
“Bintang!! Hebat banget Lo, sumpah selamat ya dapat juara umum lagi. Gue bangga sebagai teman sekelas lo. Oh ya gimana lo mau traktir kelas kita nggak? Itung-itung traktiran karena dapat juara umum lagi.”
Bintang tertawa mendengar hal tersebut, ia menghembuskan nafas lega dan kemudian menatap ke arah sekitar. Memang penantiannya selama ini sudah membuat dirinya bisa lega dan ia bahagia sekali karena bisa menyelesaikan semuanya dengan sangat baik.
“Pengen tapi nggak ada duit.”
“Lo mah,” ucap cewek itu yang merupakan teman sekelas Bintang.
Bintang menarik nafas panjang mencari rembulan memang sedikit menyulitkan. Entah ke mana perginya anak itu akan tetapi Rembulan memang sedikit menyulitkan.
“Gue, pergi dulu.”
“Mau ke mana lo? Kayaknya baru-baru banget.” Bintang menarik napas panjang dan menatap ke arah temannya itu dengan sebuah senyuman membuat wanita itu merasa sesuatu terbang di perutnya.
“Mau pulang. Sambil cari Rembulan dulu.” Saat mendengar nama Rembulan, wanita itu terlihat tampak tidak menyukainya. Tapi mau bagaimana lagi, Bintang begitu sangat mencintai Rembulan.
Ia bahkan tidak bisa terpisah dengan Rembulan, hingga pada akhirnya ia melihat batang hidung anak itu. Ia menghela nafas dan kemudian menghampiri rembulan yang sedang berfoto-foto dengan teman-teman sekelasnya.
Bintang menunggu mereka hingga selesai berfoto-foto baru menghampiri Rembulan. Rembulan yang melihat bintang lantas menghampiri laki-laki tersebut dan meminta temannya agar memotret dirinya dengan Bintang.
Mereka semua memberikan ledekan kepada Bintang dan juga Rembulan. Akan tetapi rembulan terlalu panas sehingga ia tidak mengerti dengan ledekan tersebut dan menganggap bahwa Bintang adalah sahabat dari kecil jadi tidak ada masalah.
Setelah mendapatkan hasil yang baik, Rembulan mengambil ponselnya dan memperhatikan hasil foto mereka. Ia tersenyum lebar ketika melihat wajah Bintang yang tampak ditekuk.
“Tapi lucu kalau Kak Bintang pakai wajah dingin gini.”
“Hm,” ucap Bintang dan sebenarnya Ia pun merasa terpesona dengan foto tersebut.
__ADS_1
Ia mengambil ponsel milik Rembulan dan kemudian mengirimkan foto tersebut ke WhatsApp miliknya. Rembulan yang melihat hal tersebut tersenyum dan kemudian mencubit perut Bintang.
“Suka kan dengan fotonya? Emang sebagus itu sih fotonya.”
Bintang terkekeh dan memandang ke arah Rembulan. Ia mengangkat satu alisnya dan kemudian memperhatikan Rembulan dengan seksama. Benarkah foto itu bagus? Tapi melihat wajah Rembulan yang sangat bahagia ia turut merasa hal yang sama.
“Bagus? Yang benar?”
Rembulan menatap ke arah Bintang. Bisa-bisanya laki-laki tersebut bercanda dengannya. Apalagi ia paling tidak suka ditanya seperti itu dan menyalahkan Bintang.
“Yaudah minta maaf.”
“Gitu dong. Nanti kita liburan mau ke mana?”
“Mau ke mana? Tentunya kita akan pergi jalan-jalan. Tapi nggak tau mau ke mana.”
Bintang tahu salah tapi meskipun di usia mudanya seperti itu tapi perawakannya tampak seperti orang dewasa dan keahliannya juga tak kalah dari orang yang sudah di atas umurnya.
“Tidak, karena aku jauh lebih memahami mobil daripada orang dewasa.”
Itulah yang selalu akan dijawab oleh bintang ketika dirinya menanyakan hal tersebut. Tapi lagipula itu adalah hak Bintang dan jika kena tilang maka pria itu yang sendiri akan menanggungnya. Sebentar lagi Bintang akan legal dan membawa mobil. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Kaka Bintang! Tungguin!!” teriak Rembulan saat melihat Bintang yang hendak meninggalkan dirinya tersebut.
“Makanya jangan lelet!!”
•••••••
__ADS_1
Saat ini Bintang dan Rembulan sedang merencanakan perjalanan mereka untuk berlibur, tentunya akan ditemani oleh orang tua mereka masing-masing.
Kebetulan sekali bahwa orang tua mereka saling berteman dan menyadari kedekatan saat mengetahui anak mereka sudah seperti seorang pasangan saking dekatnya. Bahkan mereka sampai menanyakan tentang perjodohan, tapi itu adalah hal yang awam mengingat mereka bisa memilih. Tapi melihat kedekatan kedua anak tersebut mustahil jika tidak ada menyimpan rasa.
“Jadi bagaimana menurutmu? Apakah mereka akan dijodohkan atau tidak?”
“Boleh saja jika anaknya mau. Tapi ya mau bagaimana si Bintang dinasehati jangan ajaki Rembulan tidur di dalam satu kamar tapi tidak mau mendengarkan. Aku pasrah sudah,” ucap Diyah dengan perasaan kesal kepada anaknya.
Bukan tidak menyukai Rembulan akan tetapi anak itu akan berbahaya saat remaja dan sudah pubertas untuk diam dalam satu kamar. Tentu itu akan membuat kedua orang tuanya sangat merasa khawatir.
“Maaf Diyah, tapi aku juga sudah menasehti anak ku agar tidak datang malam-malam ke rumah mu dan tidur di kamar Bintang.”
“Tidak masalah dia datang, ini yang salah keduanya.”
Sementara itu orang yang tengah diperbincangkan sedang asyik bermain game berdua. Kebetulan Bintang sangat hobi bermain game dan Rembulan meminta agar Bintang mengajarkan dirinya.
“Kenapa mati lagi sih?”
“Ya it artinya kamu gak jago,” ucap Bintang berterus terang membuat wajah Rembulan menjadi berubah. Ia langsung merajuk dan Bintang pun berusaha untuk membujuk wanita itu.
“Iya maaf, nanti kakak ajarin lagi. Sudah main gamenya, nanti lama-kelamaan sakit matamu,” ucap laki-laki tersebut dan kemudian menepuk kepala Rembulan. Rembulan menarik napas panjang dan memberikan tampang marah kepada Bintang.
“Huh!”
•••••••
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.