Benih Lain Di Rahim Istriku

Benih Lain Di Rahim Istriku
Paket


__ADS_3

Kevin menunggui istrinya makan hingga selesai, ia cukup puas melihat Novia bisa memakan banyak makanan yang ia inginkan di kehamilannya yang sekarang.


Sedangkan di kehamilan pertamanya Novia kekurangan nutrisi, bagai mana bisa ada gijinya sedangkan Novia kerap kali makan nasi dengan berlaukan royko rasa sapi, kata Novia iamakan dengan daging sapi pilihan, Novia juga sering makan dengan minyak jelantah yang di campur garam, paling mewah Kevin hanya mampu membelikan chiken kepala ayam yang ia beli di grobak abang abang.


Sungguh Kevin tak akan lagi menemukan wanita sebesar cinta Novia terhadapnya. Akan sangat tak tau diri jika dirinya berbuat macam macam di belakang wanita itu.


Kevin mengupaskan buah mangga juga buah Apel untuk Novia. "Makan buab, agar bayi itu lahir sehat." Kevin menggeser piring yang berisi buah di hadapan Novia.


Dulu boro boro ia dapat membeli buah buah itu untuk Novia, paling bagus Novia hanya memakan buah pepaya atau buah jeruk yang ia dapat sebagai upahnya menjadi kuli panggul di pasar.


Novia dengan lahap memasukan potongan demi potongan buah itu kedalam mulutnya, seakan dirinya tak merasa kenyang padahal ia sudah menghabiskan dua porsi nasi goreng.


"Aku rasa perutmu akan membesar bukan karna bayimu, melainkan karna makanan makanan itu." Ledek Kevin.


"Porsi makanannya terlalu sedikit Vin."


"Dasar rakus." Kevin terkekeh renyah mendengar alibi Novia yang mengatakan porsi makanannya terlalu sedikit, padahal ia cukup kenyang meskipun hanya memakan seporsi nasi goreng.


"Aku juga memakan buah ini karna takut mubadzir, kau sudah mengupaskannya untukku, mangga juga apelnya sangat manis. Aku menyukainya."


"Tentu buah buah ini manis, aku membeli kualitas terbaik di supermarket sana. Beruntung bayi itu hadir di rahimmu saat kondisi ekonomi kita tengah membaik, seandainya dia hadir di saat kita masih miskin aku yakin bayi itu bernasib sama dengan bayiku." Kevin berujar sendu, ia tak berdaya saat mengingat anaknya yang tak sempat hidup menyapa dunia.


"Bukan ganya anak ini yang beruntung Vin, anak kita selanjutnyapun akan beruntung. Maaf jarna aku kau jadi menunda impianmu menjadi seotang ayah. Tapi sungguh meski begitu sekalipun, aku tak ingin mengijinkanmu menikahi wanita manapun selain aku." Novia berujar apa adanya, ia lebih rela di ceraikan tanpa harta gono gini dari pada harus menyaksikan suaminya menikahi wanita lain.


Kevin menarik hidung bangir Novia, hingga maju kedepan. "Siapa juga yang akan melakukan hal terkutuk itu, aku terlanjur memberikan seluruh hati juga jiwaku terhadapmu. Bagai mana mungkin aku mampu berpaling darimu, meski kau jauh sekalipun aku hanya menunggu dirimu saja. Aku tak pernah berkhianat Novia sekalipun dalam mimpi."


Kevin menyatukan keningnya dan kening Novia, di mulutnya terdapat satu potong apel yang ia suapkan kemulut istrinya, kemudian di akhiri dengan ciuman panas keduanya.


Tanpa membereskan bekas makannya, Kevin menggendong Novia ke dalam kamar yang mereka tempati.


"Boleh ya aku nengokin bayimu?" Kevin menggesekan hidungnya di hidung sang istri.


"Memangnya jika aku melarang kau mau menurut?"


"Tidak."


"Haha ... Haha ..."

__ADS_1


Keduanya meletupkan tawa, seakan mereka tidak tengah menghadapi beberapa masalah. Mereka melalui malam ini dengan penuh cinta, terserah jika suatu saat nanti Kevin di hakimi takdzir karna mendatangi istrinya yang tengah mengandung anak pria lain.


.


Rara pergi kesalah satu klub yang terkenal di kota itu. Ia mendapatkan kabar dari temannya jika pria yang tengah ia incar keberadaannya tengah berada di klub malam itu.


Dari ujung gelas yang tengah Rara sesap cairan pekat di dalamnya, wanita itu tengah memperhatikan seorang pria tampan yang tengah menuangkan sampaye mewah miliknya kesebuah gelas keristal kecil yang sudah di lengkapi dengan bongkahan kecil es batu.


Meski dari kejauhan Rara dapat melihat dan menyimpulkan jika minuman yang tengah di tuangkan pria itu merupakan minuman paling mahal yang tersedia di klub malam itu, dengan kadar alkohol yang sangat tinggi. Pria yang Rara Kira adalah Kevin terlihat mahir menenggak minuman yang berada di genggaman tangannya. Seakan sudah terbiasa dengan situasi ini.


"Kevin, Kevin, kupikir kau pria yang amat taat rupanya kau biadab juga pada waktunya." Rara menyunggingkan senyuman saat melihat Kevin memangku seorang gadis di atas kedua pahanya.


Novia mengarahkan kamera ponselnya ke arah pria tampan yang tengah di kelilingi beberapa penari klub itu. Pria itu bahkan diam saja saat para wanita menciumi tubuh dan wajahnya.


Rara mengambil bebera potret untuk keuntungannya sendiri.


"Saat di hadapanku dan beberapa karyawan wanitamu kau berlaku layaknya pria sejati yang setia terhadap istrimu, tapi nyatanya kau sama saja dengan pria pria lainnya. Dasar munafik!" rara tersenyum sinis saat berceloteh seorang diri.


"Sebenarnya aku sudah bisa menebak hal ini akan terjadi, namun aku tak mengira jika secepat ini belangmu kuketahui." Rara senang dan sebentar lagi ia akan menggoncang rumah tangga Kevin, kemudian setelah semuanya berada di ambang kehancuran Novia akan menawarkan diri kepada Kevin sebagai peliputlr lara.


"Cukup untuk malam ini." Rara pergi dari klub malam itu setelah membayar minuman yang ia pesan, jika ia datang dan mendekat kearah Kevin sekarang maka semua rencananya akan berantakan, akan lebih baik Rara bermain cantik untuk kali ini.


.


Kevin memastikan ibu dan ayahnya pulang lebih dulu sebelum ia mengantar Novia pulang kerumah mereka.


Kevin pulang setelah pukul sepuluh pagi, ia mengantarkan Novia kerumahnya.


"Novia jangan menerima tamu saat aku tak ada di rumah." Sebelum sampai di rumah Kevin sudah melarang istrinya untuk tidak gegabah menerima tamu kerumahnya.


"Tapi bagaimana jika Sita temanku ingin bertemu?" Novia memiliki teman yang sudah lama belum ia temuai.


"Nanti saja setelah aku pulang, atau kita yang menemuinya nanti. Aku hanya tak ingin kau kenapa napa Novia, aku merasa orang lain berbahaya dan bisa saja melukaimu." Kevin menggenggam tangan Novia, ia mengutarakan kecemasan di dalam pikirannya terhadap sang istri.


"Baiklah."


Kevin mewanti wanti kepada seluruh pekerja di rumahnya supaya tidak menerima tamu siapapun saat ia tengah tidak berada dirumah, sekalipun orang terdekat Kevin sekalipun.

__ADS_1


"Ingat! Tolak semua tamu yang datang, jangan biarkan siapapun masuk kerumah ini saat tak ada aku."


"Baik Tuan!" ucap beberapa pekerja Kevin serentak.


Di rumah itu ada dua asisten rumah tangga yang akan pulang jika sore hari, ada juga seorang tukang kebun sekaligus supir, juga security terlatih yang bertugas 24 jam di dalam posnya, jika petugas keamanan itu cutipun akan ada gantinya untuk berjaga.


"Sayang. Aku harus bekerja lebih dulu, nanti aku akan pulang sekitar pukul empat sore. Kau baik baik di rumah." Kevin mengecup kening istrinya kemudian pamit untuk bekerja meski sudah siang.


"Kau tak makan dulu?"


"Nanti saja di kantor, aku ada pertemuan penting. Takut telat."


"Hati hati di jalan Vin."


"Jika ada apa apa hubungi aku!" Kevin berseru meski sudah memasuki mobilnya, "Jangan telat makan Yang."


"Ya Vin." Novia melambaikan tangannya saat mobil Kevin mulai di hidupkan dan menjauh dari pekarangan rumah.


Novia masuk dan langsung menuju meja makan, ia perlu menyantap lebih dulu makanan sebelum berlalu ke kamarnya untuk tidur siang.


Semua pekerja di rumah Novia ia ajak makan bersama di teras depan rumahnya.


Hingga makannya selesai dan semua orang kembali pada kesibukannya seorang kurir pengantar paket datang menghampiri security yang bertugas di posnya dan menyerahkan sebuah amplop berukuran cukup besar berwarna coklat.


"Pak ada paket atas nama ibu Novia." Tukang paket itu menyerahkan amplop yang masih tersegel dengan rapih, di atas paket itu ada nama nyonyanya juga alamat yang tertera benar adanya.


"Baik, tapi nyonya kami tengah tidak ada di rumah. Biar saya tanda tangani." Sesuai perintah tuannya Security itu tak membiarkan orang asing bertamu.


Seseorang di dalam mobil tersenyum sinis, "Rupanya Kevin membatasi orang lain untuk bertemu istrinya, sepertinya Kevin tak ingin keberengsekannya tercium sang istri." mobil berwarna merah itu kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah Kevin.


"Nyonya ada paket."


Security itu menghentikan kunyahan Novia yang tengah memakan pie susu yang di buat pekerjanya.


"Paket?"


Novia segera meraih amplop itu dan segera membukanya.

__ADS_1


Tangan Novia bergetar hebat dengan perasaan yang sangat sesak, tangan itu bahkan menjatuhkan beberapa lembar foto di genggamannya.


"Panggil Mang Asep. Antarkan aku ke kantor Kevin!"


__ADS_2