
Waktu terus berjalan dan tak membutuhkan waktu yang lama akhirnya Rembulan menjadi primadona dan murid yang paling pintar di sekolah. Tentu saja itu sangat membanggakan bagi Bintang. Akan tetapi dirinya tetap saja menyimpan sisi lain yang sangat cemburu dengan hal tersebut. Bukan cemburu dalam artian iri kepada Rembulan, akan tetapi Bintang merasa cemburu karena semenjak Rembulan menjadi primadona banyak sekali para pria yang ingin mendekatinya.
Beberapakali ia memperingati wanita itu untuk tidak meladeni orang yang ingin mendekatinya, akan tetapi ia tetap meladeni mereka semua. Bukan karena merasa ganjen akan tetapi lebih tepatnya Rembulan itu orang yang udah merasa tidak enak kepada orang lain. Oleh karena itu dirinya selalu saja membiarkan para pria menghampirinya.
Pada akhirnya ia tidak bisa menyembunyikan kemarahannya dan menghukum mereka semua dengan kekuasaan yang ia miliki. Hal itu benar-benar mengejutkan Rembulan hingga pada akhirnya ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bintang. Bintang sama sekali tidak bersalah, ia hanya ingin melindungi sahabatnya tersebut dari orang-orang yang memiliki niat buruk.
Sekarang Rembulan menjadi bulan-bulanan para wanita yang ada di sekolah tersebut. Terutama bagi kakak kelas yang tidak terima dengan apa yang telah dilakukan rembulan berhasil membuat Bintang yang dingin dapat membelanya. Tidak ada yang tahu bagaimana hubungan Bintang dan Rembulan yang sebenarnya. Mereka hanya pandai menghujat akan tetapi tidak mencari latar belakang terlebih dahulu.
Seperti hari ini Rembulan adalah adik kelas dan selalu bersikap polos dan ia menyapa kakak kelas yang ada di sekitarnya. Terlihat jelas bahwa tatapan mereka sangat benci kepadanya dan Rembulan hanya bisa menentukan kepalanya. Ia hanya memiliki teman-teman satu kelasnya yang sangat baik kepadanya baik itu pria maupun wanita.
Mereka selalu membela Rembulan dalam keadaan apapun. Wanita itu sangat bangga memiliki teman-teman yang seperti itu.
“Rembulan? Wah nama yang sangat indah! Tapi asal lo tahu ya, nggak semudah itu buat dapatin Bintang. Lo Pick me banget, dan sok nggak tahu diri. Mending malu lo dipolos-polosin.”
Rembulan ingin tidak peduli kepada mereka dan pergi begitu saja. Wanita itu memejamkan matanya dan mengepakkan tangannya untuk menguatkan hatinya yang tidak bisa berbohong bahwa ia sangat sedih ketika kakak kelas mengatakan itu kepadanya. Bahkan dirinya tidak tahu bahwa ia sangat polos, biasanya yang mengatakan adalah Bintang namun ia sama sekali tidak percaya.
__ADS_1
“kenapa lo? Pergi gitu aja, emangnya lu takut ya! Perannya sama cowok doang manfaatin wajah sok cantik lo! Sama kita berani nggak?” tanyanya dan kemudian menertawakan Rembulan.
Tiba-tiba dari arah berlawanan datang Sinta untuk membela dirinya. Sinta menatap ke arah kakak kelas yang sok asik tersebut dengan tatapan tajam. Seolah-olah sekolah ini adalah milik mereka dan mereka sebagai kakak kelas bisa berbuat apapun.
“Apaansih nggak tahu diri banget jadi kakak kelas! Ini jelas adik kelas kalian butuh bimbingan bukan dihujat! Kalau kalah cantik nggak usah banyak bacot!”
Sinta menarik tangan Rembulan untuk membawanya kembali ke kelas. Rembulan melirik ke arah Sinta yang telah menolong dirinya tersebut. Ia tersenyum kepada Sinta sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada wanita itu.
“Sinta, terima kasih!”
“Lagian lu mau aja ngeladenin orang yang kayak gitu. Nggak ada manfaatnya, yang ada buat sakit hati doang!” Rembulan pun menundukkan kepalanya. Jadi apakah kali ini ia sangat bersalah? Wanita itu pun memandang ke arah Sinta dengan tatapan meminta maaf.
“Rembulan!” ucap Bintang yang datang dan menatap ke arah wanita itu. Ia sangat terkejut pada saat melihat wajah sedih Rembulan. Apakah kali ini ada yang berani untuk menyakiti wanita itu?
Bintang memandang ke arah Sinta yang ada di sampingnya dan kemudian memberikan tatapan tajam agar Sinta menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada Rembulan.
__ADS_1
Sinta yang sudah mengetahui bagaimana hubungan mereka pun tersenyum ke arah Bintang. Ia juga sudah menganggap Bintang sebagai temannya.
“Jadi ada orang yang menghina Rembulan sampai dia jadi sedih kayak gini. Sama si Rembulan malah didengerin dan diladenin! Sekarang lihatlah dia jadi menangis seperti ini!”
Bintang menatap ke arah Rembulan yang menundukkan kepalanya. Ia ingin bertanya siapa yang sudah berani menyakiti wanita tersebut. Tapi tampaknya Rembulan tetap enggan untuk berbicara siapa pelakunya. Hal itu sangat mengesalkan.
“Kenapa diam! Siapa yang udah menyakiti kamu? Nggak mau jawab siapa orangnya?”
“Dia cuman kakak kelas yang merasa iri aja. Wajar kalau misalnya dia marah kepada Rembulan.”
“Cantika sama Centi!” jawab Sinta karena menunggu Rembulan mengatakannya sungguh terbelit-belit.
Rembulan yang berniat ingin menyembunyikannya pun hanya bisa pasrah dan menatap ke arah Bintang dengan tatapan takut.
••••••
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.