
Pagi yang sangat cerah dan sama seperti cerahnya Rembulan saat ini ketika akan menyambut pagi hari. Ia sangat senang dan telah berpakaian seragam dengan lengkap dan hanya menunggu Bintang yang belum keluar dari rumahnya.
Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Entah kenapa pria itu sangat lambat hari ini, padahal biasanya ia selalu cepat daripada dirinya. Rembulan berpikir bahwasanya mungkin saja ada sesuatu yang sedang menghalangi pagi Bintang.
Merasa sangat penasaran dengan apa yang di pikirkan nya dan untuk membuktikan apakah yang ada di pikiran dirinya itu benar atau tidak, maka ia pun memutuskan untuk datang ke rumah Bintang.
Lagipula ia sudah terbiasa datang ke rumah pria itu sangat pagi seperti ini. Orang tua Bintang juga sangat akrab dengan dirinya.
“Kak Bintan!” serunya dari balik pintu. Namun belum ada juga sarapan sama sekali dari dalam rumah tersebut membuat Rembulan khawatir bahwa pria itu telah meninggalkannya.
“Ada apa Rembulan?” tanya ibu dari Bintang yang saat ini menghampiri dirinya.
Ia rasa tidak perlu dijelaskan lagi bahwa kedatangannya untuk mencari laki-laki itu dan sebenarnya ibunya Bintang juga mengerti.
“Cari Kak Bintang ya? Orangnya telat bangun, makanya keburu-buru tunggu dulu ya!”
__ADS_1
Rembulan pun ternganga ketika mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya Bintang tersebut. Yang benar saja dia baru bangun tidur, padahal biasanya iya yang selalu menasehati Rembulan agar tidak boleh telat bangun. Lihatlah nanti Rembulan pasti akan menasehati laki-laki itu balik dan tidak akan pandang bulu.
“Inikah namanya dengan menjilat ludah sendiri?” Rembulan menarik nafas panjang.
Ia lantas menunggu pria itu sambil bermain ponsel di teras rumah Bintang. Tak lama setelah ia menunggu laki-laki tersebut muncullah batang hidungnya. Rembulan menangkap ke arah Bintang dengan tatapan tajam.
“Yaudah maafin gue!”
Bintang masuk ke dalam mobilnya dan kemudian disusul oleh Rembulan yang duduk di sampingnya. Rembulan saat ini dengan fokus tengah menghafal yang diperintahkan oleh Kakak OSIS kepadanya.
“Kak Bintang terima kasih!”
“Ingat untuk belajar yang benar!” Nasehat yang diberikan oleh bintang tersebut dianggap oleh Rembulan. Wanita itu menjadi pintar karena didikan yang diberikan oleh Bintang.
Bintang benar-benar terus melakukan itu semua untuk kebaikan Rembulan. Apalagi ia sangat berharap bahwasanya anak kecil ini bisa membanggakan orang tuanya sebab ia mengetahui bagaimana Rembulan yang selalu diduakan oleh kakaknya sehingga dianggap remeh di keluarganya. Padahal Rembulan tergolong anak yang sangat pintar entah kenapa orang tuanya tidak bisa melihat itu semua.
__ADS_1
"Kakak! Apakah mereka semua tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Rembulan ya?" Bintang terkejut ketika mendengar Rembulan bertanya seperti itu. Tidak biasanya Rembulan akan mengungkit keluarganya. Apakah tadi malam dia kembali dimarahi oleh orang tuanya?
"Ada apa dengan lo? Apalagi yang dilakukan oleh orang tua lo? Bilang aja ke gue biar gue mengatasi semuanya!" Rembulan menggelengkan kepalanya. Hanya saja ia dinasehati kecil oleh ibunya agar tidak terlalu sering bermain dengan Bintang yang notabene adalah seorang laki-laki.
"Enggak, Mama cuman nggak mau Rembulan main sama kakak. Katanya kakak itu laki-laki jadi tidak pantas bermain dengan Rembulan!"
Bintang pun menarik nafas panjang dan mulai mengerti akar masalnya. Lagi pula dia juga mengerti dengan hal tersebut dan memang tidak seharusnya mereka selalu tidur bersama karena sebagai seorang wanita dan laki-laki tentunya memiliki batasan.
Entah ke mana batasan yang saat ini menghalangi berdirinya dengan Rembulan.
"Sudah Jangan dipikirkan lagi!" Rembulan menganggukkan kepalanya.
••••••••
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.