
Kota Bali hari ini terliha cerah. Hari ini adalah awal penerimaan siswa baru. Siapa yang tidak mengenal SMA Ngurah Rai Negeri 1, sebuah sekolah yang sangat terkenal di Bali bahkan banyak sekali orang-orang yang mencoba untuk masuk ke sekolah tersebut karena memang sekolah itu terkenal dengan lulusannya yang selalu mendapatkan nilai ujain akhir terbaik seluruh Indonesia.
Hari ini tentunya menjadi awal pertama kali Rembulan masuk sekolah menengah atas setelah menyelesaikan sekolah menengah pertama. Ia begitu semangat dan datang bahkan pagi sekali dan belum ada para siswa dan guru yang datang. Security yang berjaga di sekolah tersebut bahkan sampai bingung melihat kedatangan Rembulan yang menurutnya terlalu pagi dan dirinya sendiri saja belum siap-siap.
“Selamat pagi Bapak!” ucapnya dengan riang karena tidak sabar mengikuti ospek pagi ini.
Rembulan terdengar sedang menghela napas. Sebenarnya dirinya sedang menunggu kedatangan seseorang karena di dalam hatinya berencna ingin memberikan suprise kepada orang tersebut. Jantungnya berdebar-debar akan tetpai ia belum melihat orang tersebut datang dan maka dari itu ia tadi sampai menghela napas.
Kedua rambutnya dikepang dan poninya menambah kecantikan serta keimutan yang ia miliki. Cukup lama menunggu di sekolah tersebut hingga satu persatu siswa berdatangan. Ia telah mengenakan seragam yang digunakan oleh seorang siswa baru. Wajah cemberut yang ia miliki juga telah membuat banyak orang terpukau dengan keimutannya yang semakin bertamabah itu.
Kepolosan wajah Rembulan tentunya menjadi perhatian banyak kakak kelasnya terkhusus para pria. Ia begitu polos dan tidak menyadari tindakan cat calling yang dilakukan oleh para pria tersebut dan malah menyapa kembali para siswa yang cat calling kepada dirinya dan tidak tahu bahwa itu adalah pelecehan. Jika ada orang itu dan mengetahui jika Rembulan saat ini diperlakukan seperti itu mungkin dia akan marah besar. Namun saat ini dia belum mengetahuinya atau hanya saja belum sampai di telinganya karena jika hal tersebut sudah terdegar olehnya mungkin orang itu tidak lagi akan aman.
“Hai cantik siapa nama lo?”
Rembulan yang polos pun dengan semangat tersenyum karena menurutnya ia harus bisa bergaul dengan orang-orang agar bisa mendapatkan banyak teman. Itulah yang ada dipikiran polos wanita cantik itu. Ia belum mengerti bagaimana cara memilih teman yang benar sehingga tanpa sadar dirinya harus dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab..
“Nama gue Rembulan Cantika Aditama! Panggil aja Rembulan.”
“Boleh minta nomor lu nggak. Btw lo cantik banget sumpah. Apalgi kalau lo jadi pacar gue mungkin lo bakal gue buat jadi makin cantik. Gue ngomomg apa adanya ya, dan bukan modus belaka?” Rembulan dengan semangat dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dengan malu-malu. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan lalu kemudian memberikan nomor ponselnya tersebut kepada kumpulan para pria yang bermaksud lain kepada dirinya.
Beberapa orang sudah ada memberikan tatapan yang tidak enak kepada Rembulan terutama dari kakak kelasnya. Mereka tidak tahu saja jika anak ini memang polos.
“Nama kalian siapa? Boleh kenalan, kan?” tanyanya dengan sedikit gugup. Dalam hati Rembulan dia bertsnya seperti itu berharap jika merek juga akan baik kepadanya dan tujuannya adalah agar tidak mencari masalah. Akan tetapi dengan hal tersebut dirinya sudah mengundang perdebatan dengan kakak kelas.
“Boleh dong!”
“Nama gue James!”
“Gue, Dewa!”
“Gue Dwi Adtiya!”
“Wah nama kalian bagus juga ya, salam kenal! Semoga kita bisa berteman dengan baik.” Rembulan begitu ceria, dan wajah cerianya iia tunjukkan sepanjang hari. Setelah memberikan nomor ponselnya ia langsung pergi ke lapangan karena ketua OSIS sudah memberikan pengumuman bahwa siswa baru harus berkumpul di lapangan segera karena akan segera dilakukan ospek sekolah dengan ketentuan yang sudah diberitahukan.
Rembulan begitu ceria dan berlari ke arah lapangan. Saat ia melintasi banyak kakak kelas dan teman-temannya yang juga baru masuk sekolah juga seketika itu semua orang tercengang karena baru kali ini melihat cewek yang sangat ceria dan juga imut. Rembulan sangat senang ketika orang-orang menatap dirinya dengan berbeda dan ia berharap bahwa memiliki banyak teman setelah ini. Di pikirannya hanyalah teman dan teman.
Apalagi dirinya harus menjadi orang yang sangat friendly agar disukai banyak orang. Ibunya juga berpesan bahwa ia harus bersikap ramah dan jangan membantah ucapan kakak kelas selama itu baik.
Saat ketua OSIS melakukan kata sambutan, Rembulan yang duduk paling depan pun tersenyum dan melambaikan tangannya menyapa sang ketua OSIS yang tak lain adalah kakak kelasnya, Bintang.
__ADS_1
Bintang melihat hal tersebut namun ia tidak peduli. Ia terus melanjutkan pidatonya sebagai seseorang yang sangat profesional. Rembulan pun tersenyum karena melihat keseriusan Bintang saat memberikan pidato dan memang sangat pantas pria itu mendapatkan jabatan sebagai ketua OSIS. Walaupun hatinya sedikit kesal karena Bintang seolah-olah tidak mengenali dirinya. Bintang adalah orang yang paling protektif kepada dirinya.
“Oh my God tampan banget ya ketua OSIS kita! Kira-kira udah punya pacar apa belum ya?” Rembulan pun terkekeh karena tidak mungkin pria yang sangat dingin dan susah sekali diajak bicara memiliki seorang wanita sebagai pacarnya.
Rembulan mengenal sahabatnya tersebut apalagi mereka bertetanggaan dan telah menjadi teman dari kecil. Bahkan mereka telah tidur bersama di ranjang yang sama tentunya setiap seluk beluk Bintang ia mengetahuinya. Ditambah lagi Bintang sangat anti dengan cewek lain selain dirinya.
“Baik adik-adik semua! Kita akan segera melakukan ospek sekarang untuk tidak membuang-buang waktu. Yang pertama kalian harus mendapatkan tanda tangan dari salah satu kakak kelas kalian dan juga sekalian foto! Kalau bisa cewek mintanya sama cowok dan cowok mintanya sama kakak kelas cewek! Biar lebih menantang sedikit. Besok baru kita adakan lomba dan penjelasan mengenai lingkungan sekolah."
Tentu tantangan tersebut tidak mudah apalagi mereka belum saling mengenal hingga membuat munculah rasa malu ketika ingin meminta tanda tangan dan juga foto. Makanya banyak sekali dari para siswa yang mengeluh dengan hal tersebut namun ada yang sangat bersemangat. Tapi lebih banyak orang yang sangat bersemangat karena ingin mencari pacar di sekolah.
“Tapi ingat, siapa yang tidak memiliki tanda tangan dan foto sama sekali dengan kakak kelasnya maka akan mendapatkan hukuman dan harus menyanyi di lapangan!”
Hukuman tersebut tentunya membuat Rembulan sangat ketakutan. Saat dalam hitungan ketiga Ia pun dengan cepat berlari untuk mencari Bintang. Ia harus bisa mendapatkan foto dan tanda tangan Bintang.
“Kalau si cowok itu nggak mau gue nggak tahu lagi harus ngapain. Gue nggak boleh nyanyi dan gak boleh dipermalukan di lapangan!”
Tekadnya untuk mencari Bintang pun begitu menggebu-gebu. Hingga pada akhirnya Rembulan melihat Bintang yang sedang mengobrol dengan teman-teman satu organisasinya. Dengan ragu Rembulan pun menghampiri pria tersebut.
“Kaka Bintang, boleh minta tanda tangan dan foto nggak?” Sontak saja Bintang dan teman-temannya memandang ke arah Rembulan.
Melihat betapa cantiknya Rembulan dan juga menggemaskannya membuat Bintang digoda oleh teman-temannya.
Bintang yang tidak suka Rembulan diperlakukan seperti itu menarik napas panjang dan menatap ke arah Rembulan seolah-olah mereka tidak saling mengenal.
“Saya tidak mudah memberikan tanda tangan dan juga foto saya! Kamu bisa mencari orang lain.” Rembulan tidak paham dan ia ternganga bingung. Kenapa Bintang seperti itu kepadanya.
Wanita itu pun menggaruk kepalanya dan menatap ke arah teman-teman Bintang berharap mereka bisa memberikan tanda tangan dan foto.
“Kalau gak boleh, gimana kalau sama kakak yang itu?” Bintang menolehkan kepalanya dan ia pun tahu siapa yang dimaksud oleh Rembulan.
Niko, cowok playboy dan suka bermain dengan wanita. Ia adalah laki-laki red flag dan tentunya tidak akan membiarkan Niko mendekati Rembulan.
Rembulan pun menarik napas panjang melihat wajah Bintang yang cemberut dan seolah tidak suka.
“Gak boleh. Cari orang lain!”
“Kok gak boleh sih, Kak Bintang jahat!”
“Hahaha! Ntang! Tanggung jawab lo, anak orang itu.”
__ADS_1
“Ck.”
Melihat mata Rembulan yang berkaca-kaca membuatnya tidak tega sehingga ia pun mengambil kertas dan pensil di tangan Rembulan dan lalu menandatanganinya. Ia juga mengambil ponsel Rembulan dan ia sendiri tidak perlu bertanya pola sandi HP Rembulan karena ia sudah mengetahuinya.
“Nih!”
Saat melihat ponsel Rembulan ia pun tak sengaja melihat beberapa chat masuk yang diduga itu adalah nomor asing.
“Kamu kasih nomor kamu ke orang asing?”
“Iya. Karena tadi mereka minta nomornya Rembulan. Kata Mama juga harus baik ke orang!” Bintang pun menarik nafas sabar. Ia mengepalkan tangannya.
“Eh cewek, polos banget sih lo! Mau nggak jadi pacar Abang?!”
“Diam lo!” teriak Bintang kepada temannya. Ia menarik napas panjang dan kemudian tersenyum ke arah Rembulan yang polos ini.
“Blok mereka semua dan jangan kasih lagi kalau ada yang mau minta!” peringat Bintang dengan tegas.
“Ciehh!”
“Berisik! Pergi cepat!”
Rembulan pun menganggukkan kepalanya apalagi waktu untuk meminta tanda tangan dan foto kepada kakak kelas telah berakhir.
“Dah Kaka Bintang!”
“Sumpah tuh cewek imut banget!”
“Gak boleh kaya gitu ke adik kelas,” ucap Ardi memperingati Niko.
“Tumben lo Ntang mau foto!” ledek Nasrul.
Bintang yang muak pun meninggalkan tempat itu dengan kesal.
••••••
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1