BLACK CARD "MENDADAK KAYA"

BLACK CARD "MENDADAK KAYA"
masih masa lalu keluarga Rahman


__ADS_3

Author Pov


"Dia ga tau aja keluarga Rahman dari mana?, di tambah keluarga Buchori ayah dari Aminah"


Reader


"Emang daerah mana Thor?"


Author


"Itu loh pedalaman Banten, yang masyarakat nya jika keluar hanya satu tahun sekali untuk mengikuti festival budaya.


Reader


" Oalah Baduy tah!, pantes bahasanya campur - campur Sunda Indonesia! "


"Ceritain dong thor masa lalu keluarga Rahman, katanya ada hal-hal mistis . eh tau gak thor Para Reader suka loh hal-hal horor.


Author


" Siap?!!"


Beberapa tahun Silam saat umur Tuan Muda Gani berumur 7 tahun


Saat pertarungan 4 lawan 2 seharusnya preman itu berjumlah 5 tapi satu orang dari mereka tidak ikut karena berkelahi karena pada saat itu dia sedang menarik paksa uang keamanan ke toko-toko daerah sana.


Di sebuah bangunan tampak Ayah dan anak sedang berbincang. saat itu mereka sedang berkunjung ke salah satu Distribusi Centre (DC)miliknya. karena mereka dapat laporan bahwa DC tersebut selalu terlibat masalah. mulai dari penggelapan dana uang jalan, penggelapan barang dan masih banyak kejahatan yang ada di DC itu.


"Bah, Aceng hari ini antar barang ke daerah utara"


ucap Hasyim kalau itu


(Aceng \= Panggilan kesayangan Anak laki-laki bahasa Sunda)


makanya Abah Rahman dulu sering di panggil Abah Aceng. karena panggilan Hasyim saat itu.


"Kau yakin, akan mengantar dan mendistribusikan sendiri? " Abah Rahman merasa tidak percaya jika Sang anak akan turun langsung dan mampu mengirim barang sewaktu dirinya masih muda.


"Abah kaya tidak kenal Aceng gimana?" ucap Hasyim


"Yasudah sana, Hati-hati jangan ngebut. itu bukan mobil Van/Sedan tapi mobil Box"

__ADS_1


"Siap Bah" Hasyim kemudian pamit ke Sang Ayah dan Hasyim berangkat tidak sendiri melainkan dengan seorang supir Muda yang bertugas mengirim ke wilayah tersebut.


"Tuan biar saya saja yang bawa mobilnya, tuan tinggal duduk saja" ucap Agus


"Sudahlah Gus, kalau kamu yang bawa untuk apa saya kirim barang ini, justru saya ingin merasakan jadi kamu ikut kirim barang" ucap Hasyim sambil melepas Jas dan kemejanya mengganti seragam driver yang dia dapat dari Bagian General Service.


"Gimana Gus, sudah seperti supir - supir truk belom? " ucap Hasyim sambil berkaca


"Belum tuan, tuan terlalu tampan dan rapih" ucap Agus


"Kau jangan menjilat ku Gus, trus gimana biar mirip? "


"Saya tidak menjilat tuan, memang kenyataan seperti itu"


"Hahahaha, kau bener Gus orang ganteng mau diapain juga tetap ganteng" ( tau kan Gani begitu mirip siapa )


"Eleeeh," ucap Agus sambil membuang nafas kasar


"Kau!! " geram Hasyim melihat Agus membuang nafas kasar


"Hehehehe maaf tuan, Rambut Tuan terlalu rapih coba di acak sedikit dan ini tuan Handuk kecil baru milik saya tuan kalungkan di leher" ucap Agus


"Maaf ya tuan" Agus sedikit membantu ikut mengacak rambut pimpinan tertinggi perusahaan nya.


"Hahahahaha, kau benar. Ya sudah Yuk kita berangkat" ucap Hasyim sambil meraih kunci mobil box itu


dan mobil melaju


"Bagaimana tuan bawa mobil ini, nyaman? "


tanya Agus. sebenarnya Agus ingin mengeluh kan tentang kendaraan operasional nya yang sudah tidak enak untuk di bawa ke Hasyim sejak lama tapi dia tidak berani, menurutnya siapa dia berani mengeluh langsung ke pemilik perusahaan. padahal para supir selalu megeluh ke Manager DC bahwa beberapa kendaraan sudah tidak layak. Manager DC hanya menampung keluhan para supir, Manager DC paham bener apa yang di rasakan para supir tapi pemegang kekuasaan di Branch tersebut ada di Tangan (Branch Manager ( BM ) .


menurut BM para supir hanya bisa mengeluh tanpa tau budget Operasional cabang menipis.


padahal Sang BM selalu membuat anggaran perawatan kendaraan dan selalu merealisasikan anggaran tersebut bahkan anggaran tersebut selalu over budget. nah yang bermasalah di cabang tersebut adalah BM nya.


"tidak enak dan nyaman, memang selalu begini?, bukankah Setiap bulannya BM mu selalu membuat anggaran rutin service kendaraan? "


"Maaf tuan, kalau untuk itu saya tidak tahu" ucap Agus menunduk


"Kau jangan menutupi nya Gus, bicaralah ini masukan untuk ku. aku tidak mau ada tikus di perusahaan ku" ucap Hasyim tegas

__ADS_1


lalu Agus menceritakan semua keadaan di ruang lingkup Branch tersebut.


"Kurang Ajar berani si Kunto sialan itu menjadi penyakit di perusahaan ku" Geram Hasyim.


Saat Suasana hati Hasyim sedang buruk akibat cerita Agus ditambah jalan wilayah tersebut macet, double Kill lah Hasyim.


"Tiiiiiiiiiin... tiiiiiiin....tiiiiiiiin ngreeeeng.....ngreeeeeeng "suara dua motor Yamaha RX King


"Sial mau apa mereka" geram Hasyim


"Mereka preman sini tuan, memang tiap kali saya ngirim ke daerah sini mereka selalu berulah" ucap Agus


"Trus biar mereka tidak berulah biasanya kau seperti apa? " tanya Hasyim yang tidak tahu soal diplomasi dan birokrasi di jalan ala supir Truk.


"Biasa saya kasih Uang receh tuan, itu tuan di dashboard ada uang jalan yang biasa di berikan Pak Satya secara pribadi ke pada kami setiap harinya.


"Setiap hari? " Hasyim mengernyit kan keningnya


"Berapa satu mobil Satya memberikan uang jalan? "


antara Rp. 2.000 sampai Rp. 5.000 tuan tergantung Jarak dan wilayah tersebut. ( Uang segitu pada zamannya terlihat besar ya, waktu dolar menyentuh angka Rp. 4.000) . Hasyim mengambil uang lembar 500 bergambar orang utan, dan membuka kaca jendela mobil dengan lebar. mereka tidak Terima diberi uang pecahan orang utan lalu memalangkan motornya di depan mobil Hasyim dan turun dari motor. sambil menunjuk - nunjuk Hasyim.


"Bangsat Turun kau *nj*ng! " ucap salah satu preman berbadan paling besar sambil menunjuk Hasyim dengan stik baseball.


"Astaghfirullah, mau apa mereka "


"Sudah tuan, biar saya yang menghadapi mereka taun tunggu di dalam mobil saja, seperti nya mereka sedang mabuk" Agus turun dari mobil dan berdebat alot,


"Maaf bang, ada apa?, bukankah tadi kami sudah memberi yang biasa kami kasih? "


"Hay kerempeng kalian menghina kami ya?, Memberi kami uang monyet!! kami mau uang Mbah Presiden"


"Lah biasanya kan saya selalu kasih segitu bang, bahkan wilayah ini memang selalu saya beri paling besar daripada saat saya melewati wilayah lain" Agus berdebat


*Sedikit info ya Guys Cerita masa lalu keluarga Rahman ada novel sendiri ya.. tunggu novel Prekuel novel Author ya..


sedikit bocoran Novelnya berjudul


..."AMINAH - MENUALAH BERSAMA KU -"...


...****************...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2