
"Aku pulang." Seru Naila, yang berteriak masuk ke dalam rumahnya."pah! papah!" Naila berteriak lagi, mencari sosok lelaki yang dia sangat sayangi.
"sepertinya, tuan belum pulang." ucap Jimmy yang memerhatikan rumah Naila tampak sepi.
"Hmm yah, kak Jimmy di sini aja yah. Aku bosen gak punya temen." ucap Naila dengan wajah memelas.
"baiklah," balas Jimmy dengan tersenyum.
Di rumah Darren. "Aku pulang," ucap Darren dengan nada malas. "oh, kau sudah pulang." balas seorang lelaki paruh baya yang baru saja turun dari tangga.
Darren yang mendengar suara itu, memutar bola matanya males. Dia memilih untuk menghiraukan nya dan berjalan menuju kamar nya.
"Bagaimana dengan sekolah mu? apa kau sudah menjadi murid pintar? apa kah kau sudah bisa menjawab pertanyaan gurumu?" tanya lelaki paruh baya itu.
Langkah kaki Darren berhenti, dilihat dari wajahnya. Dia sama sekali tak suka dengan pertanyaan itu. "Daddy gak perlu tahu tentang itu," jawab Darren lalu melangkah masuk ke kamar nya.
"huh, dasar anak ini. Dia sudah mulai berani menghiraukan ku." Gumam lelaki paruh baya itu yang Darren sebut daddy (ayah).
"Cih, kerjanya hanya tanya-tanya saja. Pertanyaan nya, itu....aja terus. Gak ada apa, pertanyaan yang lain?" Gumam Darren kesal.
"Aku pulang." Seru Naila, yang berteriak masuk ke dalam rumahnya."pah! papah!" Naila berteriak lagi, mencari sosok lelaki yang dia sangat sayangi.
"sepertinya, tuan belum pulang." ucap Jimmy yang memerhatikan rumah Naila tampak sepi.
"Hmm yah, kak Jimmy di sini aja yah. Aku bosen gak punya temen." ucap Naila dengan wajah memelas.
"baiklah," balas Jimmy dengan tersenyum.
Di rumah Darren. "Aku pulang," ucap Darren dengan nada malas. "oh, kau sudah pulang." balas seorang lelaki paruh baya yang baru saja turun dari tangga.
Darren yang mendengar suara itu, memutar bola matanya males. Dia memilih untuk menghiraukan nya dan berjalan menuju kamar nya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan sekolah mu? apa kau sudah menjadi murid pintar? apa kah kau sudah bisa menjawab pertanyaan gurumu?" tanya lelaki paruh baya itu.
Langkah kaki Darren berhenti, dilihat dari wajahnya. Dia sama sekali tak suka dengan pertanyaan itu. "Daddy gak perlu tahu tentang itu," jawab Darren lalu melangkah masuk ke kamar nya.
"huh, dasar anak ini. Dia sudah mulai berani menghiraukan ku." Gumam lelaki paruh baya itu yang Darren sebut daddy (ayah).
"Cih, kerjanya hanya tanya-tanya saja. Pertanyaan nya, itu....aja terus. Gak ada apa, pertanyaan yang lain?" Gumam Darren kesal.
Dia melemparkan tas nya dan berbaring di kasurnya. Beginilah kebiasaan Darren ketika pulang sekolah,dia selalu di tekan oleh orang tuanya, membuat Darren menjadi membenci mereka.
**
Malam, di rumah keluarga Argantara. "Pah!" panggil Naila
sambil makan. "Hmm? Jawab papah nya yang lagi mengunyah makanannya.
"Hmm menurut papah, aku cocok nya jadi idol, atau profesor?" Tanya Naila dengan antusias pada papah nya. "Ekhem-ekhem. Menurut papah sih...terserah kamu aja. Papah bakal dukung segala....keputusan kamu." Jawab papah nya dengan lemah lembut.
"Hmm. Susah dong kalo gitu." Seru Naila dengan memanyunkan bibirnya. "Udah...gak usah dipikirin dulu. Kamu mending fokus belajar dulu aja." Balas papah nya, seraya mengusap kepala Naila.
Keesokan harinya. Sama seperti kemarin, Naila di temani oleh Jimmy ke sekolah nya. Saat masuk ke gerbang sekolah, tiba-tiba dari belakang seseorang memanggil nama Naila.
"Naila!" panggil seorang pemuda seumuran dengan nya. Naila menoleh ke sumber suara, dan melihat sosok yang memanggilnya adalah Darren, teman sebangkunya.
"Ada apa?" Tanya Naila. Darren yang ngos-ngosan karena dia tadi lari mengejar Naila, menarik nafas nya dalam-dalam.
"Aku ingin belajar dengan mu," ucap Darren dengan lantang. "hah?" Naila memiringkan kepalanya dengan wajah keheranan. Mengapa Darren tiba-tiba berkata seperti itu?
"Apa maksud mu?" Tanya Naila heran. "Aku ingin nilai ku tinggi, dan berprestasi. Aku mohon," jawab Darren seraya memelas, agar Naila mau belajar dengan nya.
"Apa hubungannya dengan ku? Kau bisa menyewa guru privat kan? Mengapa harus aku?" seru Naila, lalu pergi meninggalkan Darren.
__ADS_1
"KARENA KAU BERBEDA DENGAN ORANG LAIN," teriak Darren tiba-tiba. Naila menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Darren.
Dia melihat wajah Darren yang bersungguh-sungguh, membuat hati nya tergerak sedikit. "huh~baiklah." Seru Naila pasrah.
"Beneran?" Ucap Darren tak percaya. "yah," balas Naila dengan wajah datar.
"Yeayyy," Darren kegirangan dan melompat-lompat ke sana kemari, yang membuat Naila malu sendiri, dan meninggalkan nya.
"huh~dasar cowok gila," Naila memaki Darren yang bertingkah seperti anak kecil. Dia masuk ke kelas duluan. Karena tak ingin melihat tingkah Darren yang sudah seperti orang gila, saking senengnya.
Beberapa saat kemudian. Darren masuk ke kelas dan duduk di kursinya. "Hei Naila, kapan kau akan ke rumah ku?" Tanya Darren. "Tahun depan," ucap Naila ngawur.
"Hei! Aku serius." Ucap Darren kesal. "Nanti sore," jawab Naila. "Tetapi, aku ada syarat untuk itu," Ucap Naila.
"Apa?" Tanya Darren. "Kau harus mengikuti, apapun yang aku katakan. Tak ada kata menolak. Paham!" seru Naila. "yah, yah, aku paham. Apapun syarat nya, akan aku lakukan." ucap Darren berapi-api.
"Satu lagi, aku hanya akan belajar dengan mu hanya sampai semester 2, atau penaikan kelas. Setelah itu, kau harus berusaha sendiri mu." Ucap Naila. Darren mengangguk-angguk menyetujui.
Waktu pulang, Naila sudah menelpon papahnya. Bahwa dia akan ke rumah temannya untuk belajar bersama. Darren naik ke mobil nya sendiri, dan begitupun Naila. Darren sudah membujuk Naila, agar semobil saja dengan nya. Tapi Naila menolak mentah-mentah.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka pun sampai di rumah Darren. Saat Naila masuk, dia tampak terpukau dengan penataan rumah Darren yang sangat-sangat rapih.
"Yuk masuk," ucap Darren. Naila mengangguk, dan ikut masuk ke dalam rumah Darren. Seperti biasa, papah Darren selalu muncul, ketika anak nya sudah pulang sekolah. "Darren!" Naila menoleh, mencari sumber suara itu.
"Tumben, kah membawa seorang teman. Wanita lagi," seru Daddy-nya. "Apa hubungannya dengan Daddy, aku bawa teman laki-laki atau perempuan. Itu bukan urusan Daddy," ucap Darren. Naila yang mendengar ucapan Darren itu, mengerutkan dahinya. Mengapa Darren bersikap seperti itu pada ayahnya sendiri?
"Darren! kau jangan kurang sopan pada Daddy. Daddy ini ayah kandung kamu!" seru Ayah Darren.
"Aku tak peduli," seru Darren. "eh-eh, Darren kamu kok ngomong gitu? Om...maaf saya teman belajarnya Darren, kedepannya saya akan datang ke rumah om, untuk belajar bersama." Ucap Naila sopan.
"Ouh...gitu. Yasudah, kalian belajar saja. Om gak ganggu," seru Ayah Darren sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iyyah om," balas Naila.
Naila berbalik menatap Darren, dengan wajah merah padam. "Hmm seperti nya, hubungan mereka kurang baik." gumam Naila.