BLACK CARD "MENDADAK KAYA"

BLACK CARD "MENDADAK KAYA"
Keributan Bocah Tua Nakal


__ADS_3

"Rusdi seperi nya tuanmu belum minum obat, cepat berikan obatnya, Atau ku usir kalian dari rumahku"


"Assalamu'alaikum, eh ada om Irsyad dan om Rusdi " Aminah sang menantu kesayangan Rahman mendekat di ikuti sang suami dan mencium tangan Tamu mertuanya dan di ikuti sang suami


"Ada apa nih ribut-ribut, Om.Abah? " ucap Hasyim bingung


"Kau juga sama saja bocah nakal, bukankah kalian bersekongkol dengan tua bangka ini? " Irsyad memaki Hasyim yang tidak tahu apa-apa sambil menunjuk ke wajah sang Sang ayah.


"Aya naon sih bah, Tiba-tiba mang Irsyad ngadat? " Hasyim menengok dengan wajah cengo


"(Ada apa sih bah ini, Tiba-tiba Om Irsyad marah?) "


"Puguh, sok tanyakeun sorangan"


"(entahlah, coba aja tanyakan sendiri) "


"Hasyim, kau menikahkan anakmu yang nomor dua kan, terlalu kau anggap apa aku? "


"Sebentar om, anak nomor 2 maksud om Gani? "


"Iya, siapa lagi"


"Hahahahaha" Hasyim dan sang ayah kompak tertawa


"Gani belom menikah om, bahkan dia saja baru berhubungan dengan seorang gadis kembali"


"Tua bangka, jadi kau marah-marah hanya karena itu?, jangan bilang kau tua bangka sudah berpindah haluan. Kau suka cucuku hei" kali ini Rahman bersuara


"Kau!! " geram Irsyad sambil menunjuk Rahman


"Sudahlah tuan, jangan mempermalukan diri. kita kemari kan untuk menemui cucu nya Rahman untuk minta tolong" Rusdi berbisik di telinga


"Ya, Maafkan aku. seperti nya aku salah paham, ku kira kau tidak menganggap ku lagi, karena kau tidak mengundang ku kembali" Irsyad dengan nada merendah


"ya, maafkan kami. waktu itu kami bukan tidak bermaksud tidak mengundang mu, waktu itu kau dalam keadaan berduka. 2 bulan lagi baru aku akan menikahkan Cucuku. tapi bukan si Gani. melainkan adiknya si Akbar" ucap Rahman

__ADS_1


"Benar Om, makanya jangan ngamuk dulu" dari arah dapur Aminah keluar di temani seorang asisten rumah tangga dengan Membawa nampan berisi minuman dan cemilan.


"Ramai amat seperti nya, ada apa nih om" ucap Aminah sambil menaruh minuman dan beberapa cemilan.


"kamu, apa kabar Mbai? sehatkah? dua pria ini merawat dan mengurus mu dengan baik? " ucap Irsyad, Rusdi hanya diam saja


"Alhamdulillah sehat Om, sangat baik malah" ucap Aminah sambil duduk di samping sang suami


"Bah susunya di minum, abah belom minum susu " Aminah menyodorkan satu gelas susu untuk sang mertua. Irsyad dan Rusdi tampak tersenyum melihat perlakuan hangat menantu sahabatnya.


"Rahman, kau tau hari ini aku sedang berbahagia. aku sudah menemukan putriku yang hilang, oh bahagia nya aku!! " Irsyad tersenyum cerah menceritakan pertemuan nya dengan Sang Putri


" Alhamdulillah, selamat ya tua bangka, aku turut bahagia. oh ya kalau tidak salah putrimu seumuran dengan menantu ku, apa itu benar?


"Iya, kau benar tuan Rahman, Nona seumuran dengan Nona Mbai" ucap Rusdi, telinga Aminah gatal rasanya sahabat mertuanya memanggil dengan sebutan Nona


"Om, aku kan sudah bilang jangan panggil aku Nona, itu tidak enak di dengar, umurku pun tidak pantas rasanya dipanggil sebutan itu" Ucap Aminah


"Sudahlah sayang,biarkan saja.kau Taukan Om mu itu seperti apa" ucap Hasyim sambil mengelus tangan sang istri


"Irsyad, bagaimana keadaan Putri mu di luar sana apa dia punya kehidupan yang baik atau sangat kurang baik?. Apa Putri mu memilik keluarga? " Rahman manggut-manggut memegang dagunya


"Apa suaminya masih hidup?, Apa sudah almarhum?" Hasyim ikut kepo, Aminah mengerenyitkan dahinya.


"Naon maksudna kakak ngomong kos Kitu?, Jangan bilang kakak , jika anaknya om Irsyad janda kakak mau menikahinya!!" Aminah bersungut-sungut sambil mencubit perut bunder milik suaminya. Irsyad, Rusdi dan Rahman tertawa melihat Hasyim mati kutu dihadapan istrinya.


"Aku kan hanya bertanya. Tidak salah kan?"


"Tapi pertanyaan kakak menyebalkan" ucap Aminah sambil memanyunkan bibirnya


"Hey bibir mu jangan seperti itu, kau mau aku menyerangmu sekarang?"


"Mesum"


"Ha-ha-ha " mereka tertawa melihat tingkah menantu kesayangan Rahman

__ADS_1


"Alhamdulillah, suaminya masih sehat wal afiat. kau tau Syim, menantuku sifatnya persis sepertimu. Bocah tua yang menyebalkan"


"Apa menantumu itu sangat memanfaatkan kekayaanmu?, Apa dia seorang yang gila akan harta?" Ucap Rahman sambil duduk menyandar dengan kaki di silang dengan elegan


"Sangat, bahkan secara terang-terangan. Katanya dia akan menjadi orang terkaya saat ini, bukankah itu menyebalkan"


"Hmm, Om harus hati-hati sepertinya dia akan melakukan hal-hal yang tidak-tidak, seperti menghabisi istri dan om. Dan dia akan bermain dengan perempuan liar di luar sana" ucap Hasyim dengan nada bergurau


"Kakak kau jangan su'udjon" ucap Aminah


"Benar kata menantu kua jangan suka berburuk sangka, dulu" Rahman ikut membela sang menantu.


"Aku Rasa tuan muda tidak seperti itu, bahkan Tuan Hasyim jauh mengenal tuan muda secara personal" Rusdi menerangkan


"Aku mengenalnya?, Siapa menantu om itu?" Ucap Hasyim kepo


"Hmm, kau tidak mengenali nya Syim?, Kau ini sahabat macam apa?. Bahkan dia terang-terangan bilang bahwa kekayaan saat ini mengalahkan mu" ucap Irsyad memanasi Hasyim. Dia tau anak sahabat nya itu sangat tidak terima jika ada orang mengalahkan nya .


"Sudahlah kau tua Bangka jangan jadi kompor, lihat wajah anak ku sudah memerah, kau jangan bermain teka-teki terus, sedari tadi kau bermain teka-teki "


"Menantuku pemilik Indo Pratama , iya dia Yusuf Pratama"


"Apa Pratama!!" , "Apa Zulaikha" Hasyim dan Aminah .


"Kalian kenapa kaget seperti itu" ucap Irsyad santai


"Om harus membantu mereka, harus!! Wajib!" Ucap Aminah


"Kurang ajar si Pratama dia, dia makin kaya tidak bilang-bilang "gumam Hasyim


"Aku sudah membatunya, bahkan Meraka lebih kaya dari pada mu , Mbai"


"Bukan itu om, apa om tau jika mereka kehilangan anak mereka?, Awalnya mereka mempunyai anak kembar. Tapi saat bayi salah satu anaknya hilang yang bernama Ziko. Dan saat kembarannya berusia 5 tahun anaknya kecelakaan dan meninggal, aku rasa anaknya bernama Ziko itu masih hidup. Aku sangat Yakin Om" ucap Aminah menggebu-gebu. Zulaikha yang merasa kesepian dan kerinduan nya terhadap sang anak selalu melampiaskan kerinduan nya dengan anak-anak Aminah dan anak asisten suaminya, terutama kepada Gani, bahkan Gani selalu dekat dengan-nya.


"Justru itu aku kemari sebenarnya ingin, meminta bantuan kepada kalian. Bahkan titik terangnya kepada anakmu si Gani"

__ADS_1


...****************...


...bersambung...


__ADS_2