Bintang & Rembulan

Bintang & Rembulan
Part 12


__ADS_3

Setelah mengarungi rasa ketakutan yang lebih akhirnya Rembulan bisa diselamatkan dan wanita itu dinyatakan baik-baik saja. Hanya saja saat ini Bintang menjadi tersangka utama sehingga keluarganya sendiri menyalahkan Bintang.


Bintang sama sekali tidak merasa benci dengan orang yang menyalahkannya malahan ia sangat benci pada dirinya sendiri yang telah melakukan kesalahan kepada Rembulan yang bisa saja membahayakan nyawa wanita itu. Ia yang terlalu gegabah dan hampir membuat Rembulan celaka karena dirinya. Jujur saja ia tidak ingin membuat wanita itu harus mengalami hal yang sangat mengerikan tersebut.


Dari tadi Bintang menunggu Rembulan sadar dengan harap-harap cemas dan berharap bahwasanya tidak ada luka yang serius dialami oleh Rembulan. Apalagi wanita itu terlihat sangat kelelahan dan membuatnya merasa tidak tega.


“Rembulan,” ucap Bintang dengan suara serak dan berharap jika ada jawaban yang akan diberikan oleh wanita itu. Tapi saat melihat wajah Rembulan yang masih pucat membuat harapannya menjadi pesimis kembali.


Kenapa ia terlalu naif dan malah mendorong Rembulan hingga tergulung oleh ombak yang datang secara tiba-tiba. Ia membenci dirinya hingga membuatnya menangis dan merasa bersalah yang cukup besar.


“Andai waktu bisa diulang lagi,” ucap Bintang dengan senyum tipis di wajahnya. Senyum yang memuat kesedihan di dalamnya.


Setelah sekian lama termenung akhirnya ia melihat Rembulan yang perlahan membuka mata. Menyadari hal tersebut ia sangat senang sekali dan berharap Rembulan tidak akan membencinya dan boleh jika harus menghukumnya.


“Rembulan,” sapa pria itu seraya tersenyum ke arah Rembulan yang masih berusaha untuk beradaptasi dengan sekitar. Ia menatap ke arah ruangan yang serba putih yang diduga olehnya ini adalah rumah sakit.

__ADS_1


Ia sempat merasa bingung kenapa bisa ada di tempat ini. Tapi mengingat ada suatu tragedi di pantai membuatnya mengingat semuanya. Ia memandang ke arah Bintang yang sangat khawatir dengannya tersebut. Rembulan tersenyum ke arah laki-laki itu dan kemudian meraih tangan Bintang.


Bintang menatap ke arah tangannya yang diangkat oleh Rembulan. Ia pun menumpuk tangannya yang satu lagi di atas tangan Rembulan. Setelah itu mereka sama-sama tersenyum. Rembulan menarik napas lega dan tangannya satunya ia gunakan untuk menyentuh pipi laki-laki tersebut.


“Syukurlah Kakak baik-baik saja, Rembulan khawatir banget sama kakak,” ucap wanita itu dan entah kenapa rasanya Bintang tidak terima karena Rembulan tidak memperhatikan kesehatannya sendiri sementara ia baik-baik saja dan tidak perlu dikhawatirkan.


“Kesehatan mu jauh lebih penting,” ucap Bintang menenangkan Rembulan yang tampak khawatir dengan darinya padahal ia berdiri di depan wanita itu dan masih saja mengkhawatirkan tentangnya.


Rembulan tersenyum senang saat mengetahui bahwa Bintang baik-baik saja. Perasaannya sungguh nyaman setelah merasa lebih tenang. Beban seakan menghilang begitu saja dari dirinya.


“Bagaimana denganmu? Apakah ada yang sakit? Kakak sungguh minta maaf karena tidak bisa menjaga rembulan dengan baik, Apalagi kamu sampai sakit seperti ini gara-gara kakak.”


“Nggak papa kok Kakak. Rembulan tetap nggak ngerti kenapa Kak bintang tadi mendorong Rembulan?” Tentu saja alasan tersebut sangat malu untuk diutarakan. Tapi agar tidak memiliki kesalahpahaman yang cukup lama akhirnya bintang mengungkapkan untuk mengatakan yang sebenarnya.


“Rembulan, sebenarnya kita sudah dewasa dan kakak tentunya bisa merasa Rembulan sebagai seorang wanita bukan sebagai sahabat. Jadi apa yang dilakukan Rembulan itu salah dan memeluk Kaka dalam pakaian seperti itu tidak seharusnya dilakukan kepada lawan jenis.”

__ADS_1


Rembulan masih tidak jelas dengan maksud Bintang walaupun sudah dijelaskan oleh pria itu. Ia kekeh bahwasanya itu benar dan tidak ada yang salah dengan pakaiannya karena ia tidak menyadarinya. Bintang yang harus menghadapi Rembulan serta dengan kepolosannya itu harus lebih ekstra sabar lagi dan berharap wanita itu mulai mengerti.


“Maksudnya? Biasanya bukannya kita kaya gitu?”


“Tidak udah dipikirkan yang penting saat ini kamu selamat,” ucap Bintang dengan senyum manis wajahnya dan kemudian mengecup tangan wanita tersebut.


Rembulan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Bintang. Setelah itu ia menatap ke arah mamanya yang baru saja masuk ke dalam ruangannya dan sangat senang saat melihat ia telah sadar. Mamanya langsung bertanya tentang kesehatannya dan semuanya baik-baik saja.


“Maafkan anak tante ya, tante pasti akan mengurusnya lebih baik lagi. Dia memang seperti itu, kalau kamu mau menghukum Bintang tidak apa-apa tante ikhlas.”


Rembulan menggelengkan kepalanya karena itu tidak akan mungkin ia lakukan.


“Iya. Tapi Rembulan tidak akan menghukum kak Bintang.”


••••

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2