BLACK CARD "MENDADAK KAYA"

BLACK CARD "MENDADAK KAYA"
Duloh Jawara Banten


__ADS_3

...


setelah kejadian itu Weldan menemui Hasyim dan Abahnya di perusahaan.


"Nak Weldan bagaimana kabarmu?, Sehatkah?. bapak mu bagaimana? " tanya Rahman sambil merangkul hangat


"Alhamdulillah, Abah Semua sehat"


"Abah, LP kita kan pak Ruslan akan segera pensiun, Bagaimana jika si Item ini kita jadikan di LP?


Loss Prevention (LP) begitulah istilah pengawasan dan pencegahan kehilangan di bisnis retail modern. Pengawasan dan pencegahan kehilangan sangat penting dilakukan khususnya di level toko. Pengawasan dan pencegahan dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan menempatkan personal sekuriti di tempat-tempat berpotensi resiko kehilangan


"Abah sih setuju, tapi kau tanyakan temanmu itu, mau tidak? , bagaimana nak Weldan? " ucap sang Abah sambil bersandar di sofanya.


"Saya akan tanyakan ke Atasan saya dulu Bah, Syim! "


"Segaralah kau tanyakan, aku membutuhkan mu, selain sebagai LP tapi kau akan kujadikan kepala keamanan aku tau kau memilki banyak anak buah selain di Angkatan, tapi juga di sipil" ucap Hasyim


"Hei mamak hei kau menyelidiki ku cungkring" ucap Weldan dengan logat timurnya


"Bagaimana kelanjutan Branch jakarta 1 apa sudah kau bereskan? " tanya Abah


"Hari ini aku bereskan bah, rencana aku ke sana dengan Weldan" ucap Hasyim


"Lakukan sekarang"


"Baik bah"


kenapa Hasyim pergi dengan Weldan, bukan karena Hasyim takut, tapi dia butuh Weldan untuk berkoordinasi dengan sesama anggatan ( saat itu Polisi dan TNI masih menjadi satu)


dalam perjalanan Weldan mendapatkan info dari polsek dekat Branch jakarta 1, bahwa Branch tersebut di kepung beberapa preman.


.....


Sementara di salah satu Branch Ar-Rahman terjadi kekacauan. Puluhan Preman menggeruduk DC


"SIAPA PIMPINAN DISINI!!!, CEPAT KELUAR!! " teriak salah satu preman. beberapa preman tampak merusak mobil dan Lobi kantor.


Seorang resepsionis wajahnya tampak pucat ketakutan.


"Saya bang, saya Satya mari bang kita bicara baik-baik" ucap Satya tenang


"JADI KAU PIMPINAN DISINI?" tanya Duloh tersenyum sinis


"Siapa supir yang kemarin, membuat keributan di wilayah utara?" Satya tampak berfikir mengingat, setahu dia yang kesana Agus dan pemilik perusahaan.


"Cepat katakan sialan" Duloh meraih kerah kemeja Satya


"Mulut mu bau bangkai tua bangka" ucap Satya

__ADS_1


"Kurang Ajar, Bug" Duloh memukul perut Satya. Satya mundur beberapa langkah


"Itu pukulan mu pak tua? , rasanya seperti geli. cih. ini baru yang namanya pukulan"


"Ciat, Brug brug" Satya meninju dada Duloh dua kali,


Duloh tidak Terima di pukul dia mengerahkan anak buahnya. perkelahian tidak seimbang. Agus yang baru keluar dari kamar mandi melihat atasan nya di keroyok membantu. terjadi baku hantam 2 lawat 6 karena yang masuk ke Lobi ada 7 orang termasuk Duloh. Resepsionis dan beberapa karyawan perempuan nampak berhamburan keluar.


"Ciiiit.... "


Mobil sang pemilik perusahaan terparkir di depan Lobi.


"Brak..brak" Hasyim dan Weldan membanting pintu dan bergegas masuk ke dalam


"Berhenti... " teriak Weldan tapi tak di gubris oleh mereka. Hasyim melihat tempat sampah yang terbuat dari alumunium segera meraih dan melempar ke para preman.


"Kau keluar saja Wel, Tenangkan para masa aku rasa mereka tidak tau akar permasalahan nya. bukankah mereka masih satu suku dengan mu? "


"Baik lalu kau bagaimana, apa tidak apa-apa? " Weldan tampak khawatir


"Aku akan baik-baik saja, lihat ini ku lempar tong sampah ini ke tua bangka itu"


"Baik aku permisi dulu, dalam 5 menit aku akan kembali" Weldan berlari ke arah masa dan menengkan masa, masa tersebut terkejut bahwa ada komandan mereka di tempat itu.


"Buuuug" Tempat sampah tepat mengenai punggung lelekai tua sok Jago itu.


"Bangsat Saha Eta, wanian baledog aing. cari paeh"


pertikaian sempat terhenti


"Tuan" ucap Agus dan Satya


Duloh menengok dan memicingkan matanya


"Saha maneh Kehet, Teu nyaho dia aing saha? , iyeh Duloh jawara ti Banten!!! "


(Siapa lo monyet, tidak tau lo gua siapa?, Nih kenalin Duloh Jagoan Banten)


"Duloh... Cih Jawara.. jawara Dia ka batur ka Aing tacan"


(Duloh.. Cih Jagoan.. Jagoan lo ke orang ke gua mah tidak ada apa-apa nya)


Hasyim sambil meludah ke muka Duloh.


"Bangsat" Duloh mengeluarkan Goloknya menebas Hasyim. Hasyim yang memang pesilat menghindar dan mengeluarkan beberapa jurus. Duloh beberapa kali terkena pukulan dan tendangan. Hasyim melihat sebuah alat pel di gunakan sebagai toya. lalu mengeluarkan jurus pamonyet khas jurus Cimande.


"Tang... tang.. tang... " suara golok dan gagak pel terbuat dari alumunium beradu. pada suatu kesempatan Hasyim berhasil memukul tangan Duloh golok terlepas dan terlempar dan mengenai kaki anak buah nya sendiri.


"Aaaakh.. " suara jeritan dan erangan akibat tancapan Golok bosnya.

__ADS_1


"Bug... Bug.. " tiga orang terkapar oleh Hasyim Agus dan Satya


tinggal 4 orang lagi termasuk Duloh.


saat akan memulai lagi perkelahian Weldan dan beberapa polisi memasuki kantor.


melihat Polisi Duloh menepi di ujung tangga melafalkan bacaan


"Angkat Tangan jangan bergerak!! " ucap kepala serse menodong kan pistolnya


"Bawa" ucap sang komandan,


"Siapa Pemimpin kalian, Jawab!? "


Mereka sepakat Tidak menjawab.


"Bug.. bug.. bug.. " Agus yang geram masih memukuli salah seorang preman karena mereka berubah menjadi bisu


Duloh yang mempunyai ilmu tak terlihat mengendap -endap dan berjalan santai lalu melarikan diri. jadi ilmu yang di miliki ini bukan ilmu menghilang tapi melainkan yang bisa mengalihkan pandangan mata seseorang atau banyak orang, biasanya ilmu ini biasa di pakai oleh pejahat jaman dulu untuk merampok dan menggarong.


"Berapa orang semuanya? " tanya polisi


"Tujuh pak, yang tiga terkapar yang sisanya itu" ucap Agus, Agus kembali menghitung, dan Hasyim baru menyadari jika Duloh tidak ada.


"Sial Tua bangka itu melarikan diri, Cepat cari!!" ucap Hasyim, Polisi berlari ke lantai dua ada juga yang masuk ke gudang ada juga yang ke belakang gudang.


"Lapor komandan kita sudah susuri semua tempat tidak ada" ucap salah satu polisi


"Sial"


dan bawah rimbunan pohon bambu Duloh berdiri sambil terus ne bacaan


"Awas kau, Mati kau di tangan ku" Ucap Duloh


nampak di dari atas Kunto sang Branch menager tampak mondar-mandir karena firasatnya bahwa kejahatannya kali ini bakal terkuak.


dalam hati yang kalut Kunto melihat seseorang berdiri seorang diri di bawah rindang pohon bambu kuning,


"Seperti nya pria itu yang dicari para polisi dan aku harus memanfaatkannya" Kunto menyeringai


Setelah semua di bawa ke kantor polisi Agus dan Satya diminta ikut serta.


Hasyim dan Weldan mengintrogasi Kunto dan Kunto sudah pasrah, Hasyim memberi pilihan mengembalikan uang atau mendekam di penjara dan tentu saja di pecat secara tidak hormat,


Kunto kalut dan pasrah inventaris nya di sita berupa Rumah dan mobil, jadi dia harus pulang jalan kaki.


Para masa bayaran yang di bawa Duloh sudah membubarkan kan diri karena Kapt Weldan menceritakan kejadian bahwa ini tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. mereka di provokasi Duloh bahwa katanya ada salah satu anggota dari mereka mati sama Driver Ar-Rahman.


Dan mereka geram sudah di tipu Duloh dan siap membantu Kapt Weldan dan polisi mencari Duloh.

__ADS_1


...****************...


...Bersambung...


__ADS_2