadamu! Bayi itu milik pria lain."
"Ibu!"