
byuuuur
raya menyiram melia dengan air yang dibawa nya .
melia kaget dirinya basah kuyup melia menatap raya tajam.
"apa apaan kamu" melia melotot ke arah tersangka.
raya yang di tegur oleh melia hanya tersenyum puas dia berhasil membuat melia malu.
anggara yang berada dekat dengan melia langsung menutup tubuh melia dengan jas yang akan dia kenakan.
"dasar janda gatel baru ditalak suami udah mesra mesraan ama berondong lagi " ucap raya sambil tertawa mengejek.
melia mengepalkan tangannya dan hampir saja menampar raya tapi anggara langsung menarik tangan melia ia menggelengkan kepala agar melia lebih sabar.
raya yang melihat hal itu merasa menang.
anggara langsung menarik lengan Melia untuk pergi dari tempat itu menuju warungnya Melia hanya diam saja saat anggara membawa nya bagi nya sudah tak ada air mata yang harus ia keluarkan untuk masalah yang ini.
anggara mendudukkan Melia di bangku dalam lapak nya semua . Melia hanya diam menurut.
"ya allah kenapa jadi begini apa masalah ini tak akan berakhir" bat-,in Melia.
Melia menghela nafas panjang ada rasa sesak dan lelah dihatinya tapi. Melia mengedarkan pandangan ia kaget .
"kok warung dah rapih " Melia berucap heran
"gue mbak yang beresin udah lu duduk aja lagian udah selesai" ucap anggara
saat Melihat Melia termenung anggara langsung membereskan barang barang dagangan Melia lagi pula sudah tak tersisa lagi kue jualan Melia, anggara ingin segera membawa Melia pergi dia pun muak melihat raya ini kali kedua anggara bertemu dengan raya.
Melia memandang anggara ada rasa bersalah di hati nya sering berkata judes padahal anak ini ternyata baik,
"gak usah diliatin mbak nanti naksir loh" seloroh anggara.
"makasih y udah bantuin dari pagi lu jadi telat kan berangkat kerja nya, maaf ya? "
"santai aja mbak hari ini emang gue libur" bohong anggara padahal hari ini ada meeting penting dengan salah satu distributor untuk supermarket yang baru dibuka. untung nya anggara punya asisten sekaligus sahabat yang mengerti dirinya siapa lagi kalo bukan dio.
saat sedang berbincang tiba tiba saja raya sudah berdiri di hadapan Melia namun saat akan mendorong Melia dengan sigap anggara langsung menarik tubuh Melia hingga terbentur pada tubuh anggara.
tak Terima di acuhkan oleh Melia ia langsung berjalan ke arah Melia dia terus memaki Melia.
Melia yang sudah jengah dengan sikap raya akhirnya di buka suara sedikit menggeser tubuhnya kesamping anggara.
__ADS_1
"apa mau mu sebenarnya? bukan kah kau sudah berhasil merebut haidar! lalu apalagi ? " ucap Melia tegas namun tetap terlihat tenang namun sesungguhnya hatinya sakit,. bagaimana pun wanita di hadapannya adalah orang yang telah merusak kebahagiaan dirinya dan anak anaknya.
"bagus berani juga akhirnya lu ngomong" uap raya tak kalah sengit
"apa mau mu "
"jauhi haidar dia suami ku sekarang"
"oh suami mu "
"ya haidar suami ku aku telah menikah dengannya minggu lalu" ucap raya sambil memperlihatkan cincin di jari manisnya berharap Melia akan semakin sakit hati
"kalo kau sudah menikah mana surat nikah nya, kalau cuma cincin nih gue juga punya kali"jawab Melia tak kalah santai diapun memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manis cincin yah di pakai melia terlihat lebih mewah dari milik raya.
Raya yang melihat hal itu justru dirinya nya lah yang tersulut emosi niat hati ingin membuat Melia sakit hati malah kenyataan nya dirinya lah yang sakit, merasa telah di permalukan akhirnya raya memilih untuk pergi dari tempat itu sambil menghentakkan kakinya.
sambil terus berjalan mulut raya tak henti hentinya menggerutu entah apa yang dia ucap kan hanya di yang tau.
"nih cincin lu gue balikin sory "melia menyerahkan cincin itu ke anggara serta melepaskan jas yang tadi dipakaikan oleh anggara untuk menutupi pakaian nya yang basah.
" eh "anggara menatap melia kaget karena dia sendiri pun lupa kalo di kantung jasnya ada cincin yang sebenarnya memang dia persiapkan untuk melia.
" sory gue pinjem tadi gue dah curiga kalo nenek lampir tuh bakalan pamer ya meski gue gak tau apa yang mau dia pamerin"
ucap melia menjelaskan
"mbak lu gak nangis"ucap anggara bingung
" nangis? buat apa"
"ya itu tadi kata perempuannya itu kan dia " anggara menggantung ucapannya takut malah nanti melukai hati Melia
"oh.... ngapain nangis ga ada kamus gue nangis" walau terasa getir tapi melia berusaha tetap tegar jangan sampai ada yang tau rasa sakit hatinya biar lah orang tau dia bahagia walau hanya nampak luar kesedihannya bukan hal yang harus orang lain tau.
"bagus lah" jawab anggara anggara sambil menarik lengan melia
"lepasin tangan lu bocah gue mau balik "
"ikut gue bentar mbak"
" ga mau gue lagian itu barang barang gue- gimana masa ditinggal"
"biarin tar orang gue yang beresin anter kerumah lu" ucap anggara sambil terus menarik Melia ke arah mobilnya
"iya tapi ini mau kemana "
__ADS_1
"nurut aja kenapa mbak gak bakal gue bawa ke neraka" ucap anggara gemas dengan Melia
ingin rasa anggara membungkam bibir mungil Melia dengan bibirnya tapi sayang mana berani untuk saat ini
anggara membuka pintu mobil dan mendorong Melia masuk. dia pun mengitari mobilnya lalu mendudukan diri di kursi kemudi.
"kita mau kemana si" Melia kembali bertanya
"gue cium lu mbak dari tadi cerewet banget"ucap anggara enteng
Melia melotot ke arah anggara menelan saliva berat
" udah biasa aja g usah melotot gitu hahahhah"tawa anggara pecah berhasil membuat Melia kesal
"lu ikut aja gak bakal gue apa apain kok kan belum gue halalin" lanjutnya
Melia memilih diam percuma berbicara dengan bocah ingusan ini pikirnya yang ada akan kesal sendiri, setidaknya untuk beberapa waktu dia bisa menenangkan dirinya sebelum pulang bertemu dengan anak anak nya.
kuda besi yang di naiki anggara dan Melia melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan siang yang lenggang.
selama perjalan anggara dan Melia hanya diam sibuk dengan pikiran nya masing masing
Melia mengeluarkan ponselnya bermaksud untuk menelpon putri kecilnya yang tadi ditinggalkan bersama sang nenek yang sedang berkunjung ke rumah nya dan langsung
dijawab.
"assalamu'alaikum ade ini bunda"
"wa'alaikum salam bunda kapan pulang"
"nenek mana sayang"
"bentar ya bunda " si kecil yang di sebrang sana mencari neneknya yang sedang di dapur
"halo nduk"
"bu aku pulang telat nanti barang dan motor di antar orang kerumah ibu Terima ya"
"lah nduk kamu gak pulang, kamu baik baik aj kan"
"iya bu aku baik baik aja aku ada urusan sebentar "
"hati hati ya nduk "
Melia langsung memutus sambungan telponnya sebelum sang ibu bertambah curiga dengan.
__ADS_1
sementara sang ibu dirumah merasa ada yang aneh pasti terjadi sesuatu. namun ia memilih percaya pada putrinya.
"