
Liburan semester dihabiskan oleh dua keluarga tersebut dengan cara menikmati keindahan pantai pulau Dewata. Mereka tidak jauh-jauh untuk berlibur adalah hanya berlibur di sekitar Bali saja. Rembulan begitu bersemangat menceritakan banyak hal kepada Bintang yang sedang mendengarkan ceritanya sambil menikmati ombak pantai di malam hari.
Melihat ke antusiasan Rembulan membuat hati Bintang begitu berdebar. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadanya tapi apa yang dikatakan oleh orang tuanya benar adanya bahwa ia akan berbahaya jika terus membiarkan Rembulan masuk ke dalam kamarnya dan tidur dalam satu kamar.
Bagaimanapun juga dia adalah seorang laki-laki yang memiliki nafsu dan apalagi ia masih remaja dan dalam proses pubertas. Pasti syahwat yang tidak seharusnya muncul selalu ia rasakan. Sementara itu Rembulan adalah reog polos yang tidak pernah menyadari sekitarnya.
Hubungannya dengan Bintang selama ini ia hanya menganggapnya sebagai sahabat dan kakak. Sementara bagi Bintang meskipun bagaimana eratnya persahabatan tersebut jika ia seorang pria dan sahabatnya itu adalah seorang wanita yang tidak memiliki hubungan darah maka ia bisa merasakan sesuatu.
“Rembulan, nanti jika Kakak sudah tamat kamu bagaimana di sekolah? Kakak akan pergi meninggalkan kamu untuk kuliah di Jakarta.”
Awalnya Rembulan yang mendengar hal tersebut merasa tidak terima karena ia sudah bergaul-tahun bersama Bintang dan tiba-tiba harus berpisah dengan laki-laki tersebut tentunya rasa tidak terimanya muncul begitu saja. Tapi ia tidak seharusnya melakukan hal tersebut karena Bintang juga harus berkuliah dan menggapai cita-citanya.
“Terserah Kakak Bintang aja, Rembulan akan melakukan apapun yang terbaik untuk kakak dan menunggu Kakak menyelesaikan kuliahnya. Atau Rembulan yang akan pergi nanti ke Jakarta untuk kuliah juga di universitas yang sama dengan kakak. Memang sulit untuk melepaskan kakak, Tapi Rembulan yakin ini semua adalah yang terbaik untuk kakak.” Bintang sama sekali tidak ingin menyakiti hati adik perempuannya ini.
Ia lantas menarik kepala Rembulan dan memeluknya, selamanya ia akan menjadi adik kecilnya yang begitu berharga. Rembulan tahu bahwa dirinya memang sangat dicintai oleh Bintang. Tapi dia juga tidak ingin Bintang terlalu mengutamakan dirinya daripada masa depannya sendiri.
“Aku tidak bermaksud membuatmu sedih.” Bintang menghapus air mata Rembulan dan kemudian mengecup kening wanita itu.
Bagaimana mungkin dia sanggup meninggalkan Rembulan. Bahkan melihat wanita ini menangis diam-diam saja membuatnya tidak terima. Ia selalu ingin terus bersama dengan Rembulan, apalagi rembulan adalah segalanya untuknya. Di dunia ini hanya akan peduli dengan Rembulan.
“Rembulan, kakak tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika pun harus kuliah di universitas Indonesia, nanti kakak akan menunggumu di Jakarta. Kamu juga harus kuliah di tempat yang sama dan menggapai impian mu.”
Rembulan menganggukan kepalanya dan tersenyum lebar. Sudah pasti ia akan berhasil masuk ke universitas Indonesia selama ada Bintang di sisinya.
__ADS_1
“Makanya abis pulang dari sini kakak harus ngajarin Rembulan lebih giat lagi.”
“Hm!”
Sementara itu mereka terus bercanda kurang dan tidak menyadari bahwa kedua orang tua dari kedua anak tersebut tengah memperhatikannya. Mereka rencananya memang ingin menjodohkan kedua orang tersebut karena dianggap telah bersama sejak mereka kecil tentunya mereka sudah saling memahami.
Tapi hanya saja belum sanggup untuk mengatakan kepada anak-anak mereka.
“Mereka adalah putrimu yang hebat, dia begitu bersemangat. Sangat cocok dengan Bintang yang pendiam, dari dulu Bintang tidak bisa berinteraksi dan anakmu yang sangat ceria itu mengubahnya. Bagaimana mungkin aku tidak mempersatukan mereka.”
Ibunya Rembulan menarik nafas panjang dan menganggukkan kepalanya. Meskipun ia masih berharap Rembulan bisa memilih jodohnya sendiri tanpa harus menikah dengan cara dijodohkan. Walaupun orang tersebut adalah Bintang itu sendiri.
“Terserah apa yang dilakukan oleh anak-anak. Tapi kita menjodohkan mereka ini terlalu kuno bukan? Biarkan saja mereka memiliki jalannya sendiri walaupun harus tetap menikah juga.”
Bintang menarik nafas panjang saat melihat rembulan yang begitu nyenyak pada tidur di pundaknya. Sementara itu air ombak terus berderu dan wanita itu sama sekali tidak terganggu dengan suaranya.
“Memang wanita yang tangguh.”
Kemudian Bintang mengapa Rembulan masuk ke dalam tendanya.
•••••••
Rembulan melihat dengan jelas bahwasanya hari sudah pagi dan wanita itu memandang ke arah luar tenda dan lantas keluar begitu saja. Ia pergi mencari Bintang dan tidak mengetahui bahwasanya laki-laki tersebut tengah berenang di pantai.
__ADS_1
Rembulan masih mengenakan baju tidur menghampiri Bintang yang berenang dengan bertelanjang dada. Ia tersenyum ke arah laki-laki tersebut dan kemudian menghampirinya tanpa ada beban sama sekali. Sangat berbeda dengan bintang yang syok ketika melihat Rembulan menatap darah perutnya.
“Kenapa kamu ke ini?”
“Mau berenang juga.”
Bintang sangat panik sebab baju rembulan sangat mudah banget apalagi jika terkena air maka tubuh wanita itu akan terlihat. Ia hendak mencegah rembulan tapi sayangnya sudah terlambat dan Rembulan telah berenang menghampiri dirinya.
Seperti yang tengah ia khawatirkan, baju tidur wanita itu sangat menerawang dan saat ini rembulan berdiri di depannya dan itu sangat membuat sakit jantungnya. Ia membuang pandangannya dan menahan hasratnya. Apalagi Rembulan begitu begitu polos dan malah semakin dekat.
“Jangan dekat-dekat.”
“Kenapa?”
“Gak boleh!”
“Biasa aja,” ucapan Rembulan dan kemudian dengan jahilnya ia memeluk tubuh pria itu, setelahnya Bintang sangat panik dan kemudian mendorong Rembulan sehingga ia harus tergulung di ombak. Bintang sangat panik dan berusaha untuk menyelamatkan Rembulan.
••••••
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1