
"Yang di maksud ini tuh...kau harus bisa, menafsirkan kalimat-kalimat, yang ada dalam puisi. Masa gitu aja, gak tau sih." Naila sedari tadi, menjelaskan berulang-ulang materi bahasa, yaitu puisi.
Darren tampak, seperti tidak fokus, ketika di ajar. Dia selalu saja memandang ke buku, dengan tatapan kosong. Yang sepertinya Darren sedang memikirkan sesuatu.
"Huh~kalo seperti ini, kapan pintar nya." Ejek Naila, yang sudah kesal. "Bagiamana kalo kita, belajar di luar aja? Suasana di luar, lebih asik loh." Usul Naila, agar pikiran Darren jadi fresh. "Hmm...baiklah, ayo." Ucap Darren setuju, lalu mengambil buku-buku nya dan berjalan keluar duluan.
"Woi! Tunggu," teriak Naila, karena Darren, main tinggal aja.
Saat Darren, sudah mau melangkah keluar rumah nya. Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya, yang keluar dari sebuah mobil Bulgari.
"Hey, sayang. Bagaimana kabar mu?" Tanya seorang wanita paruh baya itu. Darren dengan mimik wajah geram, pergi ke arah taman, dan mengacuhkan wanita itu.
"Huh~dasar anak ini, pasti gara-gara Daddy nya, yang ngajarin." Wanita itu agak kesal dengan sikap Darren, tapi tiba-tiba dia berbalik saat seorang gadis berteriak memanggil Darren.
"Darren! Tunggu dulu!" Teriak gadis itu, yang tak lain adalah Naila. Naila tak memerhatikan, wanita paruh baya tadi. Dan hanya jalan terus menyusul Darren.
Wanita paruh baya itu memicing kan matanya, menatap gadis yang melalui nya. "Hmmm siapa gadis itu?" Gumam wanita itu. Dan setelah itu, dia pun masuk ke dalam rumah Darren.
"Darren! Muka kamu kenapa sih merah mulu? Kamu demam yah?" Tanya Naila yang heran, dengan wajah Darren yang selalu saja memerah atau bermuka marah.
"Tidak, aku tidak demam." Jawab Darren. Tiba-tiba mereka kaget dengan suara benda jatuh dalam rumah Darren. "Huh~mulai lagi." Gumam Darren, yang di dengar oleh Naila.
"Diana! Aku sampai kapan pun, tak akan merelakan mu mengambil hak asuh anak!" Teriak ayah Darren dari dalam rumah. Dan tiba-tiba wanita paruh baya itu keluar dari rumah Darren, di dorong keluar oleh ayah Darren.
"Aku juga tak akan membiarkan mu, mengambil hak asuh anak. Kau ayah yang tak becus, menjaga anak." Balas wanita itu sambil masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi.
__ADS_1
"Huh~dasar wanita gila," ucap ayah Darren kesal. Dia berbalik ke arah Darren, melihat wajah Darren yang menatapnya dingin, lalu masuk kembali kedalam rumah nya.
Naila kini paham, mengapa Darren dari tadi tidak mood, dan wajahnya terlihat marah terus. Dia menatap wajah Darren yang benar-benar sangat marah, melihat pertengkaran tadi.
"Darren~sudah lah. Kau tak perlu memikirkan mereka. Lebih baik kau fokus, dengan tujuan mu." Ucap Naila menenangkan Darren.
Darren menatap wajah Naila dan mengangguk padanya. Melihat wajah Darren yang seperti itu, Naila tersenyum padanya, dan berkata. "Semangat! Kau pasti bisa."
Darren tersenyum, dan kembali bersemangat. "Yah! Aku pasti bisa," seru Darren. Naila tersenyum dan memberikan kedua jempol pada Darren.
"Ayo! Kita belajar lagi!" Ucap Darren berapi-api. Dan Naila pun mengangguk, dan ikut semangat mengajar Darren.
**
Saat ini, Naila sudah berada di dalam kamarnya sambil membaca buku novel nya. Matanya berada di buku, tapi pikirannya melayang-layang entah kemana.
Dia tak menyangka, di balik Darren yang bersikap dingin. Ada retakan di dalam rumah nya. Yang membuat Darren bersikap seperti itu.
Walaupun Naila juga merupakan korban broken home, tapi dia beda cerita. Orang tua yang sebenarnya bukan orang tua kandungnya, bercerai saat Naila masih berusia, belum cukup sebulan. Dia yang berpindah ke rahim, yang seharusnya bukan ibu kandungnya. Membuat nya harus hidup menderita.
Dia juga pernah mengalami, yang barusan di alami oleh Darren. Saat dia tinggal bersama ibu yang melahirkan nya, dia sering mendengar pertengkaran antara ibu nya dan ayah tirinya. Sama seperti yang di alami Darren.
Tiba-tiba pintu kamar nya terbuka, dan terlihat sosok pria yang dicintainya. "Sayang, kok belum tidur?" Tanya papahnya.
"Belum ngantuk pah," jawab Naila.
__ADS_1
"Kamu kepikiran apa sih? Sampai gak tidur-tidur. Biasanya, kalo jam segini udah tidur. Pasti ada sesuatu yah?" Naila menghela nafas panjang, dia tak bisa menyembunyikan sesuatu dari papahnya.
"Iyyah pah. Jadi......." Naila menceritakan apa yang di alami nya tadi sore, dimana dia melihat sesuatu yang familiar dengan kehidupan masa lalunya.
"Ouh gitu...jadi, kamu kasian sama temen kamu itu?" tanya Arya. "Hmm iyah pah. Aku tau, bagaimana perasaan dia saat ini. Gak ada yang kuat dalam posisi seperti itu. Di perebutkan bagai barang. Pasti sangat sakit." Ucap Naila simpati.
"Iyyah....tapi kamu juga, harus jaga kesehatan. Simpati sih, simpati. Tapi jangan sampai, kamu sakit." Ucap Arya seraya mengusap kepala putri nya.
"Iyyah pah." Jawab Naila.
"Yasudah, kamu tidur yah. Besok kan harus datang sekolah." Ucap Arya, lalu mencium kening Naila.
Naila mengangguk, dan menutup matanya. Arga pun tersenyum, dan mematikan lampu kamar Naila. Lalu keluar dari kamar Naila dan menutup pintu nya.
Jangan lupa...........
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE
__ADS_1
SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE SUBSCRIBE