
Di hari yang cerah, terlihat seorang gadis yang berambut panjang, dengan buku di tangannya. sedang berjalan, berangkat ke sekolahnya, dan mengenakan seragam sekolah, yang berlambang SMA Adipati gayapura.
Hari ini, dia sangat senang sekali. Pertama kali masuk SMA, dengan nilai kelulusan yang tinggi. Dan mendapat biaya siswa, bersekolah di sekolah SMA megah dan terpopuler di Indonesia.Dan tak lama kemudian, seseorang memanggil namanya dari belakang.
"NAILA! Woi tungguin!"
Mendengar suara panggilan, yang menyebut namanya, dia berbalik dan melihat teman SMP nya Tasya, dengan ngos-ngosan mengejar nya.
"Ada apa? Kok kamu ngos-ngosan gitu? Abis di kejar anjing yah? hahaha." Canda Naila, yang melihat temannya berkeringat, dengan baju yang lusuh, seperti habis di kejar anjing.
"Eh, enggak lah, gua tadi liat jam dinding rumah gua, pukul 9 pas. Gua bangun, truss gua kaget, ngira gua udah telat. Makanya gua cepat lari ke sini." Ucap Tasya dengan wajah kesal.
"Loh kok bisa, padahal ini kan baru jam 06:30 bege, haha" Naila menertawakan temannya, yang melihat jam mati di rumahnya, dan mengira sudah telat. "Sudah-sudah, ayo kita masuk, kita belum telat kok" ucap Naila lalu menarik tangan Tasya, masuk ke dalam sekolah.
"Eh Naila udah tau belum, lu di kelas mana?" Tanya Tasya, dengan wajah penasaran. Dia juga berharap, satu kelas dengan nya, agar mempunyai teman di kelas.
"Hmm, gua gak tau sih. Belum liat soalnya," ucap Naila, menjawab dengan singkat. Naila yang memang, cewek paling bodo amat, dengan orang. Dan juga malas untuk berbicara, ataupun peduli dengan orang lain.
"Ohhh. Gimana, kalo kita ke sana liat? Ajak tasya, melihat papan nama di setiap kelas. Agar mereka tahu, dimana kelas yang akan mereka tempati.
"Hmmm yaudah yuk," ucap Naila, yang mau-mau saja. Padahal sebenarnya, dia tak peduli, dia harus berada di kelas mana.
***
"Eh Naila, tuh liat, itu nama lu bukan?" Tanya Tasya, seraya menunjuk nama yang berada di kelas elit sekolah, dan terpapang nama Naila aura putri arya argantara.
"Hmm Iyah, itu nama gua." Jawab Naila singkat, dan tak ingin panjang lebar. "Lu kok biasa aja? Itu kelas elit loh. Masa lu gak ada rasa senang-senang nya?" Ucap Tasya yang merasa iri, karena namanya hanya terpapang di kelas rendah.
"Hmm yah males aja. Gua gak peduli elit, atau rendah. Gua cuman peduli ama pelajaran nya, bukan kelas nya." Jawab Naila dengan bodo amat. "Hmm Iyah deh, putri arya argantara." Seru Tasya sambil menyikut lengan Naila sembari tertawa.
__ADS_1
"Eh, tapi gua jadi penasaran Ama lu. Nama lu keren, truss kayak anak sultan-sultan gitu. Tapi gua liat, rumah lu b aja. Dan lu juga gak mewah-mewah, atau.....emang cuman nama lu aja yah, yang keren?" Tanya Tasya dengan rasa penasaran, tentang nama Naila yang menurut nya nama anak sultan atau anak dari keluarga besar. "Oh itu, gua gak tau juga." Jawab nya singkat, dengan muka datar.
Walaupun Naila cewek cuek, dan selalu bermuka datar. Tetapi dia merupakan cewek cantik, dengan bibir imut dan hidung yang mancung, serta alis yang tebal, bak seorang artis.
"Lu kok jawab nya singkat banget. Masa iyyah lu gak tau sih. Seru Tasya seraya memanyunkan bibirnya. "Hmm gua juga penasaran, gua gak pernah liat nyokap lu, dan lu juga cuman tinggal sama kakek nenek lu. Truss nyokap lu di mana?" Tanya Tasya panjang lebar, dengan rasa penasarannya. Naila yang tidak suka dengan orang yang banyak tanya, rasanya ingin menyekap mulut Tasya.
"Lu bisa diem gak sih? Banyak tanya mulu lu, kayak wartawan. Udah dulu, gua mau ke kelas gua." Ucap Naila lalu meninggalkan Tasya. Naila cukup cuek pada Tasya, karena menurut nya, Tasya dekat dengannya, karena teman tasya yang lain, bersekolah di sekolah yang ber beda. Walaupun Tasya bodoh, dia cukup berbakat dalam hal olahraga, dan sering memenangkan banyak piagam. Makanya dia di rekrut ke sekolah popoler tersebut.
***
Naila duduk di kursi depan paling ujung. Itu adalah tempat kesukaannya. Dekat dengan jendela bagian luar, agar ketika dia merasa bosan. Dia dapat melihat pemandangan di luar.
"Huh. Mengapa pelajaran nya sangat lama di mulai? Aku mulai bosan," Gerutu Naila yang sangat suka belajar. Dia belajar agar selalu menjadi yang nomor 1, dan dapat menggapai cita-cita nya.
"Hai boleh aku duduk di samping mu?" Tanya seorang gadis yang seumuran dengan nya. Dan mangagetkan Naila, dalam lamunannya.
Naila menatap gadis itu, dan sepertinya mengenalinya. "Ammm iyyah, kamu boleh duduk," jawab Naila yang mempersilahkan gadis tersebut. Dan tak lain teman SD nya, yang dari alumni MTS.
"Terimakasih. Oh iyyah, bagaimana dengan kabar mu?" Tanya seorang gadis cantik tersebut, yang mengenakan hijab.
"Ah, aku baik," jawab Naila singkat, dan malas bertanya balik. "Hmm, seperti nya kau banyak berubah, tak seperti dulu yang aku kenal." Ucap gadis itu, seraya menatap Naila dengan wajah yang tak lepas dari senyuman.
"Hmm ntahlah, aku tak pernah merasa berbeda." Seru Naila dengan wajah datar. "Hmm setahuku, kau dulu cerewet dan jahil. Yah walaupun dulu kita tak satu kelas, tapi kita juga cukup akrab dahulu." Ucap gadis itu lagi, yang sepertinya ingin lebih dekat dengan Naila.
"Hmm, oh yah? aku tak menyadarinya." Ucap Naila, yang selalu saja bersikap dingin dan tak pernah banyak bicara. "Ahaha yah mungkin, kamu lupa." Balas Zahrah canggung, dia merasa Naila tak seperti dahulu.
Di saat mereka asik mengobrol, tiba-tiba suara bel berbunyi yang menandakan waktu masuk belajar dan guru dari kelas Naila pun masuk dan memberi salam pada murid di kelas itu.
"Assalamu'alaikum anak-anak. selamat pagi," sapa guru bahasa Indonesia, yang kerab di panggil Bu idah. Dan usianya, bisa terbilang muda. Dengan wajah yang mulus dan cantik, namun guru tersebut belum memiliki suami maupun kekasih.
__ADS_1
"WAALAIKUMSALAM BUUUU...PAGI ..." jawab murid kelas XIPA 1, yang termasuk kelas elit di sekolah. "Baik anak-anak, perkenalkan nama ibu... Nurmalidah. Panggil ibu idah yah, ibu mengajar pelajaran...." belum selesai Bu idah berbicara, tiba-tiba datang seorang pemuda tampan, dengan baju berantakan masuk tanpa memberi salam.
Sontak isi kelas menjadi hening, dengan kedatangan pemuda tampan itu. "Woii! Lu minggir. Gua mau duduk di sini," ucap pemuda itu menunjuk bangku depan, yang bersebelahan dengan bangku Naila.
"Maaf kak. Ini tempat duduk saya, masih ada kursi kosong kok di belakang," jawab wanita lugu itu, saat di suruh pindah tempat duduk oleh pemuda tampan itu.
"Gua gak mau! Lu aja yang pindah," ucap pemuda itu, menolak dengan keras.
"Stop! Berhenti!" Teriak ibu idah, yang merasa kesal. Dan tampak, satu kelas pun hening di buatnya. "Kamu yah, udah masuk ga kasih salam. Masuk dengan baju berantakan, dan juga membuat kerusuhan. Sekarang, ibu minta kamu keluar!" Ucap Bu Idah dengan nada tinggi, mengusir pemuda itu.
"Heh! lu pikir gua takut ama lu? Gua gak mau! Kalo lu mau, lu aja yang keluar,” ucap pemuda itu angkuh. Satu kelas pun tertawa dengan ucapan pemuda tersebut, yang bernama Arga. Terkecuali untuk Naila, yang hanya sibuk membaca buku dengan santainya.
"Hei! Kamu jaga sopan santun kamu! Baru masuk hari pertama, udah kurang ngajar kamu yah. Saya akan laporin kamu ke orang tua kamu," ucap Bu Idah dengan keras, memarahi anak tersebut. Yang tak mempunyai sopan santun. "Laporin aja! Gua gak takut!" Ucap Arga dengan tawa kecil, yang merasa sombong dan meremehkan ancaman tersebut.
Naila yg sedari tadi asik membaca buku dan tak peduli dengan keadaan, tiba-tiba bersuara. "Buu, boleh gak Bu, pelajaran nya di mulai?" Pinta Naila dengan santainya, karena sudah sedari tadi menunggu pembelajaran. Sontak Arga kaget, dengan sikap Naila yang sama sekali tidak peduli.
"Ah iyyah nak. Maaf yah, pelajaran nya jadi di tunda, karena anak berandalan ini." Ucap ibu Idah, meminta maaf, sembari menyindir Arga.
"Baik ibu akan lanjut. Dan kamu cepat keluar, jangan pernah masuk ke pembelajaran saya lagi." Sambung ibu Idah, menyuruh Arga keluar dengan amarah nya. Arga yang sedari tadi di marah-marahi, alih-alih mendengar ucapan Bu Idah, dia malah jalan menghampiri Naila.
"Hei kutu buku! Lu gak usah sok rajin yah! Gua gak suka orang naif kayak lu," ucap Arga menghina Naila dengan senyum tipis nya. Naila yang mendengar itu pun berdiri sembari memukul meja nya dengan buku.
"Gua gak minta di sukain ama lu. Gua mau belajar! Kalo lu gak mau belajar, yaudah bodo amat." Balas Naila, lalu duduk kembali dan melanjutkan membaca buku nya. Arga yg mendengar itu, sontak mengambil buku yang di baca Naila, lalu membuangnya ke luar jendela.
Naila tak menunjukkan muka marah, tapi dia langsung mengambil tas Arga dan langsung membuang nya keluar jendela juga. "Impasss!" Seru Naila dengan muka datar, lalu kembali duduk tanpa memandang wajah Arga. Arga yang begitu marah, karena tas nya di buang, memukul meja Naila, lalu turun mengambil tas nya. Dan seketika kelas kembali hening, dan pada akhirnya Bu guru melanjutkan pembelajaran nya. Karena Naila sudah berhasil membuat cowok yang ngeselin itu, keluar dari kelas nya.
30 menit kemudian. Tiba-tiba, pintu terbuka dengan keras. Dan terlihat pemuda yang tadi turun mengambil tas nya, telah kembali dengan wajah marah. Dia melihat ke arah Naila yang dingin, lalu tersenyum miring, melihat kursi kosong tepat di belakang Naila. Dan dia pun duduk di sana.
"Ehhem. Ok, boleh di lanjutkan pembelajaran nya." Seru Arga, sambil tersenyum dan menaikkan kaki nya ke atas meja. Bu idah yang melihat itu, tak peduli dengan kehadirannya dan hanya melanjutkan pembelajaran nya.
__ADS_1