Bintang & Rembulan

Bintang & Rembulan
Part 16


__ADS_3

Bintang menatap ke arah Rembulan yang saat ini malah tertidur di dalam mobil. Padahal perjalanan tidak terlalu jauh ke rumah mereka tapi mungkin karena Rembulan terlalu kelelahan sehingga ia ia tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi. Bintang sangat sedih saat melihat muka lucu wanita tersebut. Pasti wanita itu menahan hati-hati dan bagaimana perasaannya ketika di bully.


Sementara ia tidak bisa melakukan hal yang banyak sehingga membuat dirinya terkadang telat untuk menyelamatkan Rembulan. Bintang benda-benda menyesal dengan hal itu dan berharap dengan dirinya memberi hukuman yang serius kepada orang yang telah melakukan pembullyan kepada rembulan bisa mendapatkan efek jera.


“Rembulan bangun, udah sampai di depan rumah kamu.”


Rembulan pun mengucek matanya. Ia menarik napas panjang dan menatap ke sekeliling yang penuh dengan perumahan dan ia baru sadar bahwa yang ada di depannya itu adalah rumah dirinya. Ia pun menarik nafas panjang dan menganggukkan kepalanya.


Bintang tahu betul bahwa nyawa perempuan itu belum terlalu terkumpul. Kemudian ia menonton Rembulan untuk turun dari dalam mobil.


“Hati-hati kalau mau turun.” Rembulan menganggukkan kepalanya dan kemudian masuk ke dalam rumahnya. Bintang memastikan rembulan terlebih dahulu sebelum ia memasukkan mobil ke dalam rumah.

__ADS_1


Namun ia mengerutkan keningnya ketika melihat wanita itu berbalik lagi ke arah dirinya. Bintang benar-benar bingung sehingga Rembulan Kemudian datang dan langsung memeluk dirinya.


“Ada apa sebenarnya?” tanya Bintang tidak mengerti.


“Kak Bintang tidak terasa sebentar lagi kita akan berpisah. Setahun lagi rasanya mungkin sebentar lagi. Kenapa Rembulan rasanya tidak rela ya?” tanya wanita itu dengan wajah yang cemberut.


Bintang menarik napas panjang dan kemudian mengucap kening Rembulan. Sesungguhnya Bintang juga tidak merelakan hal tersebut dan tapi mau bagaimana lagi karena cita-cita lebih dari segalanya dan ia tidak ingin mengecewakan sang ibu apalagi dia benar-benar menantikan kedatangan Rembulan nanti yang akan menyusul dirinya di universitas Indonesia.


“nggak papa ya udah jangan nangis, Kakak juga tidak ingin melakukan hal tersebut Tapi keadaan yang memaksa. Nanti kakak juga akan menunggu Rembulan datang.” Rembulan bukan melarang kepergian Bintang akan tetapi dirinya hanya tidak menyangka saja sehingga sampai menangis seperti ini.


Rembulan melupakan pelukannya dan kemudian menghapus air matanya. Ia tersenyum dan melambaikan tangan memberikan salam perpisahan kepada Bintang. Bintang menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba dan bahkan waktu berlalu Han cepat.

__ADS_1


“Ada apa sampai membuat anak orang nangis?” tanya ibunya yang melihat Rembulan menangis dan berlari ke dalam rumah.


Bintang menatap ke arah ibunya tersebut dan menggelengkan kepalanya. Bukan apa-apa ini hanyalah urusan anak muda. Jadi Ibunya tidak perlu ikut campur dalam masalah ini.


“Nggak papa kok, semuanya baik-baik aja. Tidak perlu terlalu dipikirkan.”


Sang ibu melakukan kepalanya percaya kepada sang anak.


“Awas aja jika kamu melakukan sesuatu kepada anak orang. Mama tidak akan segan-segan memarahimu.”


••••••••

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA


__ADS_2